Sastra Suci Bugis yang Mengagumkan, Lebih Panjang dari Mahabharata

Awatarino Rahman
Founder Sandhyakala
Konten dari Pengguna
31 Januari 2024 5:47 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Awatarino Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi buku. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Dari Sulawesi Selatan, Indonesia, muncul keajaiban sastra yang langka: La Galigo, epik mitos Bugis tertulis dalam bahasa Bugis kuno dan aksara Lontara Bugis kuno dan dianggap sebagai kitab suci yang sakral oleh masyarakat Luwu masa lampau. Tak hanya sebagai kisah asal usul manusia, La Galigo juga berperan sebagai almanak sehari-hari. Meskipun tak memiliki versi pasti, potongan yang diawetkan mencapai 6.000 halaman atau 300.000 baris, menjadikannya sebagai karya sastra terbesar di dunia.
ADVERTISEMENT
Meski melebihi panjang epik India Mahabarata dan Ramayana, sayangnya, La Galigo masih terlalu terpinggirkan, bahkan oleh masyarakat kita sendiri. Mari simak lebih dalam artikel ini untuk menggali kekayaan sastra Nusantara yang memukau.

Sejarah dan Kehadiran Sastra La Galigo

Epos La Galigo, atau yang juga dikenal sebagai Sureq Galigo, diyakini berasal dari abad ke-14 atau ke-15. Salah satu kontributor utama dalam penulisan La Galigo adalah Colliq Pujié, seorang pujangga Bugis-Makassar dan putri dari La Rumpang, Raja Kerajaan Tanete pada abad ke-19.
Asal-usul La Galigo terkait erat dengan tradisi lisan masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, Indonesia. Cerita-cerita awalnya disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, diceritakan oleh pujangga atau tokoh yang mahir dalam seni bertutur kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT
Tradisi lisan ini menjadi metode utama untuk menyimpan dan menyampaikan pengetahuan, sejarah, dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat Bugis-Makassar. Seiring berjalannya waktu, kisah-kisah La Galigo dituliskan, melibatkan kontribusi dari berbagai pujangga dan individu dalam komunitas. Hal ini membuat La Galigo menjadi hasil kolaborasi yang melibatkan banyak orang.

Isi La Galigo

Epos La Galigo berisi cerita yang berlatar belakang kerajaan Luwu pada abad ke-15. Fokus utamanya terletak pada Sawerigading, seorang pahlawan pemberani. Dalam Epos ini diceritakan mengenai turunnya dan asal-usul Manusia Pertama, La Togeq Langiq atau Batara Guru, putra penguasa langit Patotoqe. Inti dari kitab suci ini adalah pesan untuk "tenangkan hatimu," mencerminkan perjalanan dan kebijaksanaan manusia secara mendalam.
La Galigo bukan sebuah catatan sejarah, melainkan penuh dengan mitos dan peristiwa luar biasa. Melalui perbandingan dengan hasil ekskavasi arkeologis, laporan historis, dan perbandingan perlengkapan berhias, La Galigo menjadi cerminan kuat dari kebudayaan Bugis pada abad ke-19. Isinya mencerminkan ciri-ciri penulisan pada abad berikutnya, seperti penggunaan istilah Peringgi (Frank atau orang Eropa), yang merujuk kepada orang Portugis dalam bahasa Bugis.
ADVERTISEMENT

Naskah Asli La Galigo

Sebagian besar naskah I La Galigo berada di perpustakaan Eropa, terutama di perpustakaan Universitas Leiden. Selain itu, ada koleksi sekitar 600 halaman di perpustakaan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, yang, jika digabungkan dengan koleksi Eropa sekitar 5.400 halaman, mencapai total sekitar 6.000 halaman. Sejumlah naskah masih berada di tangan orang-orang di Sulawesi Selatan.
Versi bahasa Bugis asli La Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. Saat ini, La Galigo hanya dapat diakses dalam versi bahasa Bugis aslinya, dan hanya sebagian kecil yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tidak ada versi lengkap yang tersedia dalam bahasa Inggris.

La Galigo di Dunia Modern

La Galigo mencuri perhatian dunia setelah disutradarai oleh Robert Wilson dalam panggung teater internasional. Tahun 2004, teater ini memukau penonton di Singapura dan sejumlah kota Eropa seperti Amsterdam, Barcelona, Madrid, dan Lyon. Melintasi Samudra Atlantik, La Galigo mendarat di New York. Pada 2006, pertunjukan kembali ke Indonesia dengan tampil di Jakarta, kemudian kembali ke kota asalnya, Makassar, pada 2011. La Galigo juga pernah dihadirkan oleh Ciputra Artpreneur bekerjasama dengan Yayasan Bali Purnati dan Didukung Bakti Budaya Djarum Foundation di teater Ciputra Artpreneur 2019.
ADVERTISEMENT
La Galigo juga diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada tahun 2011. Memory of the World adalah program UNESCO yang bertujuan untuk melestarikan dan mengakui dokumen bersejarah yang memiliki nilai universal dan penting bagi umat manusia. Penetapan La Galigo sebagai Memory of the World menandakan penghargaan atas kekayaan budaya dan sejarah yang terkandung dalam epik tersebut.
Dengan demikian, itulah beberapa penjelasan mengenai La Galigo, sebuah karya sastra terbesar di dunia. Harapannya, epik ini dapat dikenal dan dihargai oleh seluruh masyarakat Indonesia, dan semoga artikel ini membuka mata kita terhadap keindahan sastra dan warisan luhur yang dimiliki Indonesia.