Psikologi Pendidikan: Menakar Dampak Penggunaan Tablet terhadap Siswa

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Padang. Penulis dan pemerhati isu psikologi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Aulia Azhari Febiola tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mana yang lebih efektif untuk anak sekolah dasar, buku cetak atau tablet? Pertanyaan ini semakin sering muncul seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tablet menawarkan berbagai manfaat, seperti akses informasi yang cepat, kemampuan menampilkan konten interaktif, serta pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan efektif melalui video dan animasi.
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, keberhasilan belajar anak tidak hanya bergantung pada kecanggihan perangkat yang digunakan, tetapi juga pada dampaknya terhadap kesehatan mental, kemampuan anak untuk fokus, memahami, mengingat, dan berkembang secara sosial.
Oleh karena itu, perdebatan mengenai buku cetak versus tablet sebaiknya tidak berfokus pada mana yang lebih mutakhir, melainkan pada mana yang paling mendukung proses belajar dan perkembangan anak. Apakah penggunaan teknologi tablet di sekolah benar-benar membantu anak belajar lebih baik, atau justru memunculkan masalah baru bagi perkembangan kesehatan mental mereka? Ini adalah pertanyaan yang perlu dikaji lebih mendalam dari perspektif psikologi pendidikan.
Tablet dan Motivasi Belajar Siswa
Ketika banyak orang khawatir tablet akan membuat anak semakin bergantung pada layar, ada sisi lain yang perlu diperhatikan: teknologi ini juga berpotensi meningkatkan motivasi belajar siswa. Melalui tampilan yang interaktif, akses informasi yang luas, dan kesempatan untuk belajar secara lebih mandiri, tablet dapat membuat siswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam kacamata psikologi pendidikan, keterlibatan aktif tersebut merupakan salah satu kunci munculnya motivasi intrinsik yaitu pendekatan Self-Determination Theory (Deci dan Ryan) menjelaskan bahwa seseorang akan lebih bersemangat belajar ketika merasa memiliki kebebasan memilih, mampu menyelesaikan tantangan, dan tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, efektivitas tablet tidak terletak pada teknologinya semata, melainkan pada bagaimana teknologi itu digunakan untuk membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.
Tablet dan Perkembangan Kognitif
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, tablet biasanya dilihat sebagai jendela baru untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan belajar mereka. Siswa menggunakan teks, gambar, video, dan simulasi interaktif untuk belajar. Mereka tidak hanya mendapatkan informasi; mereka didorong untuk mengeksplorasi, menemukan hal-hal sendiri, dan membangun pemahaman mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan teori Jean Piaget tentang bagaimana kognitif anak-anak berkembang.
Menurut teori ini, anak-anak belajar paling baik dengan menjelajahi dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka dan dengan memiliki pengalaman yang nyata dan bermakna. Jadi, ketika digunakan dengan cara yang benar, tablet dapat menjadi alat yang membantu yang membuat berpikir, bernalar, dan memecahkan masalah menjadi lebih baik.
Namun, manfaat ini hanya dapat terjadi jika tablet tidak hanya membuat siswa mendengarkan dan menerima informasi, tetapi sebaliknya membantu mereka berpikir sendiri, mengajukan pertanyaan yang bagus, dan benar-benar memahami dan memaknai apa yang mereka pelajari.
Tablet dan Interaksi Sosial
Penggunaan tablet dapat membantu siswa menjalin hubungan yang lebih baik saat mereka bekerja sama dalam berbagai aktivitas, seperti diskusi kelompok, pengerjaan proyek bersama, dan pertukaran informasi secara digital. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme Sosial Lev Vygotsky, yang menyatakan bahwa proses berpikir dan belajar berlangsung paling efektif ketika individu berinteraksi satu sama lain dalam lingkungan sosial.
Namun, jika siswa menggunakan tablet secara berlebihan tanpa mengimbanginya dengan interaksi percakapan di dunia nyata, hal tersebut dapat mengurangi kesempatan mereka untuk mengembangkan keterampilan sosial, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan memahami perasaan orang lain.
