Konten dari Pengguna

Berkawan Sekebun, Galeri Kecil Penuh Warna dan Cerita

Audiba Harisa

Audiba Harisa

Mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Audiba Harisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toko Berkawan Sekebun (Foto: Audiba Harisa)
zoom-in-whitePerbesar
Toko Berkawan Sekebun (Foto: Audiba Harisa)

Di tengah lorong sempit dan ramai Pasar Cihapit, Bandung, berdiri sebuah toko mungil yang terlihat kontras dengan deretan kios lainnya. Lampu yang begitu terang dan deretan pajangan antik yang tersusun rapi begitu menarik minat untuk mampir dan melihat-lihat. Bukan toko sembako, bukan pula toko makanan seperti deretan toko yang tersebar di pasar legendaris itu. Di sudut atas toko, tertempel dengan kokoh sebuah lampu bertuliskan “Berkawan Sekebun”, dengan etalase sederhana dan deretan zine warna-warni yang ditata rapi, toko ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar barang dagangan, ia menawarkan ruang bagi siapapun yang ingin bercerita dan menyelam cerita.

Dinda, pemilik Berkawan Sekebun, menjelaskan bahwa toko ini lahir dari keinginan sederhana, ingin punya ruang untuk bertemu dan terkoneksi dengan kawan-kawan.

“Awalnya karena kami memang suka ngobrol, suka cerita, suka baca, dan suka berkarya lewat zine. Lalu terpikir, kenapa enggak bikin tempat sendiri aja, yang bisa jadi wadah buat semua itu,” ungkap Dinda.

Nama “Berkawan Sekebun” sendiri bukan sekadar nama estetis, tetapi terdapat filosofi kuat yang terkandung dalam arti. Terinspirasi dari judul lagu Bersemi Sekebun karya Efek Rumah Kaca, nama ini kemudian lahir dengan tujuan menciptakan ruang untuk merangkul banyak teman dalam satu tempat, layaknya kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman.

“Kami percaya setiap orang itu unik, dan masing-masing bisa tumbuh bersama asal ada tanah yang subur. Nah, toko ini kami ibaratkan kebunnya. Tempat tumbuhnya kawan-kawan,” kata Dinda.

Zine menjadi bagian utama dari “tanaman” yang tumbuh di toko ini. Mereka memilih fokus pada zine bukan tanpa alasan.

“Zine itu media yang paling bebas, siapa aja bisa bikin, mau isinya keresahan, humor, gambar, cerita anak, atau puisi absurd pun enggak masalah,” ujar Taos, pengelola Berkawan Sekebun yang kehadirannya turut memberikan kehangatan pada toko ini.

Bagi Taos dan Dinda, zine adalah bentuk komunikasi paling jujur dan ekspresif, tidak perlu keterampilan desain yang canggih atau penulisan yang terstruktur, yang penting, ada yang ingin disampaikan.

Produk zine (Foto: Audiba Harisa)

Di toko kecil yang penuh warna ini, zine dari berbagai pembuat lokal dititipkan dan dipajang berdampingan, tidak ada batasan siapa yang boleh menitipkan. Bahkan, anak-anak pemilik kios lain senang bermain dan diajarkan untuk membuat zine karya sendiri.

“Kami sering bikin workshop bareng anak-anak sini. Mereka gambar, nulis cerita mereka sendiri, lalu kami bantu cetak dan jualkan. Hasil jualannya nanti juga akan diberikan ke mereka,” ungkap Taos sambil menunjukkan zine hasil karya anak-anak sekitar.

Memberikan wadah bagi anak-anak sekitar untuk berkarya bukan sekadar mengajarkan tentang hasil penjualan yang didapat, tetapi tantang memberi rasa percaya diri.

“Anak-anak itu kadang enggak nyangka kalau karyanya bisa laku. Ada yang langsung pengen bikin edisi kedua karena ngerasa bangga,” Ujar Taos.

Zine karya anak-anak sekitar (Foto: Audiba Harisa)

Selain zine, toko ini juga menjual pernak-pernik seperti cincin, pin, stiker, kartu pos, gantungan kunci, dan jasa menggambar wajah diri ala Berkawan Sekebun. Kebanyakan produk tersebut merupakan hasil karya para seniman yang menitipkan karya mereka disana. Prinsip mereka sederhana, selama pembuatannya jujur dan punya cerita, mereka dengan senang hati akan membantu menjualkannya. Menurut Taos, masuk ke dalam toko Berkawan Sekebun sama saja seperti memasuki art gallery, tetapi versi light, pengunjung bisa melihat deretan karya berharga dari para seniman, sekaligus menghargai karya-karya tersebut.

Lebih dari sekadar tempat jual beli, Berkawan Sekebun menghidupkan kembali komunitas kecil yang akrab dan penuh cerita. Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk membeli, tapi untuk duduk dan berbincang.

“Kadang ada yang datang cuma numpang duduk, curhat, atau baca zine. Itu enggak masalah buat kami, justru itu yang bikin kami semangat terus buka toko,” kata Dinda.

Meski lokasi mereka tersembunyi dan tidak semua orang langsung tahu keberadaan toko ini, Dinda tidak mempermasalahkannya.

“Kami percaya, yang memang butuh dan tertarik pasti akan menemukan tempat ini, dan ketika mereka datang, biasanya ketertarikan mereka kuat, ada koneksi batin,” ungkap Dinda.

Keberadaan Berkawan Sekebun menjadi semacam pelipur lara di tengah kencangnya arus digitalisasi. Saat media sosial masa kini penuh konten cepat saji, zine menawarkan pengalaman yang lebih personal dan reflektif. Berkawan Sekebun berperan penting dalam memberi tempat bernapas bagi ide-ide brilian yang belum menemukan ruangnya.

Tampak depan toko Berkawan Sekebun (Foto: Audiba Harisa)

Tak hanya menjual dan memamerkan karya, Berkawan Sekebun juga rutin mengadakan workshop zine dengan tema menarik dan berkolaborasi dengan berbagai komunitas.

“Kami enggak pernah menempatkan diri sebagai yang tahu segalanya. Kami belajar bareng, bahkan dari anak-anak kecil pun kami belajar banyak,” Ujar Dinda.

Harapan Dinda untuk Berkawan Sekebun sangat sederhana, tetap bisa bertahan dan memberi ruang.

“Keinginan kami enggak muluk-muluk, asal toko ini bisa terus hidup, bisa jadi tempat ngobrol dan membaca, itu udah cukup banget,” tutupnya.

Di tengah gempuran budaya instan, Berkawan Sekebun hadir sebagai pengingat, bahwa ruang sekecil apa pun, tetap bisa tumbuh jika dipelihara dengan semangat dan cinta. Di lorong kecil Pasar Cihapit itu, kisah-kisah kecil pun menemukan tempat untuk tumbuh dan berbunga.