Gelombang Panas di AS Tewaskan 25 Orang, 140 Juta Warga dalam Peringatan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria berjalan dengan sebagian bajunya terbuka di tengah gelombang panas di The Great American State Fair di National Mall di Washington, D.C., AS, Rabu (1/7/2026). Foto: Cheney Orr/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria berjalan dengan sebagian bajunya terbuka di tengah gelombang panas di The Great American State Fair di National Mall di Washington, D.C., AS, Rabu (1/7/2026). Foto: Cheney Orr/REUTERS

Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat (AS) telah menewaskan sedikitnya 25 orang. Lebih dari 140 juta warga juga masih berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem.

Mengutip The Guardian, sebagian besar korban jiwa tercatat di Negara Bagian New Jersey, dengan 22 kematian.

Korban lainnya dilaporkan berasal dari Illinois dan Mississippi.

Otoritas setempat menyebut sebagian korban ditemukan di rumah tanpa pendingin ruangan (AC), sementara lainnya meninggal setelah terpapar suhu ekstrem di luar ruangan maupun di dalam kendaraan.

Perayaan Kemerdekaan Terdampak

Gelombang panas turut mengganggu rangkaian perayaan 250 tahun Kemerdekaan AS pada Sabtu (4/7) lalu.

Di Washington DC, suhu mencapai sekitar 39,4 derajat Celsius, menjadi rekor tertinggi untuk tanggal 4 Juli. Cuaca ekstrem membuat sejumlah parade dan acara publik dibatalkan.

Ribuan orang yang hendak menghadiri pidato Presiden Donald Trump di National Mall juga sempat dievakuasi akibat badai petir sebelum akhirnya diizinkan kembali masuk setelah cuaca membaik.

Seorang wanita mengibarkan bendera AS pada pawai Hari Kemerdekaan 4 Juli yang menampilkan Presiden AS Donald Trump, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS

Meski begitu, sebagian warga tetap bertahan menghadiri perayaan.

Seorang pensiunan pegawai negeri asal Washington, Randy Cole, mengatakan cuaca panas bukan alasan untuk melewatkan momen tersebut.

"Mengalami sedikit panas tidak seberapa dibanding pengorbanan banyak orang yang telah memberikan kebebasan bagi negara yang luar biasa ini," ujar Cole.

Panas Makin Ekstrem

Layanan Cuaca Nasional AS (NWS) menyebut lebih dari 140 juta warga Amerika masih berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem.

Para ilmuwan iklim menilai gelombang panas yang semakin sering dan intens dipengaruhi oleh perubahan iklim, sebagai dampak dari pemanasan global yang terus meningkat.

"Perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, lebih intens, dan berlangsung lebih lama," kata Michael Mann, ilmuwan iklim dari University of Pennsylvania.

Shelia Howell, 57 tahun, menutupi wajahnya dengan handuk untuk mendinginkan diri selama gelombang panas di The Great American State Fair di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Cheney Orr/REUTERS

Selain suhu siang yang tinggi, suhu malam yang tetap panas membuat tubuh sulit mendingin sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) yang dapat berakibat fatal.

Otoritas kesehatan pun mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta memanfaatkan ruangan berpendingin untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem.