Rayakan 36 Tahun Persatuan, Jerman Tegaskan Komitmen Investasi di Indonesia

Jerman menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia, terutama di sektor transisi energi, teknologi tinggi, dan infrastruktur, saat merayakan Hari Persatuan Jerman ke-36 di Jakarta, Jumat (2/10).
Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste mengatakan 2026 menjadi tahun yang penting bagi hubungan kedua negara.
Hal itu diperkuat setelah kunjungan kenegaraan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Indonesia pada Juni dan kunjungan Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan pada Agustus lalu.
“Kami ingin melakukan lebih banyak lagi di masa depan. Jerman siap berinvestasi dalam transisi energi Indonesia dan jaringan transportasinya,” kata Beste kepada awak media di sela-sela acara.
Menurut Beste, Jerman juga ingin memperluas kerja sama pendidikan dan ketenagakerjaan, termasuk mendorong lebih banyak warga Indonesia untuk belajar dan bekerja di Jerman.
Kerja Sama Energi hingga Teknologi Tinggi
Beste mengatakan kerja sama Indonesia-Jerman telah menghasilkan sejumlah proyek konkret, mulai dari teknologi persinyalan LRT, energi surya, pembangunan jaringan listrik di Sulawesi, hingga proyek transisi energi melalui Just Energy Transition Partnership (JETP).
Menurutnya, Jerman juga melihat peluang besar untuk memperluas investasi teknologi tinggi di Indonesia, termasuk di sektor energi dan transportasi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir sebagai perwakilan Pemerintah RI (guest of honor) mengatakan Jerman merupakan salah satu mitra ekonomi penting bagi Indonesia.
Perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar USD 6,11 miliar atau sekitar Rp 109,3 triliun pada 2025, sementara investasi kumulatif sejak 2021 mencapai sekitar USD1,23 miliar atau setara Rp 22 triliun.
“Jerman sangat berguna bagi Indonesia, terutama di bidang teknologi, kemudian juga di bidang energi terbarukan, kendaraan listrik dan baterai. Kami juga berharap kerja sama di bidang semikonduktor, infrastruktur digital dan pembiayaan dapat terus dilanjutkan,” kata Airlangga.
Airlangga menambahkan, lebih dari 250 perusahaan multinasional Jerman telah beroperasi di Indonesia. Kedua negara juga terus mendorong kerja sama melalui JETP dan Joint Economic Commission.
CEPA Bikin Mobil Jerman Lebih Kompetitif
Airlangga juga menyoroti penyelesaian Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang diharapkan dapat segera diratifikasi sehingga mulai diterapkan pada awal tahun depan.
“Dengan CEPA, tarif akan mendekati nol,” kata Airlangga ketika ditanya mengenai tarif mobil Jerman.
Beste menyambut peluang tersebut dan berharap kesepakatan itu membuat produk Jerman semakin kompetitif di pasar Indonesia.
“Kami ingin lebih banyak mobil Jerman berada di jalan-jalan Indonesia dan Jakarta. Mobil-mobil itu sangat modern, berteknologi tinggi, dan tahan lama,” ujar Beste.
Di Tengah Dinamika Politik Jerman
Peringatan 36 tahun reunifikasi Jerman juga berlangsung di tengah menguatnya Alternative für Deutschland (AfD), partai sayap kanan yang mencatat kemenangan besar dalam pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt.
Ditanya soal persatuan Jerman di tengah dinamika politik tersebut, Beste mengatakan fondasi demokrasi Jerman tetap kuat dan perbedaan politik diselesaikan melalui pemilu.
“Sebagai demokrasi yang kuat, kami menghadapi setiap tantangan, siapa pun yang memiliki pandangan berbeda, dan kami melakukannya di kotak suara,” kata Beste.
Menurutnya, Indonesia dan Jerman memiliki kesamaan dalam menghadapi keberagaman.
“Kita menemukan solusi secara damai, bukan melalui militer,” tandasnya.
