Konten dari Pengguna

Perusahaan Bisa Kehilangan Talenta Bukan karena Gaji

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Sapina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

GAMBAR DIHASILKAN OLEH AI
zoom-in-whitePerbesar
GAMBAR DIHASILKAN OLEH AI

Ketika membicarakan alasan seseorang bertahan di sebuah perusahaan, gaji sering menjadi hal pertama yang dipertimbangkan. Wajar, karena penghasilan merupakan bagian penting dari pekerjaan. Namun, semakin banyak pembahasan tentang dunia kerja menunjukkan bahwa keputusan karyawan untuk bertahan atau pergi tidak sesederhana soal angka di slip gaji.

Di tempat kerja, seseorang juga berhadapan dengan atasan, rekan kerja, beban pekerjaan, kesempatan berkembang, hingga bagaimana perusahaan menghargai kontribusinya. Jika beberapa hal tersebut tidak berjalan dengan baik, gaji yang cukup tinggi belum tentu mampu membuat seorang karyawan bertahan dalam jangka panjang.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika perusahaan harus mempertahankan talenta yang memiliki kemampuan dan pengalaman. Kehilangan karyawan bukan hanya berarti kehilangan satu orang tenaga kerja, tetapi juga dapat membuat perusahaan kehilangan pengalaman, pengetahuan, dan waktu yang sudah diinvestasikan untuk mengembangkan karyawan tersebut.

Gaji Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Jawaban

Mengatakan bahwa karyawan tidak peduli dengan gaji tentu tidak tepat. Gaji tetap menjadi faktor penting dalam keputusan seseorang ketika memilih maupun mempertahankan pekerjaan.

Namun, persoalannya muncul ketika perusahaan menganggap kenaikan gaji sebagai satu-satunya cara untuk membuat karyawan bertahan.

Sebuah penelitian terhadap karyawan Generasi Z di Indonesia yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa lingkungan kerja, work-life balance, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi berhubungan dengan lebih rendahnya keinginan untuk meninggalkan perusahaan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perlu melihat pengalaman kerja secara lebih luas. Karyawan tidak hanya menerima kompensasi, tetapi juga menjalani kehidupan sehari-hari di dalam organisasi.

Ketika Beban Kerja Membuat Karyawan Mulai Berpikir untuk Pergi

Bayangkan seorang karyawan mendapatkan gaji yang cukup baik, tetapi harus menghadapi beban kerja yang terus meningkat tanpa dukungan yang memadai.

Pada awalnya mungkin masih bisa dijalani. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, rasa lelah dapat berubah menjadi ketidakpuasan. Karyawan akhirnya mulai mempertimbangkan apakah penghasilan yang diterima masih sebanding dengan beban yang harus ditanggung.

Penelitian yang diterbitkan pada awal 2026 terhadap karyawan Gen Z di Indonesia juga menemukan bahwa kepuasan terhadap gaji dan beban kerja menjadi faktor yang berpengaruh terhadap turnover intention. Dalam penelitian tersebut, beban kerja yang lebih tinggi cenderung meningkatkan keinginan untuk meninggalkan perusahaan.

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya memberikan kompensasi. Beban kerja juga perlu dikelola secara masuk akal.

Karyawan Juga Ingin Merasa Berkembang

Selain persoalan beban kerja, kesempatan untuk berkembang juga menjadi bagian dari pengalaman seorang karyawan.

Tidak semua orang ingin terus berada di posisi yang sama tanpa mengetahui ke mana arah kariernya. Ada karyawan yang ingin mempelajari kemampuan baru, mengambil tanggung jawab berbeda, atau mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Namun, perkembangan karier tidak selalu harus berarti promosi jabatan.

Kesempatan mengikuti pelatihan, terlibat dalam proyek baru, mendapatkan mentor, atau dipercaya mengerjakan sesuatu yang lebih menantang juga dapat membuat karyawan merasa bahwa pekerjaannya memberikan perkembangan.

Jika seseorang merasa kemampuannya tidak berkembang sementara peluang di luar perusahaan semakin terbuka, keinginan untuk mencari tempat baru dapat muncul.

Atasan Bisa Menentukan Pengalaman Karyawan

Ada satu hal yang sering kali tidak terlihat dalam pembahasan mengenai retensi karyawan, yaitu hubungan dengan atasan.

Seorang karyawan mungkin menyukai pekerjaannya, tetapi merasa tidak nyaman dengan cara atasannya memimpin. Komunikasi yang buruk, kurangnya apresiasi, atau kebiasaan mengambil keputusan tanpa mendengarkan tim dapat membuat suasana kerja menjadi tidak sehat.

Sebaliknya, pemimpin yang mau mendengarkan, memberikan arahan dengan jelas, dan menghargai kontribusi karyawan dapat menciptakan hubungan kerja yang lebih positif.

Kajian yang dipublikasikan Universitas Airlangga pada Agustus 2026 juga menekankan bahwa dukungan dari atasan dan rekan kerja merupakan bagian penting dalam keputusan karyawan untuk bertahan atau meninggalkan organisasi.

Karena itu, mempertahankan talenta bukan hanya tugas bagian HR. Cara seorang pemimpin memperlakukan anggota tim juga memiliki pengaruh besar.

Lingkungan Kerja Bisa Menjadi Alasan untuk Bertahan

Lingkungan kerja sering dianggap sebagai sesuatu yang abstrak. Padahal, karyawan merasakannya setiap hari.

Apakah mereka bebas menyampaikan pendapat? Apakah kesalahan dibicarakan untuk mencari solusi atau justru dijadikan alasan untuk menyalahkan seseorang? Apakah rekan kerja saling membantu? Apakah perusahaan menghargai waktu di luar jam kerja?

Hal-hal seperti itu mungkin tidak tercantum dalam kontrak kerja, tetapi dapat memengaruhi pengalaman seseorang selama bekerja.

Penelitian mengenai karyawan Gen Z di Indonesia pada 2026 menemukan bahwa lingkungan kerja memiliki hubungan signifikan dengan turnover intention.

Ini menunjukkan bahwa membangun lingkungan kerja yang sehat bukan hanya persoalan membuat karyawan merasa nyaman. Bagi perusahaan, hal tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi mempertahankan sumber daya manusia.

Perusahaan Perlu Bertanya Mengapa Karyawan Pergi

Ketika seorang karyawan mengundurkan diri, perusahaan sering kali hanya melihat hasil akhirnya: orang tersebut pergi.

Padahal, yang lebih penting adalah memahami proses sebelum keputusan tersebut terjadi.

Apakah karyawan merasa terlalu terbebani? Apakah komunikasi dengan atasan bermasalah? Apakah tidak ada kesempatan berkembang? Apakah mereka merasa kontribusinya tidak dihargai?

Memahami alasan tersebut dapat membantu perusahaan memperbaiki sistem kerja, bukan sekadar mencari pengganti untuk posisi yang kosong.

Sebab jika masalah yang membuat seorang karyawan pergi tidak diperbaiki, perusahaan berpotensi mengalami masalah yang sama dengan karyawan berikutnya.

Mempertahankan Talenta Bukan Berarti Membuat Semua Karyawan Bertahan

Menariknya, mempertahankan karyawan juga bukan berarti perusahaan harus membuat setiap orang bertahan selama mungkin.

Ada kalanya seseorang memang ingin mencari pengalaman baru, berpindah bidang, atau mengejar tujuan karier yang berbeda. Hal tersebut merupakan bagian dari dinamika dunia kerja.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika karyawan yang sebenarnya masih memiliki potensi untuk berkembang justru pergi karena perusahaan gagal menciptakan lingkungan yang mendukung.

Di sinilah manajemen sumber daya manusia memiliki peran penting. Perusahaan perlu mengetahui siapa yang memiliki potensi, apa yang dibutuhkan karyawan, dan bagaimana menciptakan kondisi agar mereka memiliki alasan untuk tetap berkembang di dalam organisasi.

Gaji Tetap Penting, tetapi Pengalaman Kerja Juga Menentukan

Pada akhirnya, gaji tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan karyawan. Namun, menjadikan gaji sebagai satu-satunya strategi bukanlah solusi yang lengkap.

Karyawan juga ingin mendapatkan lingkungan kerja yang sehat, pemimpin yang suportif, beban kerja yang wajar, serta kesempatan untuk berkembang.

Menurut saya, perusahaan yang ingin mempertahankan talenta perlu melihat karyawan secara lebih utuh. Mereka bukan hanya orang yang datang bekerja dan menerima gaji setiap bulan, tetapi juga individu yang memiliki tujuan, kemampuan, dan harapan terhadap masa depan kariernya.

Sebab, perusahaan mungkin bisa menaikkan gaji untuk membuat seseorang bertahan hari ini, tetapi pengalaman kerja yang baiklah yang dapat membuat mereka ingin tetap berada di sana dalam jangka panjang.