Cermin Retak Bernama Netizen: Menatap Diri di Film ‘Budi Pekerti’

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nathanaelaudr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Judul: Budi Pekerti
Sutradara: Wregas Bhanuteja
Pemeran: Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina
Produksi: Rekata Studio & Kaninga Pictures
Tahun: 2023 | Durasi: sekitar 110 menit
Pernahkah Anda ikut menghakimi seseorang di kolom komentar, padahal cuma tahu ceritanya dari potongan video pendek berdurasi belasan detik? Jika iya, film Budi Pekerti (2023) karya sutradara Wregas Bhanuteja akan terasa seperti cermin retak yang menohok tepat di depan wajah kita.
Di era ketika jempol bergerak lebih cepat daripada akal sehat, penghakiman massal terasa begitu murah, instan, dan mengerikan. Melalui film ini, Wregas tidak sekadar menyajikan hiburan, melainkan tamparan keras bagi moralitas masyarakat digital modern.
Momen Kecil yang Menjadi Bencana Besar
Berlatar di Yogyakarta pada masa pandemi COVID-19, cerita berfokus pada Bu Prani (Sha Ine Febriyanti), seorang guru Bimbingan Konseling (BK) yang tegas, humanis, dan dihormati. Kehidupannya yang tenang mendadak hancur berantakan hanya karena sebuah perselisihan kecil di pasar ketika ia menegur pembeli yang menyerobot antrean kue putu.
Apesnya, momen ketika Bu Prani tersulut emosi direkam secara diam-diam oleh pengunjung lain. Video berdurasi singkat itu diunggah tanpa konteks yang utuh, mendadak viral, dan Bu Prani langsung dilabeli oleh warganet sebagai figur yang “tidak pantas mengajarkan budi pekerti”.
Gelombang cyberbullying dan doxxing pun meluas bagai efek domino, merembet dan menyeret keluarganya: suaminya, Pak Didit (Dwi Sasono), yang berjuang melawan depresi, serta kedua anaknya, Tita (Prilly Latuconsina) dan Muklas (Angga Yunanda). Di dunia maya, semakin keluarga ini berupaya mengklarifikasi, semakin banyak cela baru yang dicari oleh publik.
Satir Sosial: Komodifikasi Empati dan Standar Ganda Digital
Menurut saya, kekuatan terbesar film ini ada pada kesederhanaan dan keberaniannya menguliti hypocrisy atau kebohongan moral kita sehari-hari. Di sini tidak ada sosok "penjahat" yang jelas. Yang ada hanyalah kita semua: orang-orang yang menonton, menilai, dan berkomentar tanpa pernah tahu cerita utuhnya.
Film ini menelanjangi bagaimana media sosial mengubah penderitaan seseorang menjadi komoditas pasar. Karakter Muklas—anak bungsu Bu Prani yang bekerja sebagai content creator—menjadi representasi paling jujur dari dilema generasi muda saat ini. Ia terombang-ambing di antara naluri membela ibunya dan tuntutan algoritma demi menjaga engagement serta endorsement.
Di titik ini, saya menilai Wregas sangat cerdik menunjukkan bahwa di era digital, fakta sering kali kalah menarik dibandingkan narasi sensasional. Publik tidak lagi peduli pada kebenaran objektif; mereka hanya lapar akan tontonan penderitaan orang lain demi memuaskan rasa haus akan "keadilan" buatan. Ada ironi yang sangat pahit: orang-orang yang merasa paling berhak menghakimi moral seorang guru di internet, sebenarnya adalah mereka yang paling miskin empati.
Keaktoran Gemilang dan Bahasa Visual yang Cerdas
Dari segi keaktoran, Sha Ine Febriyanti tampil begitu memukau. Bu Prani terasa tegas sekaligus hangat, dan raut rapuhnya terasa sangat nyata saat badai komentar menyerangnya. Ia berhasil menyampaikan rasa frustrasi dan harga diri yang terluka tanpa perlu banyak berteriak—hanya lewat sorot mata dan gestur tubuh yang getir. Didukung oleh dialog berbahasa Jawa dan Indonesia yang alami, Yogyakarta hadir sebagai dunia yang sungguh hidup, bukan sekadar latar belakang.
Tak kalah menarik, Wregas sangat cermat menyelipkan makna lewat elemen visual. Penggunaan ring light, sumur, hujan, serta skema warna pakaian yang berulang bukan sekadar pemanis estetika, melainkan bahasa visual yang menyuarakan pergeseran psikologis dan tekanan sosial yang makin menghimpit para karakternya.
Catatan Kritis & Kesimpulan
Meski secara keseluruhan luar biasa, beberapa bagian film ini memang terasa sedikit didramatisasi, dan sebagian penonton mungkin mengharapkan penyelesaian (ending) yang lebih tegas atau memuaskan. Namun bagi saya, justru rasa tidak nyaman dan menggantung itulah yang membuat pesan moralnya menempel lama di pikiran.
Budi Pekerti adalah sebuah karya yang getir, cerdas, dan sangat relevan. Ia tidak menghakimi satu pihak, melainkan menampilkan sisi lain fenomena viral secara adil tanpa kesan menggurui. Film ini mengingatkan kita bahwa satu komentar atau satu share bisa meremukkan hidup seseorang secara nyata. Sangat layak ditonton, terutama bagi generasi muda yang setiap hari hidup di antara riuh notifikasi dan tren viral.
Nilai: 8,5 / 10
