Keluh Kesah Pengidap Gerd

Mahasiswa Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aulia Zahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau ditanya, "memang sakit apa?" jawabnya "GERD-nya lagi kambuh". Biasanya sih orang-orang akan bertanya kembali apa itu GERD. Kebanyakan orang tidak mengenal istilah GERD. Tapi, orang-orang lebih mengenal dengan penyakit asam lambung. Seperti sih apa keluh kesah pengidap penyakit GERD?
Di sini saya akan bercerita mengenai pengalaman pribadi saya mengidap penyakit GERD. GERD ini singkatan dari gastroesophageal reflux disease atau biasa yang orang-orang kenal dengan sebutan penyakit asam lambung.

Dulu awalnya memang saya punya penyakit maag. Karena melakukan diet yang cukup ketat dengan menjaga pola makan dengan tidak makan-makanan gorengan dan berjalan pagi sekitar tiga hingga empat kilometer membuat berat badan saya turun hingga empat kilogram dalam waktu kurang lebih satu bulan lebih.
Tapi dikarenakan suatu kondisi yang mengharuskan saya kembali kepada pola makan dahulu, seperti memakan makanan yang digoreng atau dipanggang, tiba-tiba saya merasakan tenggorokan saya panas dan agak sulit bernapas.
Setiap bangun tidur saya merasa tenggorokan saya terbakar dan sulit bernapas. Awalnya saya pikir itu karena efek kelelahan dari saya berjalan di pagi hari sejauh empat kilometer, tapi rasa tenggorokan terbakar dan sulit bernapas tersebut terus ada sampai satu bulan lebih.
Awalnya saya takut dan mengira bahwa itu gejala COVID-19 karena saya mengalami hidung tersumbat di malam hari setiap di atas jam 9 malam. Akhirnya saya melakukan tes rapid dan ternyata hasilnya negatif.
Lima hari setelah saya tes rapid dengan hasil negatif, saya masih merasakan hal yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Akhirnya saya memberanikan diri pergi ke dokter umum terdekat rumah saya.
Dokter tersebut berkata ini merupakan maag yang saya punya akibat diet ketat yang saya jalani. Akhirnya saya diberikan obat maag dengan obat penghilang hidung tersumbat itu.
Habis 2 jam setelah saya meminum obat rasa tenggorokan panas dan sulit bernapas itu timbul lagi dan gejala tersebut saya hadapi selama 3 hari hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Ternyata dokter mendiagnosis saya mengidap GERD. Akibat pola makan yang tiba-tiba menjadi tidak teratur dan stres terhadap masalah yang sedang dihadapi. Akhirnya saya pulang diberikan obat khusus untuk pereda GERD tersebut.
Saya pikir GERD saya sudah hilang asal menjaga pola makan dengan benar, tetapi ketika ada kalanya saya sangat stres dengan semua tugas saya sebagai seorang anak perempuan tertua di rumah ditambah dengan tugas dari para dosen dikala kelas online seperti ini dan semester menjelang akhir serta tugas saya sebagai kepala bidang dalam organisasi kampus, kemudian GERD saya kambuh lagi. Bahkan GERD tersebut gejala kambuhnya melebihi ketika saya diawal di diagnosis mengidap GERD.
Semakin sulit bernapas, tenggorokan terasa terbakar, perut terasa terhimpit batu besar, bersendawa tetapi belum ada yang dimakan hingga nafsu makan hilang dan itu berjalan hingga lebih dari seminggu. Memang setelah dilihat-lihat, tidak hanya pola makan saja yang perlu diatur. Namun pola pikir kita pun harus diatur untuk mengatur tingkat stres kita.
