Dari Romantisme Aktivis PII ke Pimpinan DPR RI: Membaca Jejak Prof. Sufmi Dasco

Sekretaris Jenderal PB PII, aktivis pelajar dan pengusaha. Memiliki perhatian pada pendidikan, kepemudaan, demokrasi, ekonomi, kewirausahaan, dan kebijakan publik.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Atqiya Fadhil Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, 7 Oktober 2026, Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad genap berusia 59 tahun. Bagi saya, ulang tahun beliau bukan sekadar momentum untuk menyampaikan ucapan selamat, melainkan juga kesempatan untuk membaca kembali sebuah perjalanan panjang: perjalanan seorang pelajar yang pernah mengenal dunia organisasi melalui Pelajar Islam Indonesia (PII), kemudian menapaki dunia akademik, profesi hukum, politik, hingga hari ini dipercaya sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029 sekaligus Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam).
Yang menarik bagi saya justru bukan semata-mata posisi yang berhasil dicapai. Yang menarik adalah bagaimana pengalaman seorang aktivis pelajar pada masa remaja dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup yang begitu panjang.
Dalam sebuah unggahan Instagram pada 15 Januari 2020, Prof. Dasco sendiri mengenang keterlibatannya di PII dengan judul yang sangat personal: “ROMANTISME AKTIFIS PII.” Ia menceritakan bahwa pertama kali bergelut di dunia organisasi adalah ketika menjadi aktivis PII saat duduk sebagai siswa SMA Negeri II Manado pada 1982–1985. Ia menulis bahwa dirinya merasa senang dan bangga pernah beraktivitas, berkumpul, dan berorganisasi di PII bersama kawan-kawan lainnya.
Bagi saya, pilihan kata “romantisme” itu memiliki makna tersendiri. Ia menunjukkan bahwa organisasi pelajar tidak selalu meninggalkan bekas dalam bentuk jabatan atau struktur formal. Kadang-kadang yang justru bertahan puluhan tahun adalah ingatan tentang persahabatan, proses belajar, keberanian untuk tampil, serta pengalaman menemukan ruang untuk tumbuh.
Dan mungkin di situlah salah satu kekuatan PII.
Prof. Dasco lahir di Bandung pada 7 Oktober 1967. Masa pendidikannya membawanya berpindah dari Palembang, Jakarta, hingga Manado. Ia menempuh SMA Negeri II Manado pada 1982–1985. Dalam riwayat organisasinya, ia tercatat sebagai pengurus Pelajar Islam Indonesia sejak 1983. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi Teknik Elektro di Universitas Pancasila dan meraih gelar sarjana pada 1993.
Namun perjalanan intelektualnya tidak berhenti pada bidang teknik.
Pada 2005 ia kembali memasuki dunia pendidikan tinggi dengan mengambil Fakultas Hukum Universitas Jakarta. Setelah itu ia menyelesaikan Magister Hukum di Universitas Islam Jakarta pada 2012 dan Doktor Hukum di Universitas Islam Bandung pada 2015. Dengan demikian, perjalanan akademiknya bergerak dari teknik menuju hukum, dua disiplin yang kemudian bertemu dalam perjalanan profesional dan politiknya.
Sebelum masuk ke parlemen, Dasco juga menjalani dunia profesional sebagai pengusaha dan praktisi hukum. Ia pernah menjadi Direktur PT Randika Dwa Perkasa, Senior Partner di Vendetta Law Firm, serta Direktur Pusat Kajian Sengketa Pemilu. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan kapasitasnya sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke dalam arena politik.
Kemudian datang fase politik.
Ia terlibat dalam proses awal Partai Gerindra dan sejak 2008 tercatat memegang posisi di DPP Partai Gerindra. Pada 2014, ia terpilih menjadi Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Banten III. Di DPR, ia duduk di Komisi III yang membidangi hukum, keamanan, dan HAM, serta kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan.
Lima tahun kemudian, perjalanan itu memasuki babak yang lebih tinggi.
Pada 2019, Prof. Dasco dipercaya Partai Gerindra menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2019–2024. Ia kembali memperoleh kepercayaan masyarakat melalui Pemilu 2024 dan kembali ditetapkan sebagai Wakil Ketua DPR RI untuk periode 2024–2029. Dalam periode kedua tersebut, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam).
Hari ini, dari posisi tersebut, kita dapat melihat Prof. Dasco berada pada salah satu titik penting dalam perjalanan politik nasional. Ia terlibat dalam berbagai agenda strategis DPR, mulai dari isu hukum dan keamanan, legislasi, hingga penyerapan aspirasi masyarakat.
Dalam beberapa kegiatan DPR sepanjang 2026, misalnya, Dasco terlihat menerima dan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa, memimpin koordinasi terkait isu kebijakan nasional, serta terlibat dalam pembahasan mengenai revisi UU Pemilu.
Namun sebagai Sekretaris Jenderal PB PII, saya kira ada satu hal yang jauh lebih penting untuk kita renungkan daripada sekadar daftar jabatan tersebut.
Apa arti perjalanan itu bagi generasi PII hari ini?
Saya tidak berpandangan bahwa keberhasilan Prof. Dasco menjadi Wakil Ketua DPR RI semata-mata merupakan hasil dari pengalaman PII. Perjalanan seseorang tentu dibentuk oleh banyak faktor: pendidikan, pengalaman profesional, lingkungan, perjuangan politik, relasi sosial, kesempatan, dan pilihan-pilihan hidupnya sendiri.
Tetapi saya percaya bahwa pengalaman organisasi pada usia muda bukanlah pengalaman yang sia-sia.
PII mengajarkan seorang pelajar untuk berdiskusi, berargumentasi, memimpin, mengorganisasi, mengambil keputusan, memahami persoalan masyarakat, dan pada saat yang sama menempatkan ilmu serta keislaman sebagai bagian dari pembentukan diri.
Karena itu, ketika seorang alumni PII kemudian berada di ruang-ruang strategis negara, saya melihatnya sebagai pengingat bahwa gerakan pelajar tidak boleh dipandang kecil hanya karena dilakukan ketika seseorang masih muda.
Apa yang dipelajari seorang pelajar hari ini mungkin baru terlihat manfaatnya puluhan tahun kemudian.
Seorang kader yang hari ini belajar memimpin rapat di sekolah mungkin suatu hari memimpin organisasi besar.
Seorang pelajar yang hari ini belajar menyampaikan pendapat di forum mungkin kelak berbicara dalam forum nasional.
Seorang kader yang hari ini membaca persoalan bangsa mungkin kelak memiliki kewenangan untuk ikut menentukan arah kebijakan negara.
Itulah mengapa saya melihat perjalanan Prof. Dasco dari Manado hingga Senayan sebagai salah satu kisah yang patut direnungkan oleh kader PII.
Ada sesuatu yang juga menarik dari unggahan Prof. Dasco pada 2020 tersebut.
Dalam tulisan itu, beliau tidak hanya mengenang masa mudanya di PII. Beliau juga menyampaikan pandangan bahwa PII sebagai organisasi kepemudaan telah lama berdiri dan memiliki kontribusi bagi bangsa melalui kader-kader alumninya. Ia bahkan menyampaikan harapan agar PII tetap kompak dan terus menjadi bagian dari perjalanan generasi unggul Indonesia.
Bagi saya, pernyataan itu penting.
Sebab hubungan antara seorang alumni dengan organisasi kadernya semestinya tidak berhenti ketika masa kepengurusan selesai. Struktur boleh berganti, generasi boleh berganti, tetapi ikatan nilai dan memori perjuangan dapat tetap hidup.
Hari ini kami di PB PII merupakan generasi yang melanjutkan perjalanan tersebut.
Dan kami menyadari bahwa generasi PII hari ini memiliki tantangan yang berbeda dengan generasi Prof. Dasco ketika menjadi aktivis pelajar di Manado pada dekade 1980-an. Dunia berubah. Teknologi berubah. Pola komunikasi berubah. Tantangan kebangsaan juga berubah.
Tetapi satu hal tidak berubah: Indonesia tetap membutuhkan anak-anak muda yang mau belajar, berorganisasi, berpikir kritis, dan mengambil tanggung jawab untuk masa depan bangsa.
Karena itu, di hari ulang tahun beliau yang ke-59 ini, saya tidak hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun.
Saya ingin menyampaikan penghargaan atas sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari pengalaman sebagai pelajar dan aktivis, kemudian berkembang melalui pendidikan, dunia profesional, pengabdian politik, hingga menjadi bagian dari pimpinan lembaga legislatif negara.
Dari sudut pandang saya sebagai Sekretaris Jenderal PB PII, perjalanan tersebut memberikan satu pesan sederhana kepada kami yang masih berada dalam proses kaderisasi:
Jangan pernah meremehkan masa muda.
Sebab mungkin apa yang kita lakukan hari ini sebagai pelajar belum terlihat hasilnya.
Mungkin sebuah diskusi kecil belum terasa pengaruhnya.
Mungkin sebuah forum kaderisasi terasa sederhana.
Mungkin sebuah perjuangan organisasi bahkan tidak langsung mendapatkan penghargaan.
Tetapi waktu akan menunjukkan bahwa proses memiliki cara sendiri untuk bekerja.
Dan seorang kader tidak pernah benar-benar tahu akan menjadi apa dirinya dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh tahun kemudian.
Yang dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika kesempatan itu datang, kita telah mempersiapkan diri.
Selamat ulang tahun ke-59, Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad.
Dari seorang pelajar dan aktivis PII di Manado, perjalanan panjang telah membawa Prof. Dasco ke dunia hukum, akademik, politik, hingga menjadi Wakil Ketua DPR RI
Semoga usia yang bertambah menjadi bertambah pula kebijaksanaan, keteguhan, dan pengabdian untuk bangsa dan negara.
Dan bagi kami, generasi PII hari ini, kisah perjalanan itu menjadi pengingat bahwa kaderisasi bukan sekadar menyiapkan pemimpin untuk hari ini, tetapi menyiapkan manusia yang siap mengambil tanggung jawab bagi Indonesia pada masa yang akan datang.
Jaya selalu Pelajar Islam Indonesia.
Tandang ke Gelanggang Walau Seorang.
