Respons PBB-Uni Eropa Soal Kesepakatan Damai AS-Iran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi AS-Israel vs Iran Foto: Dok. ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AS-Israel vs Iran Foto: Dok. ChatGPT

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diumumkan pada Minggu (14/6) mendapat sambutan positif dari berbagai negara dan organisasi internasional.

Sejumlah pihak berharap perjanjian tersebut dapat mengakhiri konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama lebih dari tiga bulan dan membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang.

Dilansir AFP, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bertindak sebagai mediator dan mengumumkan AS-Iran sepakat berdamai.

Semua operasi militer yang digelar, termasuk di Lebanon akan segera dihentikan.

Perjanjian final akan ditandatangani di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni mendatang. Rencananya, penandatangan akan dihadiri langsung oleh Wapres AS, JD Vance.

China: Hormuz Harus Segera Dibuka

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Lin Jian, mengatakan Beijing menyambut tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

"China menyambut AS dan Iran yang telah mencapai kesepakatan atas memorandum tahap awal tersebut," kata Lin, dilansir Reuters.

Ia juga berharap Selat Hormuz segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas rantai pasok dan perdagangan global.

UEA Serukan Implementasi Penuh Kesepakatan

Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan implementasi penuh kesepakatan AS-Iran, termasuk penghentian segera permusuhan dan memastikan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) UEA menilai dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional penting untuk menjaga stabilitas kawasan.

UEA merupakan negara Teluk yang turut merasakan dampak perang, termasuk serangan Iran terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur energi yang terkait dengan UEA selama konflik berlangsung.

Turki Peringatkan Potensi Provokasi

Kemlu Turki menyebut kesepakatan AS-Iran sebagai perkembangan yang dapat membantu meredakan ketegangan regional.

Reuters melaporkan Menlu Turki Hakan Fidan berbicara via telepon dengan Menlu Iran Abbas Araghchi.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan Foto: KARIM JAAFAR/AFP

Fidan mengharapkan agar perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran menghasilkan perkembangan positif setelah tercapainya kesepakatan penghentian perang.

Ia juga memperingatkan adanya potensi "provokasi" yang dapat menggagalkan implementasi perjanjian tersebut.

Uni Eropa Soroti Situasi Lebanon dan Nuklir Iran

Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen menyambut kesepakatan AS-Iran, namun mengingatkan bahwa perdamaian di Timur Tengah belum akan terwujud selama konflik di Lebanon masih berlangsung.

"Perdamaian di Timur Tengah tidak mungkin terwujud selama Lebanon masih terus diserang," kata von der Leyen, dikutip Reuters.

Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen. Foto: REUTERS/Francois Lenoir

Ia kembali menyerukan semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon serta menerapkan gencatan senjata yang nyata.

Sementara itu, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan siap mencabut sanksi terhadap Iran jika Teheran mengambil langkah yang jelas dan dapat diverifikasi terkait program nuklirnya.

PBB: Langkah Penting Menuju Perdamaian

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting menuju penyelesaian konflik di Timur Tengah.

"Ini merupakan langkah penting menuju penyelesaian perang di Timur Tengah," kata Guterres dalam pernyataannya.

Sementara Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, turut meminta seluruh pihak melaksanakan komitmen yang telah disepakati dan menghindari tindakan yang dapat memicu kembali eskalasi konflik.

"Sekarang saatnya menerapkan kesepakatan ini dengan itikad baik dan memastikan perlindungan warga sipil," ujarnya.