Konten dari Pengguna

Panggung Tidak Meminta Kamu Sempurna, Cuma Minta Kamu Hadir

Aulia Nashuwa

Aulia Nashuwa

mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Nashuwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

eye-off
Foto ini mungkin mengganggumu, apakah tetap ingin melihat?
Berbicara bersama audience kegiatan PKM (Sumber; Pribadi).
Berbicara bersama audience kegiatan PKM (Sumber; Pribadi).

Ada satu momen yang hampir semua orang kenal. Nama kita dipanggil, kursi terasa makin lengket, dan tiba-tiba telapak tangan berubah jadi keran bocor. Jantung berdegup seperti drum band anak SD yang latihan di lapangan. Kita tahu materinya, kita sudah baca berulang kali, tapi begitu berdiri di depan banyak pasang mata, kalimat yang tadi rapi mendadak kabur entah ke mana. Perasaan itu memalukan, tapi juga sangat umum. Jadi kalau kamu pernah mengalaminya, selamat, kamu manusia biasa.

Masalahnya, banyak dari kita menganggap public speaking sebagai bakat bawaan. Ada orang yang katanya "memang lahir untuk bicara", dan sisanya cukup jadi penonton. Anggapan ini menurut saya keliru dan agak merugikan. Berbicara di depan umum lebih mirip keterampilan seperti naik motor atau memasak. Awalnya kaku, sering salah, kadang gosong, tapi makin sering dicoba makin luwes. Orang yang tampak santai di atas panggung biasanya sudah lebih dulu gugup ratusan kali di tempat yang tidak kita lihat.

Buat mahasiswa, keterampilan ini bukan pajangan. Presentasi kelompok, sidang proposal, wawancara magang, sampai rapat organisasi, semuanya menuntut kita menyampaikan gagasan dengan jelas. Ide sebagus apa pun akan tenggelam kalau cara menyampaikannya berantakan. Sebaliknya, gagasan yang biasa saja pun bisa terdengar meyakinkan bila disampaikan dengan tenang dan runtut. Dunia kerja nanti tidak akan sabar menunggu kita jadi sempurna dulu, sehingga lebih baik mulai melatihnya dari sekarang.

Lalu bagaimana caranya memulai. Mulailah dari hal yang kecil dan agak membosankan, yaitu persiapan. Kenali inti pesan yang mau disampaikan, cukup satu atau dua gagasan utama saja, jangan semua isi buku dituang sekaligus. Latihan dengan suara keras di depan cermin memang terasa konyol, tapi dari situ kita tahu bagian mana yang tersendat. Kalau berani, rekam diri sendiri dan tonton ulang. Awalnya mungkin bikin ingin menutup laptop rapat-rapat, tapi rekaman itu guru yang jujur dan tidak pernah baper.

Satu hal lagi yang sering dilupakan adalah soal audiens. Kita cenderung mengira semua orang di ruangan sedang menghakimi setiap kata yang keluar. Kenyataannya, sebagian besar dari mereka sibuk dengan urusannya sendiri, entah giliran bicara berikutnya atau jatah makan siang. Gilovich, Medvec, dan Savitsky (2000) menyebut kecenderungan ini sebagai spotlight effect, yaitu bias yang membuat kita melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan penampilan dan tindakan kita. Artinya, salah ucap satu kata tidak akan dikenang seumur hidup, kecuali oleh kita sendiri yang terlalu keras pada diri sendiri.

Pada akhirnya, panggung tidak pernah benar-benar menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta kita hadir, jujur pada pesan yang dibawa, dan mau belajar dari setiap kesempatan. Gugup boleh ikut naik ke atas sana, asal tidak dibiarkan memegang kemudi. Jadi kalau minggu depan ada kesempatan bicara, ambil saja. Suaramu mungkin bergetar sedikit, tapi dari getar itulah biasanya keberanian mulai belajar berdiri tegak.