Konten dari Pengguna

Dari Rwanda ke Gaza: Ujian Zaman atas Kemanusiaan

Aulia Firmansyah

Aulia Firmansyah

HR Practitioner & Konsultan, pengalaman bekerja di Industri Manufaktur, Memberikan praktisi sharing di institusi pendidikan. Lulusan S1 Hukum UNPAD dan Lulusan S2 Hukum Bisnis UI. Berpengalaman di Litigasi PPHI dan Memiliki Sertifikasi BNSP MSDM

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah warga berjalan di dekat bangunan yang hancur akibat gencatan senjata Hamas-Israel di Jabalia, Jalur Gaza, Selasa (21/1/2025). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga berjalan di dekat bangunan yang hancur akibat gencatan senjata Hamas-Israel di Jabalia, Jalur Gaza, Selasa (21/1/2025). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS

Beberapa hari sebelum darah membanjiri Kigali, Rwanda, udara masih dipenuhi suara radio yang terdengar biasa saja. Humor kasar tentang “inyenzi”—kecoak—diputar berulang, ditertawakan seolah gurauan politik. Namun kata itu menyimpan rahasia mengerikan: ia adalah kode untuk membunuh.

Malam pun tiba, dan siaran radio yang kemarin menghibur berubah menjadi aba-aba pembantaian. Dalam seratus hari, sekitar 800 ribu orang Tutsi dihabisi dengan parang dan senjata sederhana, banyak di antaranya dibunuh oleh tetangga sendiri. Dunia menyaksikan, nyaris tanpa bergerak. Malam itu kelak dikenang sebagai salah satu genosida paling cepat dan paling brutal abad ke-20.

Polanya selalu berulang. Nazi Jerman menggambarkan Yahudi sebagai “vermin” (hama), mempersiapkan psikologi massa menuju Holocaust. Di Rwanda, istilah “inyenzi” jadi sihir retorika yang mengubah manusia menjadi kecoak. Di Bosnia, propaganda menyebut Muslim Bosnia sebagai “ancaman eksistensial” yang harus dihapus, hingga Srebrenica pada Juli 1995, lebih dari 8.000 laki-laki dan anak laki-laki dieksekusi di hadapan pasukan penjaga perdamaian internasional. Dan kini, di Gaza, kita menyaksikan pola yang sama dengan wajah yang lebih modern.

Bahasa kembali dipelintir. Anak-anak yang terbunuh disebut “kolateral”. Rumah sakit yang runtuh dilabeli “target sah”. Bahkan istilah kuno pun dihidupkan. Pada Oktober 2023, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutip Kitab 1 Samuel 15:3: “Ingatlah apa yang Amalek lakukan kepadamu… pergilah dan hancurkan Amalek, jangan biarkan seorang pun hidup, baik laki-laki, perempuan, bayi, maupun yang menyusu.”

Kata Amalek (עֲמָלֵק)—musuh purba dalam kitab Ibrani—dipakai untuk melabeli warga Gaza sebagai musuh eksistensial. Menteri Pertahanan Yoav Gallant menyebut mereka “human animals”. Sementara istilah “goyim” (גּוֹיִם), yang secara asal berarti “bangsa-bangsa” dalam bahasa Ibrani, sering dipakai secara peyoratif dalam retorika ekstremis untuk menandai yang lain sebagai inferior. Kata-kata ini, ketika keluar dari mulut pemimpin, bukan lagi metafora, melainkan legitimasi kekerasan.

Dampaknya bukan sekadar retorika. Data PBB, WHO, WFP, dan Save the Children mencatat luka yang menganga: lebih dari 84.000 orang tewas di Gaza sejak Oktober 2023, termasuk lebih dari 20.000 anak. WHO memverifikasi lebih dari 668 serangan terhadap fasilitas kesehatan. PBB memperkirakan US$6,6 miliar dibutuhkan untuk menolong 3,3 juta orang di Gaza dan Tepi Barat. WFP menargetkan minimal 150 truk bantuan per hari, angka yang sering kali tak tercapai karena blokade. Semua ini kita saksikan bukan dari arsip sejarah, melainkan secara langsung, dalam resolusi 4K, di layar ponsel kita setiap hari.

Pertanyaannya: bila darah, tangis, dan reruntuhan yang terpampang jelas itu dianggap biasa, apa yang tersisa dari kemanusiaan? Empati yang mestinya jadi inti manusia perlahan tumpul. Dehumanisasi yang dulu kita kenal lewat lembar sejarah kini hadir di depan mata. Dan jika kita membiarkannya berlalu, maka yang hilang bukan hanya korban Gaza, melainkan juga nurani kita sendiri.

Namun tragedi tidak boleh jadi takdir. Jalan keluar tidak tunggal, tetapi harus lahir dari kombinasi intervensi global dan gerakan masyarakat sipil. Di level internasional, dibutuhkan keberanian politik, tekanan ekonomi, bahkan intervensi militer yang tegas untuk menghentikan kebrutalan. Namun masyarakat sipil juga punya peran yang tak kalah penting.

Ada tiga langkah konkret yang bisa dilakukan:

Pertama, mendukung gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions). Boikot konsumen, tekanan terhadap perusahaan, dan kampanye akademik bisa melemahkan legitimasi ekonomi kolonialisasi.

Kedua, menopang bantuan kemanusiaan. Setiap donasi, sekecil apa pun, ikut menutup kebutuhan miliaran dolar untuk pangan, obat, dan tempat tinggal yang layak.

Ketiga, menggunakan semua platform suara: media sosial, podcast, blog, artikel opini, forum komunitas, ruang kelas, mimbar ibadah, hingga kegiatan seni dan budaya. Suara yang konsisten, persisten, dan resilien mampu menembus propaganda dan menggugah solidaritas.

Sejarah menunjukkan, genosida lahir bukan dari ledakan mendadak, tetapi dari bahasa yang dinormalisasi, stigma yang dipelihara, dan dunia yang memilih diam. Dari Rwanda ke Bosnia, dari Kongo hingga Nanking, pola itu jelas. Dan kini, di Gaza, kita dipaksa bercermin. Gaza adalah ujian zaman kita. Jika kita diam, genosida akan diwariskan sebagai bahasa baru peradaban. Tetapi bila kita bersuara dan bertindak, maka lahirlah kesadaran kolektif lintas generasi yang menjaga agar kemanusiaan tetap hidup dan berdiri tegak.