Lara Hati yang Terdalam

Mahasiwa Penerbitan Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta
Tulisan dari Zahira Audia Adjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sudut ruang kamar berukuran tiga kali empat dengan cahaya temaram, tampak gadis remaja duduk menghadap jendela. Raut wajah murung dan tatapannya kosong menerawang jauh ke depan.
Derasnya hujan disertai angin kencang dan sesekali kilatan cahaya menyambar pepohonan menambah pilu yang menggores hati. Gadis remaja itu bernama Sharla. Tak pernah terbayangkan di hati Sharla sebelumnya, ia akan menjadi satu-satunya anak dalam keluarga. Garis takdir Tuhan yang harus membuatnya berpisah dengan kakak laki-lakinya, Fakhri.
Kehilangan Fakhri tepat pada hari ulang tahun Sharla sungguh meninggalkan duka yang mendalam. Hati Sharla hancur berkeping-keping dan nelangsa setengah mati. Lutut terasa lemas dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung yang tidak biasa. Suara sirene ambulans meraung-raung membawa jenazah, memekakkan gendang telinga. Dengan cepat Sharla menutup kedua telinga. Ia berteriak, namun tidak keluar suara.
Setelah kepergian Fakhri, Sharla harus menjalani hidupnya sebagai anak tunggal. Selama ini Fakhri selalu menjadi tumpuan ketidakmampuannya harus pergi selamanya. Bantuan-bantuan kecil yang diperlihatkan Fakhri sangat membekas di hati Sharla. Ketergantungan inilah yang membuat Sharla selalu ragu-ragu untuk mencoba hal baru.
Ayah dan Ibu masih sangat terpukul. Melihat kedua orang tuanya tidak baik-baik saja sangat menguras emosi Sharla. Harapan Sharla terasa gelap dan sirna. Apalagi sekarang Sharla menjadi tumpuan orang tuanya. Sharla harus melakukan perubahan terhadap segala rencana dan pemikiran yang sudah ia rancang sebelumnya. Keadaan mengharuskan ia bergerak cepat demi kebahagiaan Ayah dan Ibunya.
Di tengah perjalanan Sharla memikul tanggung jawab yang besar, terbesit rasa ketidakpercayaan apakah ia mampu untuk menjalani semua ini? Kedua orang tuanya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap Sharla. Keinginannya selalu ia kesampingkan, waktu luang bersama teman-teman tidak bisa dirasakan Sharla. Masa remaja yang harus dilalui terkikis habis untuk mengurus keluarga.
Kekhawatiran Ayah dan Ibu yang sangat berlebihan menyiksa Sharla. Hari-harinya dipenuhi dengan berbagai tuntutan dan pertanyaan yang tak terkira. Kecemasan mereka akan kehilangan Sharla benar-benar mengubah dan membelenggu kepribadiannya. Keadaan ini mengakibatkan banyak teman menjauhi Sharla. Ketidaksanggupan Sharla mengurai masalah yang datang bertubi-tubi, membuat orang tuanya kalang kabut.
Ayah dan Ibu memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang ahli. Dengan kondisi mental yang tidak stabil, ia perlu dirujuk ke psikiater untuk mengatasi masalahnya. Menurut hasil konseling Sharla mengalami depresi berat. Pemicunya adalah kehilangan motivasi dan merasa hampa. Setelah ditangani psikiater, lambat laun Sharla bisa keluar dari jurang depresi.
Sejak kejadian itu orang tuanya sadar dan segera meminta maaf kepada Sharla. Ia menyambut ketulusan hati orang tuanya dengan berlinang air mata. Ayah dan Ibu mengikhlaskan untuk memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada Sharla. Kasih sayang yang tidak menuntut, memaksa, apalagi mengikat sangat dibutuhkan Sharla. Sehingga membuatnya tidak lagi merasa sendirian.
(Zahira Audia Adjani/Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
