Konten dari Pengguna

Fenomena Dosen Seleb dan Pergeseran Otoritas Ilmiah di Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Adhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika otoritas akademik bergeser ke dosen seleb

Ilustrasi dosen masa kini. Sumber Foto : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dosen masa kini. Sumber Foto : Pixabay

Ada sebuah perbedaan di zaman sekarang mengenai “dosen favorit” di media sosial khususnya Tiktok. Dahulu, mahasiswa merekomendasikan dosen favorit karena beliau bukunya tebal, riset nya bagus, atau penjelasannya di kelas di sukai mahasiswa. Sekarang alasannya berubah, mahasiswa melihat banyak dosen yang melakukan pembelajaran melalui video dan di rilis ke sosial media, kalau video nya bagus, hal itu akan di bagikan ke kalangan para pelajar, ditambah kalau akun dosen tersebut memiliki ribuan pengikut. Di era serba digital ini, maraknya fenomena “dosen seleb” atau akademisi yang menjadi publik figur di media sosial. Dari membuat konten edukasi yang ringkas di Tiktok, membagikan tips akademik di Instagram, sampai mengikuti isu-isu sosial yang sedang tren.

Dari fenomena ini seharusnya ada dampak positifnya. Yang dahulu mahasiswa melihat kampus yang terkesan ekslusif dan kaku kini menjadi lebih membumi. Ilmu pengetahuan tidak hanya bisa di dapat di ruang kelas atau perpustakaan saja, tetapi juga bisa di akses oleh siapapun melalui gawai masing-masing. Selain dampak positif, jika dilihat melalui kacamata sosiologi, ada pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Apakah dari dosen yang popular di media sosial benar-benar mampu mercerdaskan kita atau secara tidak lamgsung sedang melihat pudarnya wibawa intelektual demi tuntutan eksistensi di media sosial?

Tokoh sosiolog Max Weber menjelaskan tentang tipe-tipe otoritas (wibawa) dalam masyarakat. Salah satunya adalah otoritas rasional-legal. Secara sederhana nya yaitu bahwa pandangan masyarakat tentang dunia kampus itu adalah sesuatu yang formal dan di hormati, terlebih bagaimana cara dosen mengajar yang dianggap ahli karena gelar akademisnya jelas, risetnya teruji, dan tulisan nya di kritik dahulu oleh sesama ahli sebelum diterbitkan. Lalu zaman berubah, media sosial hadir seperti mengacak-acak aturan main tersebut. Wibawa seorang dosen yang dikenal formal perlahan bergeser menjadi wibawa digital. Dalam dunia media sosial, keahlian seorang dosen tidak dilihat secara mendalam seperti seberapa dalam risetnya, melainkan dari seberapa banyak jumlah pengikutnya, suka, dan seberapa lihai beliau dalam menyampaikan informasi ke khalayak. Ketika angka-angka ini menjadi tolak ukur baru, wibawa intelektual sebenarnya sedang dikalahkan oleh algoritma.

Dampak dari fenomena ini bisa menciptakan bias baru bagi mahasiswa. Ada konsep dari sosiolog Guy Debord bernama “Society of the Spectable” (Masyarakat Tontonan). Konsep ini secara garis besar membahas bahwa masyarakat modern sekarang melihat segala sesuatu hanya dari yang terlihat oleh permukaan. Bukan dilihat lebih dalam sesuatunya. Dari budaya tontonan ini, mahasiswa sekarang lebih tertarik pada dosen yang berpenampilan menarik, mampu mencairkan suasana kelas, lihai dalam mengedit video dan ini dianggap sebagai dosen yang paling pintar dan gaul. Di sisi lain, dosen-dosen yang sudah senior yang waktunya dihabiskan untuk meneliti dengan tekun dianggap usang dan membosankan. Akibatnya, mahasiswa menjadi malas membaca atau berpikir kritis dan hanya tertarik pada informasi instan yang ada di media sosial.

Ketika seorang dosen seleb dituntut untuk terus membuat konten demi menjaga popularitasnya, mereka sering ikut campur di bagian komen untuk mengomentari segala hal, yang sebaiknya hanya menanggapi komentar akademisi, lalu melenceng menanggapi hal diluar bidang keahliannya. Dosen seleb tersebut sering membuat kesimpulan yang instan, objektivitas ilmiah akhirnya dikorbankan demi narasi yang disukai netizen. Dampak negatifnya, jika ada mahasiswa yang menelan mentah-mentah narasi dosen tersebut, hal ini bisa menjadi penyebaran kekeliruan informasi.

Tulisan ini bukan berarti membuat narasi anti-teknologi atau melarang dosen tergabung di media sosial. Upaya para dosen untuk meruntuhkan tembok pembatas kampus dan membagikan ilmu ke masyarakat luas adalah langkah bagus yang wajib di dukung. Ilmu itu sudah seharusnya membebaskan dan bisa dinikmati berbagai kalangan. Namun, sebagai mahasiswa harus tetap jeli dan kritis. Mahasiswa harus bisa membedakan mana informasi yang valid dan mana yang hanya sekedar kepintaran mengedit konten. Setiap ada video edukasi khususnya dari dosen di media sosial, dilihat lagi apakah informasi tersebut benar faktanya atau tidak.

Media sosial harus tetap diletakkan sebagai jembatan untuk menyebarkan ilmu, bukan tujuan akhir dari seorang akademisi. Bagaimanapun, ruang kuliah adalah ruang formal dan bukan ruang sandiwara digital untuk mendapatkan popularitas semata. Wibawa seorang pendidik tidak ditentukan seberapa seringnya beliau hadir di sosial media, melainkan seberapa dalam beliau mampu menanamkan nalar kritis dalam pikiran generasi masa depan.