Takut Dipecat Karena Hamil, WNI di Jepang Sembunyikan Jenazah Bayinya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi. Foto: banjongseal324SS/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi. Foto: banjongseal324SS/Shutterstock

Seorang pekerja migran asal Indonesia, Lestari Tripita (21) didakwa di Jepang setelah diduga menyembunyikan jenazah bayinya di rumah yang ia tinggali di Prefektur Saitama.

Menurut laporan media Jepang, The Mainichi, Lestari ditangkap pada 22 Mei dan didakwa pada 12 Juni atas dugaan menelantarkan jenazah.

Kepada penyidik, perempuan asal Jawa Timur itu mengaku menyembunyikan jasad bayi yang baru dilahirkannya tersebut.

"Saya menyembunyikan jenazah bayi itu," ujar Lestari saat diperiksa polisi dengan bantuan penerjemah, menurut laporan media Jepang.

Lestari diketahui datang ke Jepang pada Oktober 2025 dengan status visa pekerja berketerampilan khusus (Specified Skilled Worker) dan bekerja di perusahaan pengolahan makanan di Saitama.

Berdasarkan penyelidikan, jenazah bayi perempuan ditemukan dalam kantong plastik yang disimpan di dalam kardus di sudut rumahnya.

Polisi menduga bayi tersebut telah disembunyikan sejak Desember 2025 dan kondisinya sudah mengalami pembusukan berat saat ditemukan.

Ilustrasi apartemen di Jepang. Foto: shigemi okano/Shutterstock

Menurut sumber penyidik, Lestari mengetahui dirinya hamil sebelum berangkat ke Jepang, namun tidak pernah berkonsultasi dengan siapa pun mengenai kehamilan maupun proses persalinannya.

Kepada penyidik, ia mengaku khawatir kehilangan pekerjaan apabila perusahaan mengetahui dirinya hamil.

"Saya pikir jika perusahaan mengetahui kehamilan saya, saya akan dipecat," katanya.

Padahal, hukum ketenagakerjaan Jepang melarang perusahaan memecat pekerja karena hamil atau melahirkan.

Aktivis serikat pekerja di Jepang, Shiro Sasaki, menilai tragedi itu mungkin dapat dicegah apabila pekerja migran lebih memahami hak-haknya terkait kehamilan dan persalinan.

"Saya pikir tragedi ini tidak akan terjadi jika ia mengetahui sedikit saja mengenai sistem yang ada," ujarnya.