Konten dari Pengguna

Semua Gejala Terasa Relate: Bahaya Self-Diagnosis Tanpa Asesmen Psikologis

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Augie Humaira Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi self-diagnosis, Sumber: magnific.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi self-diagnosis, Sumber: magnific.com

“Kayaknya aku anxiety deh.” Kalimat seperti ini semakin sering terdengar sejak banyaknya konten psikologi singkat di TikTok dan Instagram. Hanya dengan menonton video pendek tentang “tanda-tanda anxiety”, banyak orang mulai merasa relate dan yakin dirinya mengalami gangguan psikologis tertentu. Fenomena ini dikenal dengan self-diagnosis, yaitu upaya individu mendiagnosis kondisi psikologis tanpa asesmen profesional.

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental memang positif, tetapi informasi di media sosial sering disampaikan terlalu sederhana sehingga memicu kesalahpahaman. Menurut American Psychiatric Association (2013), diagnosis gangguan mental tidak dapat ditegakkan hanya dari satu atau dua gejala, tetapi harus melihat intensitas, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari individu.

Mengapa Banyak Orang Mudah Melakukan Self-Diagnosis?

Banyak gejala psikologis sebenarnya bersifat umum, seperti gugup sebelum presentasi, overthinking, atau sulit fokus saat lelah. Namun, kondisi tersebut sering langsung dikaitkan dengan anxiety disorder. Menurut Nevid et al. (2021), suatu kondisi dapat disebut gangguan psikologis apabila menyebabkan distress signifikan dan menghambat fungsi individu dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, merasa cemas tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan.

Fenomena ini juga berkaitan dengan teori confirmation bias. Nickerson (1998) menjelaskan bahwa individu cenderung mencari dan mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. Ditambah lagi, algoritma media sosial terus menampilkan konten sejenis berdasarkan riwayat tontonan pengguna sehingga individu semakin yakin dirinya gangguan tertentu.

Bahaya Self-Diagnosis bagi Kesehatan Mental

Self-diagnosis bukan hanya berisiko membuat seseorang salah memahami dirinya, tetapi juga dapat meningkatkan kecemasan. Fenomena ini disebut cyberchondria, yaitu kondisi ketika pencarian informasi kesehatan secara berlebihan di internet justru membuat individu semakin cemas terhadap kondisi dirinya sendiri (Starcevic & Berle, 2013).

Selain itu, self-diagnosis juga dapat menyebabkan self-labeling, yaitu memberi label tertentu pada diri sendiri tanpa pemahaman yang utuh. Akibatnya, individu mulai memandang seluruh perilakunya berdasarkan label tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Parry et al. (2023) juga menemukan bahwa banyak konten kesehatan mental di TikTok terlalu disederhanakan dan berpotensi menyebabkan misinformasi psikologis.

Pentingnya Asesmen Psikologis

Dalam psikologi, diagnosis memerlukan asesmen psikologis yang dilakukan secara ilmiah melalui wawancara, observasi, serta penggunaan alat tes psikologi yang terstandarisasi. Menurut Groth-Marnat dan Wright (2016), asesmen psikologis bertujuan memahami kondisi individu secara menyeluruh, mulai dari emosi, perilaku, fungsi kognitif, hingga latar belakang kehidupan individu.

Hal ini penting karena banyak gangguan psikologis memiliki gejala yang mirip. Misalnya, sulit fokus dapat muncul pada stres, burnout, bahkan kurang tidur. Karena itu, asesmen psikologis membantu individu memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

Penutup

Media sosial memang membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, tetapi merasa relate dengan suatu gejala bukan berarti seseorang pasti memiliki gangguan psikologis tertentu. Oleh karena itu, dibanding langsung melakukan self-diagnosis, mencari bantuan profesional dan menjalani asesmen psikologis dapat menjadi langkah yang lebih aman dan akurat dalam memahami kondisi diri sendiri.

________________________________________________

Oleh Augie Humaira Putri dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.