Inklusi yang Belum Siap: Hadir di Kelas, Sendiri saat Istirahat

saya merupakan seorang mahasiswi aktif Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar disebuah PTN di Kalimantan Timur.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aulia Intn tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Aulia Intan Ramadani (NIM. 2405116103)
Bel sekolah berbunyi, artinya tanda waktu istirahat telah dimulai. Anak-anak berlari ke sana kemari dengan segala bentuk permainannya masing-masing. Tetapi tidak dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), ia tetap duduk di tepi lapangan, memandangi teman-temannya bermain. Ia hadir di sekolah, tetapi belum hadir dalam pergaulan.

Pemandangan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan inklusif tidak cukup diukur dari duduknya ABK di kelas yang sama dengan anak-anak lain. Inklusi juga menyangkut interaksi sosial di antara mereka. Selama ABK belum benar-benar menjadi bagian dari pergaulan, inklusi kita belum siap.
Secara aturan, arah kebijakan kita sudah jelas. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 membuka jalan bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk belajar bersama peserta didik lainnya di sekolah reguler. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menegaskan hak penyandang disabilitas atas pendidikan yang layak, sedangkan Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 mengatur akomodasi yang Layak bagi peserta didik penyandang disabilitas di PAUD formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, serta pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD). Pintu sekolah sudah dibuka. Pertanyaannya, apakah di dalamnya kita sudah menyiapkan hal yang paling menentukan, yaitu orang-orang yang menjaga agar pintu itu bermakna?
Jawabannya mulai tampak ketika saya turun langsung ke lapangan. Dalam wawancara saya dengan beberapa murid di salah satu SD swasta di Samarinda, saya menemukan hal yang tidak saya duga: teman-teman sebaya ternyata tidak menolak. “Kami pernah ajak dia bermain, tapi dia mudah capek karena kami biasanya main bola di lapangan,” kata salah satu murid. Ketika mereka mencoba permainan yang lebih santai, mereka sendiri cepat bosan. Saat ke kantin, mereka selalu menawarkan untuk membelikan sesuatu karena jaraknya cukup jauh. Mereka peduli, tetapi tidak menemukan permainan yang bisa dinikmati bersama.
Temuan ini mengubah cara saya memandang permasalahan pergaulan ABK dengan anak lain di sekolah reguler. Anak yang menyendiri saat istirahat belum tentu ditolak. Ia sering kali tersisih karena tidak ada permainan yang ramah bagi semua. Yang tampak dari luar adalah kepedulian dalam bentuk membantu, misalnya membelikan jajanan, padahal yang dibutuhkan adalah dilibatkan. Anak-anak kecil tidak dapat diharapkan untuk menemukan sendiri caranya. Mereka butuh orang dewasa yang menunjukkan jalannya.
Di sinilah akar masalahnya, menurut saya adalah karena kesiapan sekolah. Banyak sekolah belum memiliki Guru Pendamping Khusus, sarana dan prasarana yang mendukung, maupun pembekalan bagi guru tentang pendidikan inklusif. Dalam kondisi itu, guru kelas menanggung beban terlalu banyak. Hal yang tampak kecil, seperti anak yang menyendiri saat istirahat, mudah terlewat. Ini bukan semata-mata kesalahan guru atau teman sebaya, melainkan tanda bahwa sistem belum menyiapkan mereka.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, pemerintah daerah dan dinas pendidikan perlu memastikan sekolah penyelenggara inklusi memiliki Guru Pendamping Khusus, serta menjadikan pelatihan pendidikan inklusif program rutin yang berkelanjutan. Kedua, kampus keguruan perlu memperkuat pembekalan calon guru, terutama keterampilan membangun iklim kelas yang menerima. Ketiga, sekolah dapat memulai dari langkah sederhana: merancang permainan saat istirahat yang bisa diikuti semua anak, membentuk teman sebaya pendamping, dan membiasakan nilai saling menghargai sejak kelas awal.
Anak-anak yang saya temui sebenarnya mau mengajak. Tugas kita, orang dewasa, adalah memastikan mereka tahu caranya dan memiliki ruang untuk melakukannya. Selama ABK masih duduk sendirian di tepi lapangan saat teman-temannya bermain, kita harus jujur mengakui bahwa inklusi kita belum siap.
