Konten dari Pengguna

Solaris Economy: Masa Depan Indonesia 10 Tahun dari Sekarang

Viona Joycelyn

Viona Joycelyn

Mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Viona Joycelyn tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis: Viona Joycelyn, Mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya. (Foto: Doc. Ist)
zoom-in-whitePerbesar
Penulis: Viona Joycelyn, Mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya. (Foto: Doc. Ist)

Indonesia Hari Ini: Kaya Energi, Tapi Belum Dimanfaatkan

Indonesia sebenarnya bukan kekurangan energi, justru sebaliknya, ia memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya diubah menjadi kekuatan ekonomi.

Potensi energi surya Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 207,8 GW, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Namun pemanfaatannya masih sangat kecil. Hingga akhir 2025, kapasitas rooftop solar nasional baru sekitar 600 MWp, jauh dari target 1.000 MWp.

Di sisi lain, bauran energi terbarukan Indonesia baru mencapai sekitar 15,75%, belum memenuhi target nasional 23%. Artinya, ekonomi Indonesia hari ini masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama batu bara.

Kontras ini menunjukkan satu hal: Indonesia belum kekurangan teknologi atau sumber daya, tetapi masih tertahan di level implementasi.

Revolusi Solar Global: Dunia Sudah Berubah

Sementara Indonesia masih berkembang dalam adopsi energi surya, dunia bergerak jauh lebih cepat.

Pada 2025, energi terbarukan secara global telah melampaui batu bara sebagai sumber listrik utama. Energi surya menjadi motor utama pertumbuhan, menyumbang sekitar 75% peningkatan permintaan listrik global. Produksi listrik tenaga surya juga meningkat hampir sepertiga hanya dalam satu tahun.

Perubahan ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal ekonomi. Energi surya kini menjadi salah satu sumber energi paling murah, didorong oleh penurunan biaya teknologi dan baterai secara signifikan.

Artinya, dunia sedang bergerak menuju sistem ekonomi baru yang ditopang oleh energi yang tersedia setiap hari, hampir tanpa batas.

Solaris Economy: Pergeseran dari Ekstraksi ke Akses Energi

Konsep Solaris Economy muncul sebagai refleksi dari perubahan tersebut.

Jika ekonomi lama berbasis ekstraksi dengan menggali minyak, batu bara, dan gas, maka Solaris Economy berbasis akses, yaitu bagaimana memanen energi matahari secara efisien dan mendistribusikannya.

Dalam model ini, rumah tidak lagi hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga produsen energi. Industri beroperasi dengan energi bersih yang lebih stabil. Kota dirancang sebagai ekosistem energi yang terdesentralisasi.

Ekonomi tidak lagi bergantung pada sumber daya yang akan habis, tetapi pada aliran energi yang terus tersedia.

Sepuluh Tahun ke Depan: Skenario Indonesia 2035

Jika Indonesia mampu mempercepat adopsi energi surya, perubahan dalam satu dekade bisa sangat signifikan.

Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan hingga 42,6 GW pada 2034, dengan energi surya sebagai kontributor utama sekitar 17,1 GW.

Dari sisi pasar, sektor energi surya Indonesia diproyeksikan tumbuh pesat, dari sekitar 598,9 GWh pada 2025 menjadi 1.711,6 GWh pada 2034, dengan pertumbuhan tahunan lebih dari 12%.

Dalam berbagai skenario transisi energi, kontribusi energi terbarukan dapat mencapai sekitar 19 hingga 23 persen pada 2030 dan terus meningkat hingga sekitar 70 persen pada 2060.

Jika momentum ini terjaga, maka pada 2035 Indonesia dapat memasuki fase awal Solaris Economy, di mana kawasan industri mulai berbasis solar dan penyimpanan energi, rumah tangga menjadi unit energi mandiri, serta pertumbuhan ekonomi tidak lagi sejalan dengan peningkatan emisi.

Dampak Ekonomi: Lebih dari Sekadar Energi

Perubahan ini tidak hanya mengubah sektor energi, tetapi juga struktur ekonomi secara keseluruhan.

Energi yang lebih terdistribusi memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen. Biaya energi yang lebih rendah membantu menekan biaya produksi industri dan meningkatkan daya saing ekspor.

Di saat yang sama, akan muncul industri baru seperti manufaktur panel surya, baterai, hingga sistem manajemen energi berbasis teknologi. Ketahanan energi nasional juga meningkat karena ketergantungan pada impor energi fosil berkurang.

Tantangan Nyata: Bukan Teknologi, Tapi Sistem

Meski potensinya besar, hambatan utama Indonesia bukan pada teknologi, melainkan pada sistem yang belum sepenuhnya siap.

Regulasi masih berkembang, infrastruktur jaringan listrik belum merata, serta insentif ekonomi belum cukup kuat untuk mendorong percepatan adopsi. Selain itu, dominasi energi fosil masih menjadi faktor besar dalam sistem energi nasional.

Tanpa perubahan struktural, Solaris Economy berisiko hanya menjadi konsep, bukan realitas.

Kesimpulan: Dari Negara Kaya Sumber Daya ke Negara Kaya Energi

Indonesia selama ini dikenal sebagai negara kaya sumber daya. Namun dalam Solaris Economy, definisi tersebut mulai berubah.

Kekayaan tidak lagi ditentukan oleh apa yang tersimpan di dalam bumi, tetapi oleh bagaimana memanfaatkan energi yang tersedia setiap hari dari matahari.

Dalam sepuluh tahun ke depan, pertanyaannya bukan apakah Indonesia memiliki potensi, tetapi apakah Indonesia siap mengubah cahaya menjadi kekuatan ekonomi nyata.

Opini ditulis oleh Viona Joycelyn, Mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya