Bismarck dan Arsitektur Politik Eropa

Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran - Politik, Sastra, dan Sejarah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tatanan Metternich yang goyah pasca-Perang Krimea, perlahan diganti dengan permainan politik kekuasaan yang diarsiteki oleh Kanselir Jerman, Otto von Bismarck. Duta besar Inggris di Jerman, Lord Ampthill, mendeskripsikan pengaruh Sang Kanselir besi: “kata-katanya membangkitkan rasa hormat dan keheningannya membangkitkan ketidakpastian.” Bismarck menjadi arsitek tatanan politik Eropa setelah kemunduran Prancis dan mandulnya kekuatan Austria. Permainan realpolitik Bismarck menjaga hubungan rumit antara kekuatan besar Eropa. Ciri utama dari tatanan Eropa Bismarckian adalah: keterasingan Prancis dan terbentuknya sistem aliansi Eropa, yang ironisnya, akan menjadi tak terkendali seiring kepergian Bismarck, dan membawa benua itu menuju bencana tahun 1914.
Besi dan Darah
Setelah diangkat sebagai ministerpraesident oleh Raja Wilhelm I, Bismarck mendeklarasikan filosofi politiknya dalam pidatonya yang terkenal tahun 1862: “bukan melalui pidato dan keputusan mayoritas masalah besar zaman ini akan diselesaikan, tetapi oleh besi dan darah.” Bismarck menyulut tiga perang untuk mencapai maksudnya dalam menyatukan Jerman. Sejarawan Katja Hoyer dalam bukunya Blood and Iron: The Rise and Fall of the Germany Empire 1871-1918, menulis bahwa “Jerman adalah mosaik yang disatukan oleh darah para musuhnya.”
Pada November 1863, Raja Charles IX dari Denmark menandatangani dokumen yang menyertakan wilayah Schleswig dan Holstein menjadi bagian Denmark. Hal ini memantik respon penolakan dari Prusia dan Austria yang pada tahun berikutnya melancarkan perang melawan Denmark. Dua kekuatan Eropa tengah itu menghadiahkan kekalahan bagi Denmark, yang berakhir dengan Denmark yang dipaksa melepaskan klaim atas Schleswig-Holstein dalam Perjanjian Wina pada Oktober 1864. Kemudian dalam Konvensi Gastein 1865, disepakati bahwa Schleswig menjadi milik Prusia, dan Holstein untuk Austria.
Aliansi Austria-Prusia tidak bertahan lama karena tahun berikutnya Bismarck menjalin aliansi dengan Italia untuk melawan Wina. Ini adalah bagian dari rencana besar Bismarck, yang sejak tahun 1862 – sebagaimana yang ia utarakan dalam pertemuannya dengan pemimpin oposisi Inggris, Benjamin Disraeli – bahwa perang Prusia dengan Austria hampir pasti terjadi untuk supremasi Jerman. Bismarck mengirim pasukan untuk menyerang Holstein yang menandai deklarasi perang terhadap Austria. Dalam pertempuran yang menentukan di Koniggratz Juli 1866, Austria harus menelan pil pahit kekalahan. Pada Agustus 1866 diadakan pertemuan di Praha untuk mengakhiri perang, yang disebut oleh sejarawan Robert K. Massie sebagai “upaya untuk menggambar ulang peta Jerman.”
Kekalahan Austria mengkhawatirkan Kaisar Napoleon III di Prancis. Kekuatan Prusia yang semakin digdaya membuat kebijakan tradisional Prancis sejak Richelieu dalam memperlemah Eropa Tengah, kini semakin tak bisa terlaksana. Bismarck memandang kekaisaran Louis Napoleon itu sebagai satu lagi batu sandungan untuk Jerman yang bersatu. Pada 1868, Ratu Isabella dari Spanyol digulingkan dan tahta Spanyol ditawarkan kepada Pangeran Leopold dari Dinasti Hohenzollern. Hal ini menjadi ancaman mencolok bagi Prancis, sebagaimana yang diutarakan Menteri Luar Negeri Prancis Duke of Gramont, “kehormatan dan kepentingan Prancis kini dalam bahaya.”
Napoleon mengirim duta besarnya, Benedetti, untuk menemui Wilhelm dan membujuknya agar menarik pencalonan Leopold. Wilhelm menolaknya dengan sopan. Namun Bismarck memanipulasinya melalui Ems Telegram seakan-akan penolakan itu begitu kasar dan menghina. Prancis marah dan Napoleon mendeklarasikan perang terhadap Prusia pada Juli 1870. Inilah tujuan Bismark: menjebak Prancis dalam perang. Akhirnya Prancis harus menanggung kekalahan yang berbuah penghinaan total ketika Unifikasi Jerman terjadi di Hall of Mirrors Versailles, 1 Januari 1871. Bismarck telah berhasil menjadikan Jerman sebagai kekuatan dominan di Eropa Tengah.
Tatanan Bismarckian
Unifikasi Jerman membawa perubahan signifikan pada keseimbangan politik Eropa. Tidak ada yang lebih memahaminya daripada Benjamin Disraeli yang pada 1871 mengatakan, “Unifikasi Jerman adalah peristiwa politik yang lebih besar daripada Revolusi Prancis. Anda memiliki dunia baru. Keseimbangan kekuatan telah hancur seluruhnya.” Melihat kelesuan Prancis dan melemahnya kekuatan Austria, pandangan Disraeli barangkali sangat tepat. Jerman muncul sebagai raksasa Eropa daratan.
Tugas utama Bismarck dalam tatanan politik yang telah dibentuknya adalah bagaimana menjauhkan Prancis dari kemungkinan aliansi dengan kekuatan darat yang besar di timur, yakni Rusia. Bismarck mengatakan, “aliansi antara Prancis dan Rusia terlalu alami sehingga seharusnya tidak perlu terjadi.” Aliansi dua kekuatan darat itu adalah ancaman besar bagi Jerman. Karenanya, selain mengisolasi Prancis, Bismarck berusaha menjaga hubungan kemitraan yang baik dengan St. Petersburg. Pada tahun 1873, Bismarck membentuk Liga Tiga Kaisar (Dreikaiserbund) antara Jerman, Rusia, dan Austria. Bismarck berusaha mencegah perpecahan Rusia-Austria mengenai masalah Balkan.
Masalah Balkan turut merepotkan bagi Bismarck, karena bisa memicu kehancuran tatanan yang sedang dirajutnya. Dengan keyakinan Slavik-nya, Rusia berambisi memperoleh wilayah Balkan. Kebijakan ekspansifnya di Asia Tengah juga memantik permusuhan dari Inggris, yang membuat percaturan politik Eropa semakin rumit. Namun masalah Balkan telah menarik perhatian Bismarck, kendati ia memiliki kepentingan yang minim menyangkut perebutan wilayah tersebut. Kepentingan utama Bismarck adalah, sebagaimana ditulis Henry Kissinger dalam Diplomacy, menjaga stabilitas Eropa dan mencegah terbentuknya aliansi yang bisa melawan Jerman.
Sejak tahun 1876, Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Gorchakov menyarankan kepada Bismarck untuk menyelenggarakan kongres Eropa dalam upaya menyelesaikan masalah Balkan. Dua tahun kemudian dilaksanakanlah Kongres Berlin yang turut melibatkan Inggris, Austria, Turki, Rusia, dan tentu saja Jerman sebagai tuan rumah. Rusia kecewa dengan hasil dari Kongres Berlin, dan justru menyalahkan Bismarck. Ini menandai perpecahan Liga Tiga Kaisar yang tak bisa dihindari.
Bismarck tak bisa mengelak realita ini, akhirnya ia berusaha untuk membangun aliansi dengan Austria pada 1879. Pada tahun 1882, Bismarck menyertakan Italia dalam aliansi, sehingga terbentuklah Triple Alliance antara Jerman, Austria, dan Italia. Naik tahtanya Tsar Alexander III di Rusia pada 1881 membuat hubungan Jerman-Rusia semakin renggang, karena Tsar tidak mempercayai Bismarck. Ia menolak untuk memperbarui Liga Tiga Kaisar pada 1887. Namun Bismarck masih membuat kebijakan jenius terakhirnya untuk mempertahankan hubungan baik dengan Rusia melalui Perjanjian Reasuransi.
Namun kematian Wilhelm I, pemerintahan singkat Frederick III, hingga berkuasanya Wilhelm II mengubah semua aturan politik rumit yang ditetapkan Bismarck. Wilhelm memecat sang negarawan tua pada Maret 1890. Jonathan Steinberg benar ketika menulis dalam bukunya Bismarck: A Life, bahwa Bismarck membentuk Jerman tapi tidak pernah menguasainya. Pemecatannya adalah bukti yang nyata. Sebagaimana ditulis Kissinger, selama hampir dua dekade Bismarck mempertahankan perdamaian dan meredakan ketegangan dengan kebijakannya yang fleksibel. Itu semua berakhir setelah ia tak lagi menjadi tokoh dominan dalam diplomasi Eropa. Kepergian Bismarck menandai hancurnya keseimbangan dalam tatanan politik Eropa yang secara ironi akan membawa Eropa menuju persaingan tajam yang membuahkan perang besar pada tahun 1914.
