Konten dari Pengguna

Cinta Itu Ditangkap Bukan Dijaring

Aulia Rahmat

Aulia Rahmat

i'm nobody

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Rahmat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi surat cinta (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi surat cinta (Foto: Thinkstock)

"Bro, Eha mau pinjem kartu kredit gua buat beli mirrorless. Kasih nggak ya? Masalahnya limit gua tinggal dikit," curhat Dipto kepada saya. Ia khawatir sang pujaan hati berpaling hanya gara-gara tidak dipinjami kartu kredit.

Padahal Eha bukanlah siapa-siapa Dipto. Ia adalah seorang gadis asal Bandung yang kebetulan bekerja satu divisi dengannya di sebuah perusahaan televisi nasional di bilangan Mega Kuningan, Jakarta. Seekor belibis rawa yang telah memikat hati Dipto hingga layuh.

Pria sebatang kara ini khawatir, perasaan yang sudah dibangunnya susah payah tiba-tiba hancur gara-gara persoalan kartu kredit.

Belum sempat saya menjawab, pikiran kadung terbang pada kawan lama. Onggo alias Crindil. Anak camat yang kisahnya penuh drama. Kawan saya satu sekolahan dari SD hingga SMA. Kami bersahabat baik ketika berkuliah di Jogja. Saya kuliah di UNY, sedangkan Crindil di UGM.

Saya mengenal Crindil pertama kali saat ayahnya bertugas di wilayah kami. Ia berdinas di sebuah kecamatan di ujung Kabupaten X, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berbeda dengan bocah-bocah kampung pada umumnya. Sejak kecil Crindil sudah terbiasa hidup enak. Ia adalah satu-satunya siswa di sekolah kami yang mengenakan sepatu Adidas Superstar asli, bukan tiruan. Sepatu pemberian ibunya yang pada tahun 2001 dibeli di Jogja dengan harga Rp 400 ribu.

Tak hanya kaya, Crindil juga seorang siswa cerdas dan tampan. Wali kelas kami menjulukinya 'Arjuno'. Dalam bahasa Jawa berarti sosok pria rupawan yang digandrungi banyak wanita.

"Onggo kae lho, wes bagus, sugih, wangi, anak camat pisan," ibu Jariyati, wali kelas kami menyanjungnya.

Pujian ibu Jar kepada Crindil merupakan antitesa bagi kami teman-teman sekelasnya. Sekumpulan anak dusun yang jauh dari ingar bingar peradaban. Bocah-bocah yang setiap berangkat sekolah sengaja tidak mengenakan alas kaki dengan alasan supaya awet dan tidak mudah rusak.

Begini Bu Jar biasa mendakwa kami: "Wes cilik, mrengkel, ireng ngentutan, kere pisan."

Waktu berlalu, kami lulus SD dan melanjutkan ke SMP. Saya dan Crindil diterima di sekolah yang sama. SMP Negeri 1 B, sekolah favorit yang berdiri tidak jauh dari kota kecamatan. Bagi kami, bisa diterima di sekolah itu merupakan satu pencapaian tersendiri

Atas prestasi tersebut, pak camat menghadiahi Crindil sebuah sepeda motor merek Honda Astrea Supra. Hadiah sangat mewah untuk ukuran masyarakat desa yang sebagian besar hidup dengan bertani.

Di masa SMP inilah Crindil mulai mengenal wanita. Alih-alih menunjang kegiatan pendidikan, sepeda motor menjadi senjata ampuh Crindil untuk memikat wanita. Seingat saya ia telah bergonta-ganti pacar sebanyak tujuh kali. Bukan main, mengingat usianya yang saat itu baru menginjak 12 tahun.

Tidak sembarangan Crindil memilih kekasih. Jika tidak cantik wanita tersebut haruslah pandai. Semua wanita bertekuk-lutut pada pesonanya. Crindil tumbuh tanpa penolakan, menjadi lelaki sejati yang utuh. Persis seperti arjuno, imajinasi saya serta para guru-guru SD kami dahulu kepadanya.

Lulus SMP, saya dan Crindil kembali diterima di sekolah yang sama, SMA Negeri X. Sama halnya dengan SMP N 1 B, sekolah ini merupakan favorit di Kota kami. Tanpa pikir panjang pak camat kembali membelikan Crindil sebuah sepeda motor, kali ini pilihan jatuh pada Honda CBR 125 cc.

Saat itu, hanya ada dua orang siswa disekolah yang menggunakan motor berfairing (motor sport). Crindil dengan CBR-nya dan Doni alias Gondes, anak Bupati X, dengan Kawasaki Ninja RR nya.

Beranjak SMA, Crindil masih mengencani Oni. Sosok gadis cantik dan pintar yang sudah dipacarinya sejak kelas tiga SMP. Ia adalah peraih nilai UAS tertinggi di sekolah kami. Nilai rata-rata Oni untuk tiga mata pelajaran (MTK, Bhs Inggris dan Bhs Indonesia) adalah 9,97. Nyaris sempurna.

Jika ditanya mirip siapa, tanpa ragu saya bilang Oni mirip Maudi Ayunda. Meski pintar, ia masa bodoh dengan perangai Crindil yang playboy. Ia tipikal wanita setia. Kadar cinta Oni pada Crindil setara dengan Francesco Toti kepada AS Roma. Tidak akan berpaling meski klub lain mengiming-imingi gaji tinggi.

Ini terbukti saat musibah menimpa Crindil. Saat duduk di kelas dua, ia tertangkap menggunakan Cimeng di sekolah. Kemudian ia di DO lalu dipindahkan ke SMA Z. Peristiwa ini berbuntut panjang: pak camat marah besar dan melucuti semua fasilitas yang diberikan kepada anak laki-laki satu-satunya. Termasuk Honda CBR 125 cc kebanggaan Crindil.

Pria tinggi kurus, berkulit gelap itu melewati masa-masa sulit, setiap hari ia diantar menggunakan vespa tua oleh ajudan ayahnya. Uang saku dikurangi dari Rp 20 ribu menjadi 4 ribu per hari. Tak ada lagi kemewahan dalam hidupnya. Ia kini hidup di tengah rasa nelangsa.

Kendati demikian, atas dasar cinta dan setia, Oni tetap melanjutkan hubungannya dengan Crindil. Meski mereka tidak lagi satu sekolah. Meski semua orang tahu Crindil adalah pengguna narkoba. Meski Crindil hanya diantar dengan vespa butut oleh ajudan ayahnya.

Menjelang ujian akhir, Saya dan Crindil -tanpa Oni- sama-sama les di Feutron, sebuah lembaga kursus yang berada di Kota X. Di situ, Crindil bertemu Dona. Tak dinyana, wanita tinggi semampai dan berambut ikal itu adalah saudara kembar Doni. Teman kami yang anak Bupati. Salah satu dari dua siswa di SMA X yang memiliki motor berfairing.

Bukan Crindil jika ia tidak menyukai Dona. Mereka saling bertemu sebanyak tiga kali dalam seminggu di tempat les. Mereka saling berkorespondensi menggunakan selular nokia 3315. Tak sulit baginya menangkap hati Dona. Dengan statusnya yang masih pacar Oni, mereka resmi menjalin kasih. Crindil memupus mitos lama: orang baik dapat orang baik. Dona yang tinggi semampai dan anak bupati itu berhasil ditaklukkannya. Dimenangkan cintanya.

Dari sekian lika-liku perjalanan cinta Crindil, saya kira kisahnya dengan Dona lah yang paling membuka mata hati semua orang, jika cinta tidak melulu soal materi, ketampanan, atau bahkan atribusi yang melekat di dalam diri.

Sama halnya dengan Oni, Dona juga tahu jika Crindil hanya diantar vespa butut oleh ajudan ayahnya setiap hari. Dona juga tidak menutup mata jika Crindil adalah kekasih Oni, wanita yang satu sekolahan dan satu kelas dengan Doni saudara kembarnya.

Sekadar membelikan Dona es teh saja, Crindil butuh menyisihkan uang jajannya yang sebesar Rp 4ribu itu. Layaknya membenci, Dona tidak butuh alasan untuk mencintai Crindil. Cinta tanpa syarat.

Suatu waktu saya pernah bertanya:

"Ndil kamu memang hebat. Seperti Arjuno yang pernah dikatakan oleh guru SD kita dahulu."

"Bos, yang namanya cinta itu ditangkap, bukan dijaring," Crindil menjawab singkat.

Dari sekian banyak wanita yang pernah dikencani Crindil, saya kira hanya Oni dan Dona yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Setia di tengah keprihatinan. Memiliki di tengah ketidakpunyaan.

Keduanya bukan belibis rawa. Oni adalah juara kelas, peraih nilai UAS tertinggi di sekolah kami. Sementara Dona, anak bupati yang rela mendown grade status sosialnya demi berpacaran dengan Crindil yang hanya anak camat.

Dua sosok wanita yang selama hidupnya (mungkin) tidak pernah bertanya,”limit kartu kredit lo berapa?”

Begitulah Dipto, cinta itu ditangkap bukan dijaring.