Konten dari Pengguna

Magang Kasir di PT Aeon Indonesia: Pengalaman Mahasiswa Akuntansi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengalaman magang kasir di PT Aeon Indonesia selama tiga bulan mengajarkan mahasiswa akuntansi tentang ketelitian kas, tanggung jawab transaksi, dan kerja tim di ritel.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Dokumentasi pribadi penulis.

Sebelum magang, saya membayangkan dunia akuntansi identik dengan laporan, jurnal, dan angka di lembar kerja. Posisi kasir terlihat sederhana: memindai barang, menerima pembayaran, lalu selesai. Anggapan itu berubah setelah saya menjalani magang kasir selama tiga bulan, dari 21 Juli sampai 21 Oktober 2024, di divisi Customer Care Management PT Aeon Indonesia Store Mall Ciputra Tangerang. Dari Teori ke Meja Kasir

Di kelas, kas dan transaksi dipelajari lewat kasus dan soal latihan. Di meja kasir, uang yang dipegang adalah uang sungguhan. Setiap transaksi pun harus tercatat dengan benar. Sebelum bertugas sendiri, saya mengikuti pelatihan awal selama tiga hari. Materi diberikan lebih dulu, kemudian saya mendampingi kasir senior secara langsung.

Hari kerja dimulai dengan pengarahan singkat dan pembagian pos. Jam kerja saya tidak tetap sehingga saya perlu beradaptasi dengan pergantian sif dan jadwal yang berubah-ubah. Dari situ saya belajar bahwa disiplin waktu dan stamina sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Selisih Kecil, Tanggung Jawab Besar

Pelajaran terbesar datang dari urusan yang tampak kecil. Selisih kas beberapa ratus rupiah pun harus dicatat dan dipertanggungjawabkan. Salah pindai atau harga di label rak yang tidak sesuai tidak bisa dibiarkan. Semuanya harus dikonfirmasi, dikoreksi bersama penyelia, lalu diselesaikan dengan pelanggan secara sopan.

Hal ini membuat saya memahami alasan di balik prinsip kehati-hatian dalam akuntansi. Uang dihitung berulang kali, nominal dicocokkan dengan sistem, dan keaslian uang diperiksa sebelum masuk laci kas. Pengecekan yang berlapis ini bukan tanda ketidakpercayaan. Prosedur itulah yang menjaga kas tetap akurat dan melindungi kasir sendiri. Dari Meja Kasir sampai Penyetoran

Pekerjaan kasir tidak berakhir ketika pelanggan terakhir pergi. Pada akhir sif, modal dikembalikan, kas dicocokkan, dan dokumen diisi lengkap. Setelah itu dilakukan rekapitulasi dan penyelesaian transaksi nontunai sebelum semuanya diserahkan. Proses ini mirip dengan konsep rekonsiliasi yang saya pelajari di perkuliahan, yaitu mencocokkan data satu dengan yang lain sampai jumlahnya sesuai. Di balik semua itu ada kerja sama tim. Pembagian pos, waktu istirahat yang saling digantikan, dan bantuan dari senior ketika saya menemui kendala membuat pekerjaan berjalan lancar. Satu kasir yang lalai bisa memengaruhi hasil seluruh tim. Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Kerja Menurut saya, magang bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi syarat perkuliahan. Magang menunjukkan bagaimana ilmu di kelas dipakai dalam pekerjaan sehari-hari, termasuk di posisi yang sering dianggap sederhana. Selain ketelitian, saya juga belajar melayani pelanggan dengan sabar, berkomunikasi dengan jelas, dan bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri. Bagi mahasiswa akuntansi, pengalaman ini mengubah cara saya memandang angka. Di balik setiap nominal ada transaksi, ada orang yang melayani, dan ada prosedur yang menjaganya tetap benar. Bekal inilah yang ingin saya bawa ketika memasuki dunia kerja nanti.