Konten dari Pengguna

Sunyi, Luka, dan Rasa Kemanusiaan yang Perlahan Memudar

Aulia Hasanah

Aulia Hasanah

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang. Pencinta buku, musik, dan tulisan yang jujur.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pemandangan senja sebagai latar refleksi. Dokumen pribadi📸
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemandangan senja sebagai latar refleksi. Dokumen pribadi📸

Ada film yang dibuat untuk menghibur, ada pula film yang mengajak kita berhenti sejenak dan merenung. Straw (2025) termasuk kategori kedua. Film ini bukan tontonan yang ramai dialog atau adegan dramatis berlebihan. Sebaliknya, Straw berjalan pelan, sunyi, dan penuh ruang kosong. Namun justru di dalam keheningan itulah, film ini terasa sangat manusiawi.

Straw bercerita tentang kehidupan seseorang yang tampak biasa saja dari luar, tetapi ternyata menyimpan begitu banyak luka batin di dalam dirinya. Ia hidup di tengah dunia yang bergerak cepat, namun justru semakin menjauhkan manusia dari rasa empati. Hari demi hari dilaluinya seperti rutinitas tanpa makna, hingga perlahan-lahan ia mulai kehilangan rasa: rasa peduli, rasa hangat, bahkan mungkin rasa terhadap dirinya sendiri.

Yang menarik, film ini tidak selalu menjelaskan segalanya secara gamblang. Banyak adegan dibiarkan berjalan lama, seolah penonton diminta ikut duduk diam bersama tokohnya. Dari keheningan itu, kita justru bisa melihat betapa sepi dan rapuhnya manusia ketika rasa kemanusiaan mulai memudar.

Visual film ini sederhana namun kuat. Warna-warna yang cenderung dingin memberi kesan jarak emosional, seolah dunia di sekitar tokoh utama terasa asing. Musiknya pun tidak berlebihan. Banyak momen yang hanya diisi dengan suara langkah, napas, atau bunyi latar yang sepi. Semua unsur ini bekerja sama membangun suasana batin yang dalam.

Namun Straw bukan hanya tentang kehilangan. Di balik kesuraman cerita, film ini seperti mengajak kita bertanya: apa artinya menjadi manusia? Apakah cukup hanya hidup, bekerja, dan menjalani rutinitas? Atau justru rasa empati, kepedulian, dan hubungan emosional dengan sesama yang membuat kita benar-benar “hidup”?

Bagi saya, kekuatan terbesar film ini adalah keberaniannya menunjukkan kenyataan yang sering tidak kita sadari. Banyak orang mungkin pernah merasa hampa, lelah, atau terasing di tengah keramaian. Straw memberi ruang bagi perasaan-perasaan itu untuk diakui, bukan dihindari.

Film ini juga mengingatkan bahwa rasa kemanusiaan tidak hilang begitu saja. Ia memudar perlahan, sering kali dimulai dari hal kecil: saling cuek, enggan mendengar, terlalu sibuk dengan diri sendiri. Dan ketika rasa itu semakin jauh, dunia terasa dingin dan sunyi.

Pada akhirnya, Straw adalah film yang pelan namun membekas. Tidak semua orang mungkin langsung cocok dengan gaya penceritaannya. Tapi bagi penonton yang mau membuka diri, film ini bisa menjadi cermin tentang hubungan kita dengan diri sendiri dan dengan sesama.

Straw (2025) mengajarkan bahwa di tengah hidup yang serba cepat, ada baiknya kita berhenti sejenak. Menyapa orang lain. Mendengar. Merasakan. Karena mungkin, di situlah makna kemanusiaan tetap hidup.