Musik Pop Sebagai Pengiring Ondel-ondel, Pantaskah?

wartawan kumparan
Tulisan dari Aulia Aminda Dhianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemain Gambang Kromong Sedang Berlatih
Terlepas dari sejarah asal-usulnya, musik gambang kromong menjadi salah satu representasi Betawi yang kuat. Dengan ciri khas suara alat musik rebab kayu yang melengking dipadukan dengan gendang, gong, tehyan, dan kecrek, menunjukkan akulturasi dari budaya Cina, musik gambang kromong sangat khas untuk pengiring pertunjukkan ondel-ondel.
Seiring dengan berjalannya waktu, khususnya di Ibukota Jakarta yang tentunya tidak akan lekang dari hal perekonomian, kesenian ondel-ondel kerap dijadikan sebagai mata pencaharian. Pada hari Jumat (10/11) kumparan (kumparan.com) mengunjungi Pasar Gaplok, Kramat Pulo, Senen yang dikenal sebagai pusat produksi dan pengrajin pndel-ondel.
Pada pukul 14.00, kumparan (kumparan.com) memasuki jalan masuk Pasar Gaplok dan sudah ramai para pengamen ondel-ondel yang akan berkeliling kota Jakarta. Mereka mengangkut ondel-ondelnya dengan angkutan umum mikrolet hingga ke tengah kota. Anehnya, dari sekian banyak ondel-ondel yang diangkut, tidak terlihat satupun alat musik gambang kromong untuk iringannya.
“Yang bisa mainnya juga sedikit, paling ini-ini aja.” ujar Ahmad (21), seorang pengamen ondel-ondel, menunjuk ke arah grup pemusik gambang kromong yang sedang berlatih. “Jadi, mereka main direkam terus buat iringan yang main.” lanjutnya.
Lebih menariknya lagi, tidak hanya musik rekaman gambang kromong sebagai iringan, namun juga sering ditemui para pengamen ondel-ondel melantunkan musik dangdut atau pop lainnya untuk mengiringi ondel-ondel. Menanggapi hal tersebut, pengrajin ondel-ondel merasa jika itu tidak pantas dilakukan.
“Kita ngamen enggak pake alat musik aja itu udah tamparan buat kita sendiri. Apalagi kita cuman pakai musik pop, itu lebih ngejelekin lagi.” Jelas Alif, pengrajin ondel-ondel terlama di Pasar Gaplok, Kramat. “Ya, tapi gimana lagi, kalau enggak pada jalan juga orang gimana pada tahu Ondel-ondel.” Lanjutnya.
Jelas, para pemilik suatu budaya akan terganggu dengan pergeseran makna dan penggunaan budayanya. Namun, budaya bergerak dengan dinamisnya menjadi unsur komodifikasi yang tentunya dalam hal ini ialah ekonomi. Dan ketika hal ini terjadi, maka budaya tidaklah lagi memiliki unsur kesakralan, hanya hiburan dan mata pencaharian.
Ketika kumparan (kumparan.com) menghubungi J. J. Rizal, sejarawan, pada Sabtu (11/11), ia menjelaskan dengan singkat jika penggunaan musik dangdut dan pop sebagai iringan ondel-ondel ialah sebuah bentuk penyesuaian zaman. Hal ini disetujuinya jika pengalkuturasian ondel-ondel dengan iringan musik pop ialah suatu bentuk usaha pelestarian buadaya di masa kini.
Jadi, patutkah jika gambang kromong tergantikan oleh musik pop untuk mengiringi ondel-ondel? Tidak. Mungkinkah jika hal itu terjadi? Ya. Mungkin menyakitkan bagi para seniman ondel-ondel, namun tujuan lain ialah agar budaya ondel-ondel tetap bisa eksis di tengah maraknya budaya populer yang datang dari segala penjuru dunia. Usaha yang demikian pun ternyata jauh lebih baik, ketimbang berdiam dan menolak perkembangan zaman. Kalau tidak seperti ini, bagaimana lagi ondel-ondel bisa dekat dengan generasi muda?
