Konten dari Pengguna

Fenomena selama Pandemi, Semua Bisa Jadi Content Creator di TikTok!

Audrey Vania Zachrani Kinasih

Audrey Vania Zachrani Kinasih

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Audrey Vania Zachrani Kinasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Logo Aplikasi TikTok
zoom-in-whitePerbesar
Logo Aplikasi TikTok

Dulunya khalayak tidak bisa memberi feedback, bersifat pasif dan hanya bisa menerima segala bentuk pesan dari media. Setelah itu khalayak menjadi aktif dengan adanya kemampuan khalayak menginterpretasi pesan-pesan yang mereka terima sesuai dengan pemahaman, pengalaman, maupun keadaan mereka. Saat era digital saat ini tiba-tiba khalayak aktif semakin berkembang, bukan lagi hanya menginterpretasikan pesan namun juga bisa langsung memberikan feedback di dunia maya ataupun sosial media. Khalayak digital bebas mengutarakan pendapat, idenya bahkan meng-upload foto atau video mereka di sosial media. Saat ini media baru atau sosial media seakan-akan menjadi ruang pribadi dari penggunanya namun bisa diinterupsi atau dimasukki oleh pengguna sosial media lainnya.

Akibat dari perkembangan "kata" khalayak ini banyak bermunculan konten yang bermacam-macam. Saat pandemi Covid-19 banyak orang merasa bosan saat menjalani karantinanya di rumah masing-masing. TikTok menjadi salah satu platform digital yang disukai banyak orang karena fitur-fiturnya yang mudah digunakan. Saat itu juga aplikasi TikTok seakan-akan menjadi ajang pelampiasan kebosanan. Orang-orang berlomba-lomba membuat video semenarik mungkin. Dari video memasak, cerita, komedi, bahkan dance semua bisa ditemukan di TikTok. Dalam sosiologi komunikasi era saat teknologi dan digital saat ini membuat khalayak yang tadinya pasif menjadi aktif, namun dalam artian aktif sebagai pembuat konten. Semua bisa memproduksi konten dengan bebas. Bukan hanya menjadi penonton namun juga menjadi orang yang membuat sesuatu yang bisa dipertontonkan.

Fenomena ini menjadikan banyaknya konten yang bisa ditemukan. Semua orang memiliki idenya masing-masing dan kebebasannya dalam membuat konten. Sebagian orang mungkin membuat konten yang bermanfaat, sebagian lagi mungkin membuat konten untuk bersenang-senang. Lalu apakah fenomena ini adalah hal yang bisa dilumrahkan karena mengingat saat ini semua orang bisa membuat apa saja yang mereka mau? Ya, hal ini adalah sebuah hal yang lumrah. Bahkan bisa dianggap sebuah kemajuan. Semua orang bebas menyalurkan ide dan kreativitasnya. Namun sebagai khalayak yang tadinya pasif dan berubah peran menjadi "aktif", pastinya hal ini tidak melulu soal konten yang berbobot atau konten dengan banyak pelajaran dan manfaat yang bisa didapat oleh penontonnya. Dari pengamatan yang saya lakukan, semakin mudahnya orang-orang membuat konten dan menyalurkan ide serta gagasannya, maka semakin banyak tercipta konten yang jika ditelusuri memiliki dampak negatif. Di TikTok tidak hanya ada satu kalangan usia, namun segala kalangan usia bisa mengakses aplikasi ini. Mulai dari orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak dapat melihat dengan jelas semua video yang lewat di halaman utama atau for your page mereka. Ketika sesorang meng-upload video mereka dengan menambahkan hastag fyp maka video mereka langsung akan muncul di halaman utama para pengguna TikTok. Sebenarnya TikTok sudah melarang anak di bawah 16 tahun untuk memiliki akun TikTok. Namun di Indonesia sendiri banyak yang melanggar larangan ini. Dari beberapa bulan saya menjadi pengguna aktif TikTok saya menemukan video-video tidak pantas dan video itu mendapat viewers yang lumayan banyak. Bahkan di kolom komentar saya juga menemukan komentar dari anak di bawah umur. Selain itu banyak ditemukan juga video dengan pembahasan SARA maupun topik yang tidak pantas dibicarakan. Dalam sudut pandang penikmat konten, kehilangan konsep diri pun bisa saja terjadi. Ketika melihat suatu hal yang menarik penonton tidak sadar akan mengikuti apa yang menurutnya menarik. Seperti cara berpakaian, cara berbicara dan bahkan gaya hidup dari orang yang menjadi idolanya. Tapi apakah menjadi khalayak digital sepenuhnya akan selalu mendapat dampak hal-hal yang buruk? Tentu saja tidak, dengan TikTok di zaman sekarang banyak remaja yang sudah mempunyai banyak karya dan mengembangkan kreativitasnya maupun menunjukkan bakatnya. Di TikTok pula kita bisa mendapati orang-orang mempromosikan bisnisnya dan terbukti efektif karena terbantu oleh viewers dan banyak orang akan tertarik membeli. Istilah ini biasa disebut dengan racun TikTok. Selain itu para pengguna TikTok bisa menjadikan aplikasi ini sebagai ladang penghasilan mereka. Dari video yang mereka buat mereka bisa mendapat pundi-pundi rupiah dari endorse maupun dari hal lain.

Di aplikasi ini tidak hanya si pembuat konten yang bisa menjadi komunikator. Namun komunikan atau pemirsa dari video itupun juga bisa menjadi komunikator dengan berkomentar di kolom komentar yang ada. Kebanyakan dari mereka menyatakan pendapat mengenai apa yang mereka lihat dari video itu seperti tanggapan suka, tertarik, maupun kritik dan saran. Hal yang menarik dari fenomena kebosanan di TikTok yaitu, selama pandemi orang-orang yang mulai merintis karyanya bisa menjadi seleb dalam waktu PSBB atau karantina di masa pandemi Covid-19 ini. Banyak orang yang menyukai video mereka bahkan mengikuti akun mereka di TikTok. Khalayak digital dalam hal ini bisa saja mendapat hal positif maupun negatif tergantung bagaimana khalayak itu menyikapinya.