Ulasan film Hyakuemu (100 Meters): 100 Meter yang menggambarkan kehidupan

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Aufa Falih Nabhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Judul: Hyakuemu (100 Meters)
Sutradara: Kenji Iwaisawa
Studio produksi: Rock'n Roll Mountain
Tahun rilis: 2025
Genre: Drama, Olahraga
Durasi: 1 jam 46 menit
Sinopsis
Pernah gak sih kalian kepikiran kalau lari 100 meter lebih cepat dari orang lain bisa menyelesaikan semua masalah? Hal itu yang selalu menjadi prinsip Togashi, karakter utama dalam film animasi Jepang berjudul Hyakuemu.
Togashi adalah seorang siswa sekaligus pelari berbakat yang sudah sering memenangkan lomba lari 100 meter sejak kecil. Karena kecepatannya, Togashi justru merasa bosan. Menurutnya, gak ada lagi lawan yang bisa menandingi kecepatannya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Komiya yang sedang berlari di pinggir sungai. Pertemuan tersebut menjadi awal dari persaingan mereka. Namun, Komiya kemudian harus pindah sekolah karena kondisi keluarganya.
"Lari seratus meter lebih cepat dari orang lain bisa menyelesaikan hampir semua hal!" Kata-kata yang dilontarkan Togashi kepada Komiya di pinggir sungai.
Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan dalam kompetisi kejuaraan nasional. Di lintasan itu, para pelari tercepat saling beradu untuk menjadi yang terbaik. Togashi dan Komiya sama-sama mampu meninggalkan pelari lainnya.
Namun, ketika mereka semakin dekat dengan garis finish, keduanya mulai menyadari bahwa kemenangan ternyata bukan cuma soal siapa yang paling cepat.
Sayangnya, satu hal yang mungkin terasa kurang nyaman ketika menonton film ini adalah teknik animasinya. Di satu sisi, gaya animasinya terlihat realistis dan natural, terutama saat menggambarkan gerakan para pelari. Gerak tubuh, otot, sampai keringat karakter terasa cukup hidup.
Namun, gaya tersebut juga membuat beberapa bagian terlihat agak berantakan. Garis-garis pada karakter terkadang gak konsisten dan mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian bagi penonton yang terbiasa dengan animasi yang lebih rapi.
Meski begitu, menurut saya hal tersebut gak sampai menghilangkan emosi yang ingin disampaikan melalui karakter-karakternya.
Nah, selanjutnya hal yang paling menarik dari Hyakuemu adalah pesan yang ingin disampaikan Kenji Iwaisawa melalui film ini. Pertanyaan tentang bagaimana kita "lari" dari kenyataan terasa sederhana, tetapi justru menjadi bagian yang cukup dalam dari ceritanya.
Di awal, lari bagi Togashi seperti cara untuk menang dan membuktikan bahwa dirinya lebih cepat dari orang lain. Namun, semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terlihat bahwa terus berlari untuk mengejar kemenangan justru bisa membuat seseorang mengorbankan hal-hal yang lebih berharga.
Pada akhirnya, kemenangan dalam film ini terasa bukan hanya tentang siapa yang mencapai garis finish lebih dulu, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa menerima dan berdamai dengan kenyataan yang ada dalam dirinya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Hyakuemu adalah film animasi Jepang yang menarik, terutama bagi kalian yang menyukai cerita bertema olahraga. Film ini gak hanya menampilkan animasi yang terasa hidup, tetapi juga menyisipkan pesan melalui perkembangan karakter dan berbagai momen emosionalnya.
Salah satu hal yang paling membekas bagi saya adalah ending-nya. Ada sesuatu dari penutup cerita film ini yang cukup sederhana, tetapi justru membuat saya terdiam sejenak setelah menontonnya.
Kenji Iwaisawa berhasil mengangkat konsep yang sebenarnya terlihat sederhana, yaitu perlombaan lari 100 meter, menjadi cerita tentang persaingan, ambisi, kenyataan, dan bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Hyakuemu bukan cuma tentang siapa yang paling cepat sampai ke garis finish, tetapi tentang alasan kenapa kita terus berlari.
