Italia Ogah Ladeni Sindiran Trump soal Meloni

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PM Italia Giorgia Meloni Foto: X/@GiorgiaMeloni
zoom-in-whitePerbesar
PM Italia Giorgia Meloni Foto: X/@GiorgiaMeloni

Italia memutuskan tidak lagi menanggapi berbagai sindiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Perdana Menteri Giorgia Meloni. Keputusan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menjelang KTT NATO di Ankara, Turki, Selasa (7/7).

Dalam wawancara dengan La Stampa, Tajani mengatakan pemerintah Italia sengaja memilih tidak membalas komentar Trump agar hubungan antarsekutu tidak semakin memanas.

"Trump berbicara atas nama dirinya sendiri. Kami memutuskan berhenti menanggapi pernyataan-pernyataan itu agar tidak memperkeruh perselisihan di antara sekutu," kata Tajani, dikutip dari Reuters.

Ia menegaskan Italia tetap menganggap AS sebagai mitra strategis bagi Italia maupun Eropa.

Pernyataan itu muncul setelah Trump mengunggah foto Meloni di Truth Social dengan tulisan "Perlu Perintah Penahanan" (restraining order needed).

PM Jepang Shigeru Ishiba, PM Italia Giorgia Meloni, Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Kanada Mark Carney, Presiden AS Donald Trump, PM Inggris Keir Starmer, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di KTT G7 di Kananaskis, Alberta, Kanada, Senin (16/6). Foto: Suzanne Plunkett/ REUTERS

Sindiran tersebut memperpanjang ketegangan yang bermula bulan lalu, ketika Meloni menuduh Trump mengarang cerita setelah mengklaim ia "memohon" berfoto dengannya saat KTT G7 di Prancis.

Meloni sebelumnya dikenal dekat dengan Trump dan menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang menghadiri pelantikannya pada 2025.

Namun hubungan keduanya mulai merenggang setelah Meloni mengkritik Trump karena menyerang Paus Leo terkait konflik Iran. Trump kemudian membalas dengan menuduh Meloni tidak memiliki keberanian.

Media Italia Il Foglio ikut menyindir Trump dengan memuat foto dirinya bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di halaman depan disertai tulisan yang sama, "Perlu Perintah Penahanan".