Asal Usul Pantai Widuri di Pantai Utara Jawa Tengah

Aulianita Listyani
Guru AUD - Assistant CO-Founder Teman Ceritamu - Mhs S1 Sastra Indonesia Unpam
Konten dari Pengguna
15 November 2023 9:19 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Aulianita Listyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lokasi : Pantai Widuri, Kab. Pemalang, Jawa tengah (sumber : dokumen sendiri)
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi : Pantai Widuri, Kab. Pemalang, Jawa tengah (sumber : dokumen sendiri)
ADVERTISEMENT
Desa Widuri beserta Pantai Widuri merupakan tempat yang kaya akan sejarah dan legenda di pantai utara Jawa Tengah. Kedua tempat tersebut memiliki kisah yang menarik dari zaman dahulu kala. Legenda yang diceritakan tentang sepasang suami istri bernama Ki dan Nyai Pedaringan menjadi landasan dari asal-usul Desa Widuri dan Pantai Widuri. Dalam esai ini, kita akan menjelajahi cerita tersebut untuk mengetahui lebih banyak tentang sejarah dan asal-usul dari Desa Widuri dan Pantai Widuri.
ADVERTISEMENT
Pada zaman dahulu kala, di pantai utara bagian barat Jawa Tengah, terdapat sebuah gubuk kecil yang dihuni oleh sepasang suami istri yang bernama Ki dan Nyai Pedaringan. Mereka memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, namun cinta mereka begitu kuat sehingga membuat warga sekitar merasa ikut berbahagia. Ki Pedaringan dikenal sebagai sosok pekerja keras yang bekerja sebagai petani palawija dan semangka.
Kisah cinta Ki dan Nyai Pedaringan adalah inti dari asal-usul Desa Widuri dan Pantai Widuri. Meskipun mereka memiliki perbedaan usia yang signifikan, cinta mereka tidak terhalang oleh hal tersebut. Meski demikian, mereka hidup bahagia bersama di gubuk kecil mereka di pinggir pantai.
Pada suatu hari, ketika Ki Pedaringan hendak pergi ke ladang, seorang pemuda tampan bernama Pangeran Purbaya datang ke gubuk mereka. Pangeran Purbaya adalah seorang punggawa yang sedang melaksanakan tugas untuk memberantas pemberontakan di Cirebon. Ia terluka dalam pertempuran dan meminta bantuan dari Ki dan Nyai Pedaringan.
ADVERTISEMENT
Setelah mendapatkan perawatan dari Nyai Pedaringan, Pangeran Purbaya memberikan sebuah keris pusaka yang bernama Simonglang kepada Nyai Pedaringan sebagai tanda terima kasih. Ia meminta agar keris tersebut dijaga dan dirawat dengan baik, dan hanya boleh dimiliki oleh keturunan Pedaringan.
Pada perjalanannya kembali ke Kerajaan Mataram, Pangeran Purbaya melewati sebuah sungai kecil dan memberi nama sungai tersebut "Pemalang" untuk mengenang perjalanannya. Nama ini kemudian menjadi nama daerah sekitarnya. Selanjutnya, Nyai Pedaringan yang telah dikenal sebagai Nyai Widuri, diberi julukan oleh warga setempat dan membuat nama Desa Widuri dan Pantai Widuri lebih terkenal.
Tak lama setelah Pangeran Purbaya meninggalkan gubuk, Ki Pedaringan pulang dan melihat keris pusaka di meja. Ia curiga dan mempertanyakan asal-usul keris tersebut kepada Nyai Pedaringan. Pertengkaran sengit terjadi antara keduanya. Namun, Nyai Pedaringan memutuskan untuk membuktikan kesetiaannya dengan memotong jarinya dan membiarkan darahnya menyentuh bunga Widuri. Darah itu mengubah warna putih Widuri menjadi ungu.
ADVERTISEMENT
Setelah pertengkaran tersebut, Ki Pedaringan merasa menyesal karena tidak mempercayai perkataan istrinya yang sangat dicintainya. Namun, ia terlambat karena Ki Pedaringan tidak pernah kembali ke gubuk mereka. Diduga Ki Pedaringan diserang oleh pasukan Salingsingan di tengah perjalanan pulang dan ia tidak pernah kembali lagi. Nyai Pedaringan, atau Nyai Widuri, harus melanjutkan hidupnya seorang diri.
Lokasi : Pantai Widuri, Kab. Pemalang, Jawa Tengah (sumber : dokumen sendiri)
Kisah ini mengilustrasikan betapa kuatnya cinta mereka meskipun ada perbedaan usia yang signifikan. Terlepas dari kesalahpahaman dan nasib yang tragis, Nyai Widuri tetap hidup dengan julukannya dan tempat-tempat tersebut tetap terkenal hingga saat ini. Dari situlah bermula penghormatan bagi kehidupan Nyai Pedaringan, yang dikenal sebagai Nyai Widuri. Desa tempat tinggal mereka pun dinamakan Desa Widuri, bagiannya masih hidup seorang diri sebagai kenangan atas kesetiaan dan pengorbanan yang sejati. Bahkan, pantai yang berada di dekat desa itu juga dinamakan Pantai Widuri sebagai simbol dari cinta yang terus membara meskipun setelah kepergian Ki Pedaringan.
Lokasi : Pantai Widuri, Kab. Pemalang, Jawa Tengah (sumber : dokumen sendiri)
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita akan kekuatan cinta yang tak berbatas, kesetiaan yang tak tertandingi, dan kemampuan untuk mengorbankan diri demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Legenda tentang Nyai Pedaringan telah mengilhami banyak orang mengenai pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dan mengekspresikan keberanian untuk melepaskan rasa curiga dan kesalahpahaman. Kisah ini juga mengingatkan kita akan pentingnya kepercayaan, komunikasi, dan kesabaran dalam menjaga hubungan yang harmonis.
ADVERTISEMENT