Konten dari Pengguna

Mengapa Belenggu Masih Relevan? Pembacaan Ulang dengan Teori Burhan Nurgiyantoro

Aulia Latifa Zahra

Aulia Latifa Zahra

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Angkatan 2023

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Latifa Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dokumentasi pribadi

Menurut Nurgiyantoro (2018:30), unsur intrinsik adalah komponen-komponen yang secara langsung membentuk struktur sebuah karya sastra. Unsur-unsur ini bersifat internal dan melekat dalam teks, berperan sebagai fondasi yang menentukan keutuhan cerita. Nurgiyantoro membagi unsur intrinsik ke dalam tujuh elemen utama, yaitu tema, alur/plot, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.

  • Tema

Belenggu karya Armijn Pane mengisahkan pergulatan psikis manusia modern melalui tokoh-tokoh yang terbelenggu oleh konflik internal, tekanan sosial, dan bayang-bayang masa lalu.

Perkawinan Sukartono dan Sumartini digambarkan penuh ketidakselarasan: Sukartono menginginkan istri yang tunduk pada peran domestik, sementara Sumartini mengejar emansipasi perempuan. Ketegangan ini memicu keterasingan emosional di antara mereka. Kehadiran Rohayah, mantan kekasih Sukartono, semakin memperumit dinamika hubungan, menguatkan tema sentral novel tentang kegagalan manusia dalam menemukan cinta dan identitas sejati.

  • Penokohan

1. Dokter Sukartono (Tono)

Tokoh utama yang digambarkan sebagai dokter berbakat dengan empati tinggi, sering merawat pasien miskin tanpa pamrih. Di balik keseriusannya, Tono menyukai keroncong yang mencerminkan sisi tradisionalnya. Ia menginginkan istri penuh perhatian, namun pernikahannya dengan Tini, wanita modern yang mandiri tidak sesuai harapannya. Frustasi ini membuatnya tertarik pada Rohayah, yang memberinya kenyamanan emosional.

2. Sumartini (Tini)

Istri Tono yang berpendidikan Barat, mandiri, dan aktif di kegiatan sosial. Wataknya keras dan idealis, membuatnya sulit memenuhi harapan Tono sebagai istri tradisional. Ketidakcocokan ini membuat pernikahan mereka renggang. Ketika tahu Tono berselingkuh dengan Rohayah, Tini memilih meninggalkan rumah tangga dan memulai hidup baru di Surabaya.

3. Siti Rohayah (Yah)

Mantan penyanyi keroncong dan teman masa kecil Tono. Meski memiliki masa lalu kelam, Yah digambarkan lembut, penuh perhatian, dan memahami kebutuhan emosional Tono. Ia menjadi pelarian Tono dari ketidakpuasan dalam pernikahannya, meski statusnya sebagai simpanan membuatnya mendapat stigma sosial.

4. Hartono

Teman dekat Tono yang menjadi tempat curhatnya. Hartono bersikap santai dan sering memberi nasihat ringan tentang masalah rumah tangga Tono.

5. Karno

Pembantu setia Tono yang sangat loyal dan patuh. Ia melayani Tono dengan tulus, bukan karena terpaksa, tetapi karena rasa hormat dan pengabdian.

6. Tokoh Tambahan

- Putri Aminah: Suka ikut campur urusan orang lain.

- Abdul: Supir humoris dan profesional.

- Nyonya Sumarjo, Nyonya Padma, Nyonya Sutatmo: Figuran yang hanya muncul sekilas dalam cerita.

  • Alur/plot

Novel ini menggunakan alur maju linear sesuai teori Nurgiyantoro (2007), dengan konflik yang berkembang secara bertahap dari masalah-masalah sehari-hari. Keunikan alur Belenggu terletak pada penggambaran ketegangan psikologis yang halus namun mendalam, serta penggunaan detail-detail kecil seperti insiden bloc-note sebagai pemicu konflik utama. Penyelesaian cerita yang terbuka ini mencerminkan realisme dalam menggambarkan kompleksitas hubungan perkawinan yang gagal.

1. Tahap Pengenalan (Eksposisi): Novel Belenggu membuka cerita dengan memperkenalkan konflik rumah tangga antara Dokter Sukartono (Tono) dan istrinya, Sumartini (Tini). Ketegangan hubungan mereka langsung tergambar jelas melalui insiden bloc-note yang tidak dicatat Tini. Adegan ini menunjukkan Tono yang lelah pulang bekerja sebagai dokter menjadi kesal karena tidak menemukan catatan pesan pasien, sementara Tini merasa direndahkan karena hanya dianggap sebagai "sekretaris pribadi" suaminya.

“Dokter Sukartono memandang septunya. Dia tersenyum, lucu rasanya membayang-bayangkanTini duduk bersimpuh dihadapannya sedangasyik menanggalkan sepatunya. Mengurus bloc-note saja dia tiada hendak. Tiada hendak… betulkah karena tidak hendak? Tini pelalaidiwaktu belakangan ini, sampai barangsulamannya ditaruhnya di meja itu. Tini tahu, diatiada suka ada barang di sana, biar bloc-note itujangan tersembunyi.” (h.17)

2. Tahap Pertikaian (Konflik): Konflik utama mulai memuncak ketika Tono secara tak sengaja bertemu kembali dengan Rohayah, sahabat lamanya. Rohayah hadir sebagai figur yang memahami dan memberi perhatian yang selama ini tidak didapatkan Tono dari istrinya. Pertemuan ini semakin memperburuk hubungan rumah tangga Tono-Tini, membuat Tini semakin merasa terasing dan tidak dihargai dalam rumah tangganya sendiri.

“Menghadap kesana,” perintah dokterSukartono, lalu duduk di tepi tempat tidur juga, di belakang nyonya Eni. Maka dimulainyamemeriksa dengan memakai stethhoscoop. Habis diperiksanya dari belakang, disuruhnyaberpaling, duduk berhadap-hadapan, laluditaruhnya stethoscoop pada dada si sakit itu.” (h.21)

3. Tahap Penyelesaian (Resolusi): Cerita mencapai penyelesaian dengan keputusan dewasa untuk berpisah. Tini memilih meninggalkan rumah tangga dan pindah ke Surabaya untuk bekerja di panti asuhan, sementara Rohayah memutuskan pergi ke Nieuw Caledonia.

“Aku hendak ke Surabaya dulu. Waktu kongres aku berkenalan dengan seorang nyonya dari sana, dia mencari perempuan untuk memimpin rumah piatu perkumpulannya. Besoklah aku pergi.” (h.139)

  • Latar

1. Latar tempat

- Rumah Tono-Tini: Digambarkan suram dengan lampu meja yang hanya menerangi buku, sementara wajah Tono gelap

“Sukartono duduk membaca, lampu meja di sebelah kirinya menerangi bukunya,. Sedang wajahnya gelap. Abdul baru saja pamit pulang. Jam dinding menunjukkan angka sembilan. Sesekali terdengar suara mobil melintas di depan rumahnya. Suara radio terdenga sayup-sayup.” (h. 15)

- Jalanan dan Hotel: Jalan sepi dengan toko kecil Tionghoa, dan hotel tempat Tono bertemu Rohayah menjadi lokasi penting perkembangan plot.

“Abdul mulai melambatkan jalan mobil. Melihat ke kiri, mencari nomor 45. Di jalan yang mereka lalui itu agak sepi. Di tepi jalan babakan hanya ada toko orang tionghoa yang kecil saja.” (h. 7)

“Mata Tono ikut mencari-cari nomor rumah yang dituju. Sampailah mereka pada  nomor itu. Sebuah hotel. Abdullah langsung menginjak rem.” (h. 7)

- Tempat Publik

Bazar: “Pukul delapan malam, bazar ramai oleh orang dewasa. Anak-anak sudah banyak yang pulang.”(Bazar hal. 72)

Gedung kongres: “Jika ia berpidato, hati Hartono merasa senang sekali. Dia senang melihat orang banyak di hadapannya., memenuhi gedung dan semua menatap kepadanya.” (h. 82)

Konser Keroncong: “Malam itu dia menjadi juri konser keroncong perempuan. Konser sudah hendak dimulai. Baik di luar maupun di dalam gedung penuh sesak dengan penonton.” (h. 99)

2. Latar waktu

Berlatar tahun 1930-an masa kolonial Belanda, periode transisi ketika nilai tradisional Jawa berbenturan dengan modernitas Barat. Konflik Tini (wanita berpendidikan modern) dan Tono (pria tradisional) mewakili ketegangan era ini.

3. Latar suasana

Latar suasana didominasi oleh nuansa psikologis yang muram dan reflektif, menciptakan atmosfer tegang melalui gambaran rumah tangga yang dingin dan hubungan yang hambar. Keseluruhan latar dalam novel ini tidak hanya berfungsi sebagai backdrop, tetapi menjadi elemen intrinsik yang memperkuat tema utama tentang keterbelengguan psikologis, di mana lingkungan fisik dan emosional saling berkelindan untuk menggambarkan konflik batin tokoh-tokohnya di tengah perubahan sosial era kolonial.

  • Sudut Pandang

Novel Belenggu menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana narator bukanlah bagian dari cerita, tetapi memiliki akses penuh terhadap pikiran dan perasaan semua tokoh. Teknik ini memungkinkan pembaca memahami konflik batin yang tersembunyi di balik tindakan para karakter.

- Kesepian Sukartono: Dalam novel ini, pengarang mengungkapkan kesendirian Tono yang tidak dipahami istrinya, meski secara lahiriah ia tampak tenang.

- Kekecewaan Sumartini: Pembaca diajak menyelami frustrasi Tini sebagai perempuan berpendidikan yang merasa tidak dihargai hak dan aspirasinya.

- Dilema Rohayah: Pengarang mengekspos pergulatan batin Yah antara keinginannya untuk berubah dengan pemikiran masyarakat atas masa lalunya.

  • Gaya Bahasa

1. Majas Hiperbola


Armijn Pane menerapkan hiperbola untuk mengekspresikan intensitas emosi secara berlebihan namun efektif.

seperti dalam kutipan "Air mata yang membendung hatiku telah mengalir" (h.48)

Pengungkapan ini bukan hanya menggambarkan kesedihan mendalam tokoh, tetapi juga menyiratkan tekanan emosional yang terpendam lama sebelum akhirnya meluap. Hiperbola semacam ini memperkuat pembacaan psikologis tentang betapa perasaan yang tertahan dapat menjadi beban berat sebelum akhirnya menemukan jalan keluar.

2. Majas Personifikasi


Belenggu menggunakan personifikasi untuk menghidupkan objek abstrak melalui sifat-sifat manusiawi. Contohnya pada kalimat "Matanya tetap melihat pada satu tempat saja, karena perhatiannya seolah-olah meraba-raba dalam pikirannya" (hal.18) yang menggambarkan pikiran tokoh yang aktif bergerak meski fisiknya diam.

Personifikasi juga terlihat dalam "Tiada tampak oleh Sukartono cahaya tanda girang yang mengerlip dalam mata perempuan itu" (h.20) yang memberi sifat manusia pada cahaya mata, serta "Hatinya hendak membacanya" (h.31) yang menganggap hati mampu beraktivitas layaknya manusia. Penggunaan paling kuat terdapat dalam "Kerusuhan jiwanya seolah-olah mengalir ke roda mobil" (h.72) yang menghubungkan gejolak emosi dengan gerakan mekanis mobil.

  • Amanat

Amanat yang terkandung dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane yaitu meliputi:

1. Bahaya Memaksakan Peran Sosial

Novel ini mengkritik praktik memaksakan peran gender dalam hubungan. Pernikahan Tono dan Tini gagal karena keduanya terjebak dalam ekspektasi sosial - Tono menginginkan istri tradisional yang patuh, sementara Tini berjuang untuk kemandirian intelektual. Konflik ini menunjukkan bahwa hubungan yang sehat harus dibangun atas kesepahaman bersama, bukan pemenuhan stereotip masyarakat.

2. Komunikasi sebagai Fondasi Hubungan

Belenggu mengutamakan pentingnya komunikasi terbuka dalam hubungan. Tono dan Tini saling menyimpan kekecewaan tanpa pernah mengungkapkannya secara jujur, yang akhirnya merenggangkan ikatan pernikahan mereka. Novel ini mengajarkan bahwa kesepian emosional sering bermula dari kegagalan menyampaikan perasaan secara tulus.

3. Belenggu Masa Lalu dan Faktor Sosial

Melalui karakter Rohayah, novel ini menggambarkan bagaimana masa lalu dan penilaian masyarakat dapat membelenggu perkembangan seseorang. Meski Rohayah berusaha berubah, tetapi pemikiran masyarakat sebagai mantan penyanyi keroncong terus menghantuinya, menunjukkan betapa sulitnya melepaskan diri dari label sosial.

4. Pencarian Jati Diri yang Hakiki

Karya ini menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih ketika seseorang berani hidup sesuai identitas aslinya. Tini memilih meninggalkan pernikahan yang membelenggunya untuk mencari makna hidup di panti asuhan, sementara Tono tetap terombang-ambing dalam kebimbangan, menggambarkan dua respons berbeda terhadap pencarian identitas.

5. Dinamika Modernitas dan Tradisi

Belenggu mempresentasikan ketegangan antara nilai-nilai modern dan tradisional melalui konflik Tono dan Tini. Novel ini tidak memihak, melainkan mengajak pembaca merenungkan pentingnya menemukan keseimbangan antara emansipasi individual dengan komitmen sosial, khususnya dalam konteks masyarakat Jawa yang sedang berubah di era kolonial.

.

.

.

DAFTAR PUSTAKA

Pane, A. (2003). Belenggu. Pustaka Jaya.

Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.