Brand Lo Ketahuan dari Cara Ngetweet: Media Sosial Adalah Cermin Budaya Korporat

Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aulia Ana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekarang, ngomongin budaya korporat nggak bisa cuma soal visi-misi yang dipajang di dinding kantor. Di era digital, culture sebuah perusahaan bisa langsung kelihatan dari cara mereka ngomong di media sosial. Yup, dari satu tweet atau story aja, publik bisa tahu gimana karakter, nilai, bahkan “sikap” si brand itu.
Media sosial udah jadi panggung utama buat komunikasi korporat. Tapi bedanya, ini bukan panggung yang bisa diatur sesuka hati. Semua orang bisa nonton, komentar, bahkan ngulik balik kalau ada yang nggak sesuai. Jadi, cara perusahaan berinteraksi di dunia digital bukan cuma strategi komunikasi, tapi juga refleksi dari budaya internal mereka.
Perusahaan yang punya budaya terbuka biasanya kelihatan lebih human, responsif, dan nggak defensif kalau dikritik. Mereka bisa ngobrol dua arah, nggak kaku, dan tahu kapan harus serius atau santai. Tapi beda cerita sama perusahaan yang masih terjebak budaya birokratis caption-nya kaku, semua statement harus disetujui tujuh level manajer dulu, dan pas ada isu malah ngilang. Publik bisa langsung ngerasa, “Oh, berarti emang gitu ya cara mereka kerja di dalam.”
Contohnya gampang aja, lihat Gojek atau Tokopedia. Konten mereka bukan cuma promosi, tapi juga nyeritain kisah real dari driver, seller, dan user. Respons mereka di media sosial juga nyambung banget sama nilai kolaborasi dan empati yang jadi DNA perusahaannya. Itulah komunikasi budaya korporat yang hidup bukan sekadar slogan, tapi nyata di cara mereka ngomong sama publik.
Tapi di sisi lain, media sosial juga bisa jadi jebakan. Kadang brand pengin keliatan relevan, terus maksa ikut tren TikTok atau pakai bahasa gaul yang cringe banget. Padahal kalau gaya komunikasinya nggak nyatu sama value perusahaan, hasilnya malah kelihatan palsu. Netizen sekarang peka banget sama vibe yang nggak autentik.
Intinya, komunikasi budaya korporat di media sosial tuh bukan cuma soal “apa yang dikatakan”, tapi “siapa yang ngomong dan dari budaya seperti apa dia datang.” Karena di dunia digital, budaya perusahaan bukan cuma hidup di kantor tapi juga di timeline dan comment section.
Jadi kalau mau punya brand yang dipercaya publik, mulai dari dalam dulu. Tanam budaya yang terbuka, jujur, dan kolaboratif. Karena pada akhirnya, publik bisa ngerasain mana brand yang cuma pengin viral, dan mana yang beneran punya nilai.
