Konten dari Pengguna

Suara Perempuan, Luka, dan Keteguhan untuk Terus Bangkit

Aulia Hasanah

Aulia Hasanah

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang. Pencinta buku, musik, dan tulisan yang jujur.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada puisi yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan. Still I Rise karya Maya Angelou adalah salah satunya. Puisi ini lahir dari pengalaman hidup yang penuh luka, diskriminasi, dan penindasan. Namun alih-alih menjadi ratapan, puisi ini justru menjelma sebagai suara kekuatan

Ilustrasi: Dibuat dengan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat dengan Gemini AI

suara seorang perempuan yang menolak untuk kalah.

Sejak baris pertama, Angelou sudah menunjukkan ketegasannya. Ia berbicara kepada “tangan tak terlihat” yang mencoba merendahkan dan membungkam. Namun dengan penuh keberanian, ia menyatakan bahwa apa pun yang dilakukan untuk menjatuhkannya, ia akan tetap bangkit. Bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berkali-kali.

Yang membuat puisi ini begitu kuat adalah perpaduan antara kemarahan, kebanggaan, dan harapan. Angelou tidak menutupi luka-lukanya. Ia mengakui rasa sakit yang pernah dialaminya sebagai perempuan kulit hitam di Amerika. Tetapi bagi Angelou, luka bukan akhir ia hanya bagian dari perjalanan menuju kebebasan.

Bahasa yang digunakan pun sederhana, namun penuh makna. Pengulangan frasa “I rise” bukan hanya sebagai gaya penulisan, tetapi juga sebagai mantra. Seolah-olah setiap pengulangan adalah penguatan diri: tak peduli seberapa keras dunia mencoba menekan, ia tetap berdiri tegak.

Puisi ini juga berbicara tentang harga diri. Angelou menggambarkan dirinya dengan metafora yang indah seperti bulan, matahari, dan lautan yang tak pernah berhenti bergerak. Semua gambaran itu menunjukkan bahwa keberadaannya tidak bisa dihapus begitu saja. Ia ada, ia hidup, dan ia berhak merasa berharga.

Namun Still I Rise bukan hanya tentang dirinya sendiri. Lebih dari itu, puisi ini adalah suara bagi siapa pun yang pernah diremehkan, dipandang rendah, atau dipaksa untuk diam. Entah karena ras, gender, kelas sosial, atau pengalaman hidup lainnya. Pesannya jelas: kita punya hak untuk bangkit dan menentukan hidup kita sendiri.

Membaca puisi ini, rasanya seperti sedang diajak berdiri bersama seseorang yang sangat yakin pada dirinya. Bukan karena ia tidak pernah hancur, tetapi justru karena ia sudah berkali-kali jatuh namun tetap memilih untuk berjalan lagi. Ada kehangatan, keberanian, dan secercah keanggunan di dalam setiap barisnya.

Bagi saya, Still I Rise adalah puisi tentang martabat manusia. Angelou mengingatkan bahwa harga diri tidak boleh ditentukan oleh orang lain. Bahwa masa lalu yang pahit tidak harus mengurung kita. Bahwa kita selalu punya pilihan untuk bangkit, bahkan ketika dunia terasa tidak adil.

Di tengah kehidupan yang penuh tekanan dan perbandingan, puisi ini terasa sangat relevan. Kita mungkin tidak mengalami hal yang sama seperti Maya Angelou, tetapi kita semua pernah merasa diremehkan atau diragukan. Dan pada saat-saat seperti itu, bisikan “I rise” terasa begitu menenangkan.

Pada akhirnya, Still I Rise bukan sekadar puisi. Ia adalah pernyataan sikap. Sebuah pengingat bahwa keberanian, harapan, dan kepercayaan pada diri sendiri bisa menjadi kekuatan yang luar biasa. Dan selama kita masih mau bangkit kita tidak pernah benar-benar kalah.

Terima kasih.