Konten dari Pengguna

Budaya Cashless Remaja Perantau Kian Menguat di Yogyakarta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Putri Salsabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang Mahasiswa melakukan transaksi pembayaran non-tunai menggunakan QRIS di sebuah toko alat tulis di Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Mahasiswa melakukan transaksi pembayaran non-tunai menggunakan QRIS di sebuah toko alat tulis di Yogyakarta

Perkembangan teknologi digital mendorong munculnya budaya cashless di kalangan remaja perantau, khususnya mahasiswa di Yogyakarta. Penggunaan pembayaran non-tunai berbasis QRIS semakin menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari seiring meluasnya fasilitas transaksi digital di lingkungan kampus dan usaha kecil.

Mahasiswa perantau menjadi kelompok yang paling cepat beradaptasi dengan sistem pembayaran cashless. Hidup jauh dari keluarga membuat mereka dituntut untuk lebih mandiri dalam mengelola keuangan dan aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, pembayaran non-tunai dianggap mampu memberikan kemudahan, efisiensi, serta rasa aman dibandingkan penggunaan uang tunai.

Meluasnya fasilitas pembayaran QRIS di Yogyakarta turut mempercepat perubahan kebiasaan ini. Hampir seluruh warung makan, kafe, minimarket, hingga pedagang kaki lima di sekitar kampus telah menyediakan pembayaran non-tunai. Situasi tersebut membuat remaja, terutama mahasiswa perantau, secara tidak langsung terdorong untuk meninggalkan uang tunai dan beralih ke sistem digital.

Daffa (19), mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), mengaku mulai terbiasa menggunakan pembayaran cashless sejak memasuki dunia perkuliahan pada 2024. Menurutnya, lingkungan kampus menjadi faktor utama yang membentuk kebiasaan tersebut. “Sejak kuliah, hampir semua transaksi saya pakai cashless karena di sekitar kampus sudah mendukung QRIS,” ujar Daffa.

Daffa menjelaskan bahwa pembayaran non-tunai memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak perlu lagi menarik uang tunai atau membawa dompet dalam jumlah besar. “Lebih simpel dan tidak ribet harus tarik uang cash. Saya juga merasa kalau pegang uang cash, uangnya lebih cepat habis,” katanya. Dengan adanya catatan transaksi digital, ia merasa lebih mudah memantau pengeluaran.

Dalam kesehariannya, Daffa hampir sepenuhnya meninggalkan uang tunai. Mulai dari membeli makanan, minuman, hingga membayar kebutuhan lain, semuanya dilakukan secara non-tunai. Menurutnya, sistem cashless membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih terkontrol, terutama bagi mahasiswa perantau yang harus mengatur uang bulanan secara mandiri.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Farel (19), mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII). Ia mengaku mulai intens menggunakan pembayaran cashless sejak hidup di perantauan. Farel menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut berbeda dengan kondisi di daerah asalnya. “Di daerah asal saya, sistem cashless belum tersedia di semua tempat. Tapi sejak merantau ke Yogyakarta, hampir semua transaksi sudah pakai QRIS,” ucapnya.

Menurut Farel, perantauan memiliki hubungan yang cukup erat dengan kebiasaan menggunakan pembayaran non-tunai. Hidup mandiri membuat mahasiswa harus lebih berhati-hati dalam menjaga uang dan mengatur pengeluaran. “Cashless itu praktis, sisa saldo bisa langsung dilihat, dan lebih aman karena tidak perlu takut uang hilang atau jatuh di jalan,” katanya.

Dalam aktivitas sehari-hari, Farel mengaku hampir tidak pernah membawa uang tunai. Seluruh transaksi, termasuk pembelian kecil, dilakukan secara non-tunai. Ia menilai bahwa kebiasaan tersebut memberikan rasa aman dan kenyamanan psikologis, karena tidak perlu khawatir jika dompet tertinggal atau uang tunai habis di tengah aktivitas.

Hal yang sama juga dialami oleh Fadil (19), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia mengaku baru mulai mengenal dan memahami sistem pembayaran cashless sejak hidup di perantauan. “Sebelumnya saya tidak terlalu paham cashless, tapi sejak merantau jadi terbiasa karena memang lebih mempermudah aktivitas,” ujar Fadil.

Fadil menilai bahwa pembayaran non-tunai sangat sesuai dengan gaya hidup remaja masa kini yang memiliki mobilitas tinggi. “Pembayaran non-tunai itu lebih mudah dan fleksibel untuk digunakan sehari-hari, apalagi untuk mahasiswa yang kegiatannya padat,” katanya. Menurutnya, cashless membuat transaksi menjadi lebih cepat dan efisien tanpa harus membawa uang tunai.

Selain dirasakan oleh mahasiswa sebagai pengguna, budaya cashless juga berdampak pada pelaku usaha kecil di sekitar kampus. Asep (19), karyawan warmindo di kawasan kampus Yogyakarta, mengatakan bahwa penggunaan pembayaran non-tunai terus meningkat dari waktu ke waktu. “Awalnya pelanggan masih banyak yang bayar pakai cash, tapi sekarang hampir setiap hari banyak yang pakai QRIS,” ujarnya.

Asep menjelaskan bahwa sistem pembayaran cashless sangat membantu pekerja dalam melayani pelanggan. “Kalau pakai cashless lebih cepat, tidak perlu cari kembalian, jadi antrean juga lebih lancar,” katanya. Menurutnya, perubahan ini sangat terasa terutama saat jam makan siang dan malam, ketika jumlah pembeli meningkat.

Sebagai remaja yang hidup di lingkungan digital, Asep juga mengaku lebih nyaman menggunakan pembayaran non-tunai dalam kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan bahwa banyak pembeli, khususnya mahasiswa, jarang membawa uang tunai. “Kalau tidak ada QRIS, kadang pembeli batal beli,” ucapnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya cashless turut memengaruhi pola konsumsi remaja.

Perubahan kebiasaan transaksi ini menunjukkan bahwa cashless tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada sistem sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar kampus. Pelaku usaha dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen muda yang lebih memilih pembayaran non-tunai.

Berdasarkan pengalaman mahasiswa perantau dan pelaku usaha di sekitar kampus, terlihat bahwa perantauan menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi pembayaran cashless. Mahasiswa yang hidup jauh dari orang tua cenderung membutuhkan sistem transaksi yang praktis, aman, dan mudah diawasi. Cashless menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Dengan semakin luasnya penggunaan pembayaran non-tunai, budaya cashless diperkirakan akan terus berkembang dan menjadi gaya hidup masa depan, khususnya di kalangan remaja perantau. Perubahan ini menunjukkan bagaimana teknologi digital membentuk kebiasaan baru yang lebih efisien, aman, dan relevan dengan kehidupan generasi muda di lingkungan perkotaan.