Konten dari Pengguna

Selingkuh di Era Digital: Tren Baru atau Krisis Komitmen?

attiya niama maulaya

attiya niama maulaya

Mahasiswa pendidikan sosiologi UNJ

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari attiya niama maulaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang rasanya semakin sering kita temui di media sosial, perselingkuhan. Cerita tentang pasangan yang diam-diam punya orang lain, chat dengan teman dekat lawan jenis di belakang pasangan, hubungan “tanpa status” yang ternyata sudah berjalan lama, sampai perselingkuhan yang terbongkar karena sebuah unggahan atau pesan yang salah kirim. Hampir setiap saat selalu ada cerita baru.

Perselingkuhan sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, ketidaksetiaan dalam hubungan sudah menjadi persoalan sosial. Namun, zaman sekarang membuat perselingkuhan terlihat jauh lebih dekat dengan kehidupan kita. Media sosial membuat seseorang bisa bertemu, berkomunikasi, bahkan membangun kedekatan emosional dengan orang lain hanya melalui layar. Batas antara “sekedar berteman” dan “sudah selingkuh” pun semakin abu-abu.

Sebagai seseorang yang cukup sering mengamati perilaku orang yang suka selingkuh, saya melihat ada pola yang menarik. Orang yang selingkuh tidak selalu terlihat seperti orang yang “jahat”. Bahkan, banyak dari mereka justru terlihat biasa saja. Mereka bisa menjadi pasangan yang romantis, teman yang menyenangkan, mahasiswa yang aktif, pekerja yang bertanggung jawab, atau orang tua yang terlihat baik. Tetapi di balik itu, ada keputusan-keputusan kecil yang terus mereka sembunyikan.

Biasanya, perselingkuhan tidak langsung dimulai dari hubungan fisik. Kadang semuanya berawal dari percakapan sederhana. “Cuma teman kok.” “Cuma sering chat.” “Cuma curhat.” Lama-lama muncul rasa nyaman, perhatian, rasa penasaran, kemudian muncul sesuatu yang sengaja disembunyikan dari pasangan. Pada titik tertentu, seseorang sebenarnya sudah tahu bahwa perilakunya melewati batas, tetapi tetap dilakukan.

Di sinilah persoalan psikologis menjadi poin penting. Perselingkuhan tidak hanya berkaitan dengan kesempatan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang mengelola kebutuhan emosional, dorongan, komitmen, dan batas dirinya. Penelitian terhadap dewasa muda di Indonesia menunjukkan bahwa kecenderungan attachment yang tidak aman serta rendahnya komitmen berkaitan dengan meningkatnya risiko keterlibatan romantis di luar hubungan melalui ruang digital.

Artinya, tidak tepat jika setiap kasus perselingkuhan hanya dijelaskan dengan kalimat, “Dia memang tidak cinta.” Ada orang yang selingkuh karena membutuhkan validasi, ingin merasa diinginkan, mencari perhatian baru, tidak mampu mengendalikan dorongan, atau tidak mampu menyelesaikan masalah dalam hubungan secara sehat. Faktor seperti stres, konflik, ketidakpuasan, rendahnya komitmen, dan persoalan kepercayaan diri juga dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Namun, memahami penyebab bukan berarti membenarkan perselingkuhan.

Ini bagian yang menurut saya sering terlupakan. Kita boleh memahami mengapa seseorang melakukan sesuatu, tetapi tetap harus mengakui bahwa ia bertanggung jawab atas pilihannya. Hubungan yang sedang bermasalah bukan alasan untuk memiliki hubungan lain secara diam-diam. Kalau memang sudah tidak nyaman, ada komunikasi yang bisa dilakukan. Kalau sudah tidak ingin melanjutkan hubungan, ada keputusan untuk mengakhiri. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang memilih mempertahankan pasangannya sambil diam-diam mencari orang lain.

Ilustrasi pasangan yang tengah menghadapi persoalan kepercayaan di tengah maraknya penggunaan media sosial dalam hubungan.

Lalu, apakah selingkuh sudah menjadi tren?

Kalau yang dimaksud tren adalah semua orang sekarang lebih banyak selingkuh daripada zaman dulu, kita tidak bisa langsung menyimpulkan demikian. Belum ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa perselingkuhan telah menjadi “gaya hidup” mayoritas masyarakat. Tetapi kalau yang dimaksud adalah perselingkuhan semakin sering muncul dalam percakapan publik, semakin mudah terjadi melalui teknologi, dan semakin mudah menjadi konsumsi media sosial, jawabannya mungkin iya.

Ruang digital membuat peluang tersebut semakin besar. Penelitian tentang online infidelity di Indonesia menunjukkan bahwa perkembangan media sosial meningkatkan kemungkinan terjadinya keterlibatan romantis di luar pasangan. Bahkan, hubungan yang awalnya hanya terjadi secara daring dapat berkembang menjadi keterikatan emosional yang nyata.

Masalahnya kemudian bukan hanya tentang pasangan yang selingkuh, tetapi juga tentang perubahan cara masyarakat memandang hubungan. Di media sosial, perselingkuhan bahkan dapat berubah menjadi konten. Kisah perebut pasangan orang, chat pasangan yang bocor, atau video seseorang yang ketahuan selingkuh dapat ditonton ribuan hingga jutaan kali. Penelitian terhadap percakapan TikTok mengenai perselingkuhan di Indonesia juga menemukan adanya bias gender dalam cara masyarakat memberikan label kepada pelaku.

Di sini pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan seseorang bagaimana mendapatkan nilai tinggi, mendapatkan pekerjaan, atau menjadi orang sukses secara akademik. Pendidikan juga perlu membentuk kemampuan seseorang dalam memahami dirinya, mengelola emosi, menghargai orang lain, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Pendidikan tentang relasi yang sehat juga penting diberikan sejak remaja. Anak muda perlu memahami bahwa hubungan bukan hanya soal “punya pacar”, tetapi juga tentang komunikasi, kepercayaan, batasan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap pasangan. Mereka perlu belajar bahwa rasa suka kepada orang lain bisa saja muncul ketika sedang berada dalam sebuah hubungan, tetapi yang menentukan karakter seseorang adalah bagaimana ia merespons rasa tersebut.

Dalam konteks pendidikan sosiologi, perselingkuhan juga menarik untuk dilihat sebagai fenomena sosial. Perilaku seseorang tidak berdiri sendiri. Ada norma, nilai, lingkungan pergaulan, teknologi, budaya populer, dan perubahan pola interaksi yang ikut memengaruhinya. Ketika media sosial membuat interaksi dengan orang baru semakin mudah, masyarakat juga perlu membangun kembali batas-batas mengenai apa yang dianggap wajar dan apa yang sudah termasuk pengkhianatan dalam hubungan.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mengapa orang sekarang suka selingkuh?”, tetapi “Mengapa kita semakin mudah menemukan, melakukan, dan menyaksikan perselingkuhan?”

Selingkuh bukan sekadar persoalan adanya orang ketiga. Di baliknya ada persoalan komitmen, pengendalian diri, kematangan emosional, pendidikan karakter, dan perubahan pola hubungan di era digital. Perselingkuhan mungkin bukan sebuah tren dalam arti semua orang mengikutinya. Namun, cara perselingkuhan muncul dan menyebar di masyarakat memang sudah berubah.

Karena itu, di tengah zaman ketika mencari orang baru hanya membutuhkan satu aplikasi dan satu pesan, kemampuan untuk setia justru semakin membutuhkan kesadaran. Bukan karena tidak ada kesempatan untuk selingkuh, tetapi karena seseorang memilih untuk tidak melakukannya.