Konten dari Pengguna

Simbolisme Pernikahan Adat Jawa Sebagai Ritual

Audi Alya Zuhry

Audi Alya Zuhry

Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2021 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Audi Alya Zuhry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Pernikahan Jawa adalah upacara yang penting secara budaya dan kaya akan simbol. Ada beberapa upacara yang menyampaikan makna mendalam, baik secara harfiah maupun simbolis, dalam pernikahan tradisional Jawa. Teori semiotika Roland Barthes dan Benny Hoed dapat digunakan untuk mengkaji makna dari ritual-ritual seperti injak telur, jual beli cendol, siraman, dan lain sebagainya untuk menyelami simbol-simbol budaya yang dibawanya. Semiotik menurut Barthes, yaitu memaknai bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem tersetruktur dari tanda. Sedangkan menurut Hoed, semiotik adalah ilmu yang berfokus pada bagaimana tanda berfungsi dalam budaya dan masyarakat, serta bagaimana makna dibangun melalui penggunaan tanda-tanda dalam komunikasi.

Teori Simbol dan Makna Roland Barthes

1. Menginjak Telur dalam Pernikahan Adat Jawa

  • Denotasi: Hal ini mengacu pada arak-arakan pengantin pria setelah upacara siraman, yang secara harfiah melibatkan menginjak telur sebagai benda fisik yang bisa digunakan. Sebuah telur diletakkan di atas tanah dan pengantin pria diminta untuk menginjaknya. Biasanya diletakkan di atas alas, telur ini dianggap melambangkan keberuntungan dan keharmonisan rumah tangga jika pecah.

  • Konotasi: Karena telur berkaitan erat dengan kelahiran dan kematian, maka telur berkontribusi pada kesuburan dan kelanjutan kehidupan. Dalam konteks pernikahan, telur ini menandakan bahwa kemajuan atau kelahiran akan terjadi dan keluarga yang baru dibangun akan berhasil disatukan. Disebutkan bahwa pecahnya telur menandakan kehidupan yang kaya dan bebas dari masalah yang dihadapi oleh pasangan. Dengan cara ini, telur meningkatkan kemampuan untuk menciptakan cara hidup yang baru melalui perkawinan.

2. Menjual Cendol dalam Pernikahan Adat Jawa

  • Denotasi: Jualan cendol adalah sebuah kebiasaan di mana pengantin pria menyajikan cendol dan makanan tradisional lainnya kepada para tamu. Setelah pernikahan, pengantin pria dan keluarganya biasanya mengunjungi keluarga pengantin wanita sebagai bagian dari prosesi “nyesep” atau “ngunduh mantu”.

  • Konotasi: Dalam budaya Jawa, cendol adalah makanan tradisional yang memiliki makna simbolis. Secara denotatif, cendol hanyalah kudapan berwarna hijau yang terbuat dari tepung manis. Di sisi lain, cendol dapat diartikan sebagai tanda perkenalan dan kekerabatan antara dua keluarga dalam sebuah ikatan pernikahan. Cendol yang menyenangkan dan menyegarkan ini dapat dilihat sebagai tanda optimisme akan kepuasan dan keharmonisan dalam kemitraan yang baru saja terbentuk. Nilai sosial yang tercermin dalam cendol adalah, sebagai cara untuk membantu dan berkontribusi dalam proses pernikahan, keluarga mempelai pria berusaha untuk memperlakukan keluarga mempelai wanita dengan hormat dengan menyediakan makanan.

3. Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa

  • Denotasi: Dengan menggunakan air yang telah didoakan, kedua mempelai melaksanakan ritual pembersihan diri yang dikenal sebagai siraman pada pernikahan Jawa. Biasanya, upacara ini dilakukan sehari sebelum pernikahan. Siraman dipercaya dapat membersihkan kedua mempelai dari segala hal negatif dan memberikan manfaat bagi mereka dalam pernikahan.

  • Konotasi: Dalam siraman, air melambangkan pembersihan dan penyucian. Dalam budaya Jawa, air merupakan simbol yang sangat kuat karena air dipercaya dapat membersihkan seseorang dari segala kotoran dan menghapus dosa. Upacara siraman melambangkan pemurnian dari masa lalu dan kesiapan untuk memulai fase baru kehidupan bersama dalam kerangka pernikahan. Hal ini juga dapat diartikan sebagai tanda kepolosan dalam pernikahan yang akan datang, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akan memiliki kehidupan yang penuh berkah dan bebas dari masalah.

Teori Simbol dan Makna Benny Hoed

1. Menginjak Telur dalam Pernikahan Adat Jawa

Hoed berfokus pada bagaimana simbol ini mengungkapkan ide tentang peran gender dan peran sosial. Dalam masyarakat Jawa, pengantin pria biasanya yang pertama menginjak telur, yang bisa dilihat sebagai simbol dari kekuatan dan kewibawaan laki-laki dalam memulai perjalanan pernikahan. Bagi perempuan, telur yang diinjak berarti ketahanan dan kesabaran dalam menghadapi kehidupan rumah tangga yang penuh tantangan.

2. Menjual Cendol dalam Pernikahan Adat Jawa

Hoed dapat memandang tradisi ini sebagai manifestasi dari sistem sosial dalam budaya Jawa. Jualan cendol dalam konteks ini bukan hanya tentang membagikan makanan, tetapi tentang mempererat hubungan sosial antara keluarga pengantin dan masyarakat. Hal ini mengingatkan pada konsep prihatin dalam budaya Jawa, di mana kebersamaan dan kerjasama sangat dihargai dalam kehidupan sehari-hari.

3. Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa

Hoed memperkenalkan konsep bahwa budaya Jawa sering memiliki struktur yang mendalam dan memiliki makna sosial yang kompleks. Siraman bukan hanya sekedar tindakan pembersihan, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap leluhur. Siraman adalah ritual untuk menghormati yang lebih tua, seperti orang tua pengantin, yang berperan dalam menjaga hubungan sosial antar generasi.

Melalui pendekatan semiotika Benny Hoed dan Roland Barthes, terlihat jelas bahwa simbolisme pernikahan adat Jawa memiliki makna yang mendalam. Setiap adat pernikahan, termasuk siraman, injak telur, dan jualan cendol, menyampaikan pesan tentang hubungan sosial, keberkahan, kesiapan, dan pembersihan. Studi semiotika ini membantu kita untuk lebih memahami bahwa pernikahan Jawa adalah proses transisi dengan unsur-unsur spiritual, sosial, dan budaya yang saling terkait, bukan hanya seremonial.