Konten dari Pengguna

Rasa Malas dan Keinginan, Siapa yang Menang?

Aufa Nur Afidah

Aufa Nur Afidah

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aufa Nur Afidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ini saya buat sendiri di aplikasi https://www.canva.com/, dengan ilustrasi dan gambar yang ada di dalam design ini merupakah fasilitas dari aplikasi https://www.canva.com/
zoom-in-whitePerbesar
Foto ini saya buat sendiri di aplikasi https://www.canva.com/, dengan ilustrasi dan gambar yang ada di dalam design ini merupakah fasilitas dari aplikasi https://www.canva.com/

“Rasa malas dan keinginan, siapa yang menang? Kok seperti sebuah pertarungan?”

Itulah salah satu kalimat yang terbesit di benak kalian ketika membaca judul tulisan ini. Tulisan ini ditulis untuk membuka mindset kalian tentang bagaimana melawan rasa malas yang ada di dalam diri kita ketika ingin melakuakan suatu keinginan. Terutama keinginan untuk menggapai mimpi yang kita punya.

Malas adalah kondisi ketika seseorang menghindari pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan dengan potensi dan energi yang dimiliki. Malas sering dikaitkan dengan dua perilaku, yaitu prokrastinasi (menunda-nunda) dan idleness (berdiam diri tanpa melakukan apa-apa).

Setiap dari kita pasti pernah merasakan rasa malas. Tak dipungkiri, memang kadang menyenangkan rasanya apabila bisa sejenak melupakan pikiran dari pekerjaan atau tugas-tugas sekolah dan kuliah. Apalagi bila hari malas kita ditemani dengan camilan dan film favorit. Dan di sini sita semua juga setuju bahwa untuk bisa sukses mewujudkan keinginan dan sebuah mimpi, kita harus jauh-jauh dari rasa malas. Namun tidak bisa dipungkiri, rasa malas atau yang sering kita sebut dengan istilah mager sering kali kita alami dan sulit kita hindari. Faktor mood dan suasana sering kali menjadi alasan kita untuk memaklumi kemunculan rasa malas, dan akhirnya kita tidak mencoba melawan rasa malas tersebut.

Melawan rasa malas memang sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh Sebagian orang. Karena ketika kita sudah mulai berleha-leha di kasur, bermain handphone, menonton film, rasa malas itu tentu semakin kuat. Hal tersebut yang menghambat keinginan kita untuk melakukan sesuatu yang produktif dan bermanfaat. Karna, fakta penelitian membuktikan bahwa kurangnya motivasi akibat dari rasa malas ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologis, bukan sekadar sikap dan kebiasaan ataupun suasana hati dan lingkungan.

Menurut informasi yang didapat melalui livescience.com, sejumlah peneliti dari Oxford University sudah melakukan penelitian dengan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI), alat yang menunjukkan gambaran belahan otak manusia. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti motivasi dan rasa malas.

Hasil scan menunjukkan bahwa ketika orang memutuskan untuk melakukan sesuatu atau ingin berkegiatan, area premotor pada otak akan menyala dan titik lain di otak yang mengendalikan gerakan di tubuh akan menjadi aktif. Area premotor merupakan area otak yang penting, karena menuntun gerakan kita dan mengendalikan otot besar dan proksima dari tubuh.

Pada orang yang malas, area premotor pada otak tidak menyala sehingga tidak memunculkan sinyal ke otot besar dan proksima di tubuh. Koneksi otak yang menghubungkan “keputusan untuk melakukan sesuatu” menjadi sebuah tindakan menjadi tidak efektif pada orang yang malas, sehingga muncul rasa malas bergerak, lelas dan lemas karena otak harus melakukan upaya lebih keras untuk mengubah keputusan yang diambil menjadi tindakan untuk bergerak.

Lalu bagaimana caranya agar diri kita bisa melawan rasa malas itu? Apakah banyaknya keinginan yang ingin punya akan melawan rasa malas kita yang kuat? atau malah sebaliknya, keinginan kita tidak dapat diwujudkan karna kuatnya rasa malas kita?

Mungkin sering kali terbesit di benak kita ingin sekali melakukan suatu hal yang dapat merubah diri kalian menjadi lebih baik. Tetapi, rasa malas itu terus menghampiri. Yang pada akhirnya keinginan-keinginan itu terpendam dalam harapan tanpa adanya perwujudan yang nyata. Padahal ketika kita bisa menghilangkan sedikit rasa malas kita, mungkin kita sudah bisa membaca 1 novel hinggal selesai, belajar Bahasa asing di youtube, atau hal produktif lainnya.

Untuk mengatasi rasa malas itu mulailah berfikir logis dalam segala hal yang ingin kalian lakukan. Tanamkan pikiran yang positif pada diri sendiri, karena sesungguhnya kemalasan adalah diri sendiri yang dapat mengontrol. Jika bukan kita yang mengontrol rasa, maka kita akan dikontrol oleh rasa. Rasa malas, sakit, kecewa, senang, suka, dan lainnya. Rasa menjadi suatu alasan untuk bergerak dan mengupayakan sesuatu. Saat setelah mencapai suatu keinginan atau target dalam hidup maka kita sudah bisa mengalahkan sedikit rasa malas yang ada di dalam diri kita.

Ketika kita sudah berhasil mewujudkan keinginan kita dan berhasil mengalahkan rasa malas itu, pasti kita akan terus berusaha untuk menaikan target berikutnya yang jauh lebih besar. Dan hal tersebut akan menjadi suatu kebiasaan yang akan kita lakukan seterusnya. Jadi, jangan pernah berdiam pada tempat yang sama karena hal itu menyebabkan kita tidak berkembang. Bertumbuhlah ke arah yang lebih baik dan berusahalah untuk selalu melawan rasa malas. Karena yang perlu kita ingat, di balik rasa malas yang kita punya ada jutaan keinginan kita yang harus diwujudkan.