Konten dari Pengguna

Kesalahan Berbahasa Indonesia Pada Media Luar Ruang: Tataran Fonologi

Nurul Aulia Nadhira

Nurul Aulia Nadhira

Mahasiswa Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Aulia Nadhira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Bahasa adalah sebuah alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang mudah dipahami oleh penutur dan lawan tutur. Dengan adanya bahasa, manusia dapat berkembang seiring zaman. Karena hakikatnya bahasa adalah berupa simbol, bersifat arbitrer, dinamis, produktif, dan berupa bunyi yang maknanya mucul karena sebuah kebiasaan. Seiring perkembangan zaman dari tahun ke tahun, produksi bahasa akan bertambah dan beragam. Namun, hal tersebut dapat mempengaruhi terjadinya kesalahan dalam berbahasa.

Kesalahan berbahasa sering terjadi pada media luar ruang yang merupakan bentuk informasi untuk masyarakat yang terdapat di luar ruangan seperti spanduk, poster, baliho, dan lainnya. Melalui media tersebut, masyarakat dapat mengetahui informasi penawaran jasa dan iklan yang menarik. Hal tersebut terjadi karena terdapat penggunaan bahasa di dalamnya yang dijadikan sebagai media komunikasi dengan masyarakat. Namun, penggunaan bahasa pada media luar ruang sering menggunakan bahasa yang kreatif dan tidak terbatas pada bahasa baku untuk menarik perhatian masyarakat. Hal tersebut menimbulkan kesalahan berbahasa yang tidak baku. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada kalimat, frasa, kata, ejaan, tanda baca dan bunyi.

Kaidah kebahasaan yang mempelajari mengenai pembentukan bunyi bahasa dinamakan sebagai fonologi. Menurut Kridalaksana (2008: 20) bahwa fonologi adalah bidang linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa berdasarkan fungsinya. Bentuk kajian fonologi dibagi menjadi dua yaitu, fonetik dan fonemik. Fonetik adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji produksi bunyi bahasa. Sedangkan, fonemik adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji bunyi bahasa sebagai pembeda makan. Dengan kata lain, bahwa fonologi merupakan bagian dari ilmu linguistik yang mengkaji tentang fonem-fonem dari segi pembentukan, makna, dan perubahannya menjadi sebuah bunyi bahasa.

Menurut Muslich (2008: 42) bahwa banyak kasus pengucapan bunyi yang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang sering terjadi dalam masyarakat. Adapun perubahan bunyi yang sering terjadi yaitu zeronisasi, netralisasi, diftongisasi, dan monoftongisasi. Terdapat beberapa media luar ruang yang ditemukan mengalami kesalahan dalam penulisan dan berbahasa, uraiannya sebagai berikut.

Sumber: Pict. Nurul Aulia Nadhira

Pada gambar papan nama tersebut, terdapat kesalahaan penulisan pada kata “Apotik” dan “Praktek”. Kata “Apotik” merupakan bentuk kata tidak baku dan kata yang benar yaitu “Apotek”. Kesalahan tersebut terjadi pada perubahan fonem /e/ menjadi fonem /i/. Kemudian kata “Praktek” adalah bentuk tidak baku dan kata yang benar yaitu “Praktik”. Kesalahan tersebut terjadi pada perubahan fonem /i/ menjadi fonem /e/. Dua data tersebut termasuk ke dalam jenis perubahan bunyi Netralisasi yaitu perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengarug dari lingkungan. Pada data tersebut, fonem yang berubah yaitu fonem /e/ menjadi fonem /i/ dan fonem /i/ menjadi fonem /e/.

Sumber: Pict. Nurul Aulia Nadhira

Pada kata “telor” merupakan bentuk kata tidak baku dan kata yang benar yaitu “telur”. Kesalahan tersebut terjadi pada perubahan fonem /u/ menjadi fonem /o/. Kata tersebut termasuk ke dalam jenis perubahan bunyi Netralisasi yaitu perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengarug dari lingkungan.

Kata “cabe” merupakan bentuk kata tidak baku dan kata yang benar yaitu “cabai”. Kesalahan tersebut terjadi pada perubahan fonem [/a/, /i/] menjadi fonem /e/. Kata tersebut termasuk ke dalam jenis perubahan bunyi Monoftongisasi yaitu perubahan dua bunyi vocal rangkap (diftong) menjadi vocal tunggal (monoftong).

Kata “ijo” merupakan bentuk kata tidak baku dan kata yang benar yaitu “hijau”. Kata tersebut termasuk ke dalam jenis perubahan Zeronisasi yaitu penghilangan fonem akibat pengekonomisan pengucapan. Pada data tersebut fonem yang menghilang yaitu fonem /h/, /a/, dan /u. Jadi, frasa yang benar pada spanduk tersebut adalah “Telur Cabai Hijau”.

Sumber: Pict. Nurul Aulia Nadhira

Pada gambar tersebut, terdapat kesalahan penulisan ejaan yaitu pada kata “Dapoer” yang bukan bentuk kata baku. Penulisan yang benar yaitu “Dapur”. Ejaan pada huruf vocal rangkap [/o/, /e/] kini sudah diganti menjadi fonem /u/, dan bentuk baku pada gambar tersebut seharusnya yaitu “Dapur”. Kata tersebut merupakan bentuk perubahan bunyi Diftongisasi yaitu perubahan bunyi vocal tunggal menjadi dua bunyi vocal atau vocal rangkap. Pada data tersebut, fonem yang berubah adalah fonem /u/ menjadi fonem diftong /oe/.

Pada ketiga spanduk tersebut, ditemukan beberapa kesalahan pada penggunaan dan penulisan bahasa. Spanduk tersebut dijadikan sebagai media informasi. Oleh karena itu, penggunaan dan penulisannya harus jelas agar menciptakan pemahaman serta komunikasi yang baik.

Referensi

Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Muslich, M. (2008). Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan DeskriptifnSistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.