Konten dari Pengguna

Ketika Gaya Hidup Barat Menguburkan Jati Diri: Pesan Moral dalam Salah Asuhan

Aulia Latifa Zahra

Aulia Latifa Zahra

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Angkatan 2023

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Latifa Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel "Salah Asuhan" merupakan salah satu karya legendaris sastra Indonesia yang di karang oleh Abdoel Moeis dan pertama kali diterbitkan pada 1928 oleh Balai Pustaka.

Sumber: dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dokumentasi pribadi

Pentingnya Mencintai Identitas Budaya sebagai Landasan Kebahagiaan Hidup

Salah Asuhan menyampaikan pesan moral yang mendalam tentang pentingnya menerima dan menghargai identitas serta akar budaya sendiri. Melalui tokoh Hanafi, seorang intelektual pribumi yang justru menganggap rendah latar belakang Minangkabau, pengarang mengkritik sikap inferior terhadap budaya sendiri. Hanafi begitu terpesona oleh budaya Barat yang dianggapnya lebih maju dan modern, sehingga ia sampai merendahkan bangsanya sendiri. Bahkan, ia menolak perjodohannya dengan Rapiah, seorang wanita pribumi yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi.

Penolakan Hanafi terhadap jati dirinya lambat laun membawanya pada kehancuran, baik secara material maupun spiritual. Ia kehilangan kebahagiaan, merasakan kegelisahan batin, dan akhirnya meninggal dalam penyesalan yang mendalam. Kisah tragis Hanafi ini menjadi cermin betapa berbahayanya memutuskan hubungan dengan identitas asli dan mengagungkan budaya lain secara berlebihan.

Pesan moral yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa kebahagiaan dan kedamaian hidup hanya dapat dicapai ketika seseorang mampu menerima dan mencintai jati dirinya sepenuhnya, termasuk asal-usul dan budayanya. Menolak identitas sendiri hanya akan menimbulkan konflik batin dan menjauhkan seseorang dari kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, dengan menghargai warisan budaya serta nilai-nilai leluhur, seseorang dapat membangun pondasi hidup yang kokoh dan harmonis. Novel ini mengingatkan kita bahwa kemajuan dan modernitas tidak harus berarti meninggalkan budaya sendiri, melainkan bagaimana kita dapat memadukannya secara bijak tanpa kehilangan identitas asli.

Kemajuan Tanpa Kehilangan Identitas

Selain kritik terhadap penolakan terhadap jati diri, novel Salah Asuhan juga menyampaikan pesan moral penting tentang harmonisasi antara modernitas dan tradisi. Berlatar masa kolonial Belanda tahun 1920-an, novel ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh budaya Barat saat itu, yang sering dianggap lebih unggul daripada nilai-nilai lokal. Namun, melalui tokoh-tokoh seperti Corrie—seorang perempuan Eropa yang justru bersikap lebih bijak dan menghargai budaya biji pribumi—pembaca diajak untuk menyadari bahwa kemajuan zaman tidak harus berarti penghapusan adat dan kearifan lokal.

Novel ini menegaskan bahwa modernisasi sejati bukanlah tentang mengganti identitas, melainkan tentang memperkaya diri dengan ilmu dan wawasan baru sambil tetap berpegang pada nilai-nilai budaya sendiri. Tokoh-tokoh yang berusaha menanggalkan sepenuhnya akar budayanya—seperti Hanafi—justru menemui kehancuran, sementara mereka yang mampu menyeimbangkan keduanya tampil lebih tangguh dalam menghadapi perubahan zaman.

Pesan moral yang dapat dipetik adalah bahwa kemajuan tanpa dasar budaya yang kuat hanya akan menciptakan keterasingan dari diri sendiri dan masyarakat. Sebaliknya, menjadi modern dengan tetap menghormati tradisi akan membentuk pribadi yang berkarakter kuat, adaptif, dan tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh asing. Di era globalisasi sekarang, pesan ini semakin relevan: kemajuan sejati adalah ketika ilmu pengetahuan, keterbukaan, dan moral budaya berpadu dalam satu kesatuan yang harmonis. Dengan demikian, Salah Asuhan tidak hanya sekadar kisah masa lalu, melainkan juga peringatan abadi tentang pentingnya menjaga identitas di tengah derasnya perubahan.

Novel Salah Asuhan tidak hanya berbicara tentang konflik budaya, tetapi juga memberikan pelajaran mendalam tentang nilai-nilai kehidupan seperti kesetiaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab. Hanafi adalah cerminan dari mereka yang terlalu fokus pada pencapaian material, tetapi lupa membangun karakter diri. Novel ini mengingatkan kita bahwa:

  1. Ilmu tanpa hati nurani hanya akan melahirkan kehancuran

  2. Kesetiaan dan tanggung jawab adalah fondasi hubungan yang langgeng

  3. Kerendahan hati adalah kunci pembelajaran seumur hidup

Di era di mana banyak orang terjebak dalam kompetisi status dan pencitraan, Salah Asuhan menjadi peringatan abadi bahwa kemajuan diri harus seimbang dengan kemajuan budi pekerti. Sehebat apa pun pencapaian seseorang, tanpa kesadaran untuk menghargai orang lain dan bertanggung jawab atas pilihan hidup, segalanya bisa berujung pada kesia-siaan seperti yang dialami oleh Hanafi.

.

.

.

DAFTAR PUSTAKA

Moeis, Abdoel. (2009). Salah Asuhan. Jakarta: PT. Balai Pustaka (Persero).