Antara Adat dan QRIS: Kisah Baduy Luar yang Mulai Membuka Pintu Teknologi

Mahasiswa Baru Destinasi Pariwisata, Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aulia Arifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ambu”, begitu sapaan penuh hormat untuk para perempuan Baduy yang telah menikah. Ketika langkah kaki memasuki kawasan Baduy Luar, para Ambu dengan alat tenunnya terus bergerak menyambut saya dengan hangat. Jemari mereka begitu cekatan. Seolah setiap helai benang menyimpan cerita tentang kesabaran dan warisan leluhur.
Di depan rumah panggung kayu yang tersusun rapi, hamparan kerajinann dijajarkan dengan penuh kebanggaan. Kain tenun dengan motif yang halus, syal berwarna bumi, gelang, hingga gantungan kunci dari serat alam. Semua tersusun sederhana, tetapi menyimpan detail yang membuat siapa pun ingin mendekat lebih lama.
Di sela-sela rumah, pepohonan rindang berdiri seperti penjaga sunyi, memberi kesejukan yang membuat kawasan ini terasa seperti dunia yang bergerak dengan ritme sendiri. Warna biru tua tampak mendominasi pandangan saya. Pakaian sehari-hari masyarakat Baduy Luar itu menjadi identitas yang langsung melekat di mata setiap pengunjung. Ada kehangatan yang berbeda. Walaupun saya adalah orang luar, sambutan yang diberikan tidak pernah setengah hati.
Hingga pada kunjungan saya di Juli 2025, di Kawasan Baduy, tepatnya di Desa Wisata Saba Budaya Baduy, yang terletak di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten membuat langkah saya terhenti. Di tengah semua suasana tradisional yang begitu kental, saya melihat sesuatu yang tak terduga menempel di salah satu lapak, selembar kertas QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Sebuah sentuhan teknologi kecil yang terasa begitu kontras. Namun, sekaligus mengundang senyum heran.
Di saat yang sama, seorang wisatawan tampak sibuk membuka aplikasi pembayaran. Sementara itu, pedagang dengan tenang mengatur posisi kode QR agar lebih mudah dipindai oleh pembeli.
Bip.
Satu detik kemudian transaksi selesai.
“Lebih cepat. Kalau turis nggak bawa uang pas, saya juga enak,” ucapnya sederhana.
Tidak ada rasa canggung, tidak ada euforia. Hanya senyuman kecil dari seseorang yang memaknai teknologi sebagai alat bantu, bukan perubahan hidup.
Salah satu hal paling menarik dari Baduy adalah keberadaan dua kelompok masyarakat dengan batas yang sangat jelas.
Baduy Dalam
• Mengenakan pakaian berwarna putih dan hitam, dengan ikat kepala putih.
• Aturan adat yang sangat ketat.
• Tidak menggunakan alat modern.
• Tidak ada Listrik, HP, atau perangkat digital.
• Tidak menggunakan alas kaki.
Baduy Luar
• Menggunakan pakaian berwarna biru tua.
• Lebih longgar dalam penerapan aturan adat.
• Boleh menggunakan teknologi tertentu selama tidak merusak adat.
• Menjadi “jembatan” antara dunia luar dan Baduy Dalam.
Di wilayah Baduy Luar, internet masih dapat diakses meski di beberapa titik sinyal sangat lemah bahkan tidak tersedia. Kemudian, di tempat-tempat itulah QRIS mendapat ruang hidupnya sebagai alat transaksi mempermudah masyarakat.
Bagaimana bisa QRIS masuk ke tengah hutan? jawabannya bukan karena mereka tiba-tiba ingin modern. Tidak. Perubahannya justru terjadi sangat perlahan, dipicu kebutuhan ekonomi dari perkembangan pariwisata. Apalagi dalam beberapa tahun kebelakang, jumlah wisatawan meningkat sehingga Desa Wisata Saba Budaya Baduy semakin ramai. Kemudian, wisatawannya tidak selalu membawa uang tunai, pembayaran digital kini menjadi solusi paling efisien dan yang paling terpenting adalah tidak bertentangan dengan aturan adat Baduy Luar. Aturan ketat soal teknologi hanya berlaku pada masyarakat Baduy Dalam. Sementara Baduy Luar diperbolehkan memiliki teknologi sebagai bantuan aktivitas harian.
Teknologi datang bukan sebagai gaya hidup, melainkan sebagai “alat kerja”. Yang menarik adalah bagaimana QRIS hadir tanpa menghapus jejak tradisi suku Baduy. Rumah-rumah penggung masih sama. Jalan tanah masih sama. Aturan adat juga masih dijaga. Perubahan hanya datang pada selembar kertas kecil berisi kode kotak-kotak, yang diletakkan di sudut warung sederhana. Bahkan banyak pedagang tetap lebih nyaman dengan uang tunai, tetapi tidak lagi menolak teknologi yang memudahkan. Menurut (Agustina & Setiadi, 2024) hal ini bermula pada 2017 kedatangannya dan QRIS berhasil diterima dengan baik pada tahun 2022.
Seiring perjalanan masuk lebih jauh ke area hutan, sinyal hilang tiba-tiba. Di situlah batasnya, teknologi boleh hadir, tapi tidak pernah menguasai. QRIS di Baduy bukan sekadar cerita “desa mulai modern”. Lebih dari itu, ini adalah cermin bagaimana sebuah komunitas adat menegosiasikan ruang hidupnya dalam dunia yang bergerak cepat.
Mereka tidak menolak modernisasi, tetapi mereka menata jaraknya.
Mereka membuka pintu, tetapi hanya selebar yang diperlu.
Mereka berubah, tanpa kehilangan siapa jati diri mereka.
Sebuah prinsip dan nilai yang bisa menjadi inspirasi.
Dari Baduy kita belajar bahwa menjaga tradisi bukan berarti menghentikan waktu, melainkan memilih dengan bijak perubahan mana yang layak diterima.
