Konten dari Pengguna

Pangeran Kaunitz dan Revolusi Diplomatik 1756

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangeran Anton Wenzel von Kaunitz-Rietberg. Menteri luar negeri yang menjadi arsitek kebijakan luar negeri Maria Theresa. Sumber foto: istockphoto.
zoom-in-whitePerbesar
Pangeran Anton Wenzel von Kaunitz-Rietberg. Menteri luar negeri yang menjadi arsitek kebijakan luar negeri Maria Theresa. Sumber foto: istockphoto.

Kisah yang hampir khayali namun nyata terjadi dan bukan gubahan karya fiksi. Seorang wanita berusia 23 tahun yang sedang mengandung, secara tiba-tiba menerima mandat sebagai penguasa kekaisaran terbesar di Eropa, dan ia harus menghadapi jenius militer paling tangguh sejak Alexander Agung: inilah kisah Maria Theresa dari Austria dan Frederick Agung dari Prusia. Rivalitas dua raksasa Eropa itu, berdinamika dengan manuver seorang diplomat paling brilian di Abad ke-18, yakni Pangeran Kaunitz yang turut berperan menciptakan sebuah karya transformasional yang mengubah arah sejarah Eropa ketika berderap menuju Perang Tujuh Tahun (Seven Years War): Revolusi Diplomatik 1756 (Renversement des alliances). Kaunitz tidak hanya mereposisi bidak permainan, namun juga aturan mainnya!

Domba Terluka dan Serigala Pemangsa

Sejarawan Jerman Barbara Stollberg-Rilinger dalam buku fenomenalnya yang berjudul Maria Theresa: The Habsburg Empress in Her Times, menulis bahwa kisah Maria Theresa tak ubahnya seperti cerita dongeng. Kisah seorang perempuan muda yang baru menginjak undakan usia 23 tahun, yang secara dramatis harus memimpin sebuah kekaisaran raksasa yang sedang melemah, dengan musuh berbahaya yang ada di sekelilingnya.

Kaisar Habsburg Charles VI, yang tiada lain adalah ayah dari Maria, sudah mempersiapkan sang putri sebagai suksesornya. Keinginan Charles membentur benteng tebal Hukum Salik (Salic Law) yang melarang suksesi diserahkan kepada anak perempuan. Kendati demikian keinginan sang kaisar tak tergoyahkan. Ia membuat Pragmatic Sanction yang menegaskan bahwasaanya tahta harus tetap jatuh kepada Maria. Kaisar kemudian memerintahkan diplomat utamanya, Johanna Christoph von Bartenstein, untuk melobi para penguasa Eropa agar menyetujui dokumen tersebut.

Ada penentangan kuat, terutama dari Elektor Bavaria Charles Albert yang dengan dukungan Prancis menentang klaim tahta Maria. Ini menjadi bibit-bibit awal krisis Suksesi Austria. Hingga tibalah waktu ketika tahta itu harus beralih, tepat ketika Kaisar Charles VI meninggal dunia, dan Maria yang berusia 23 tahun dalam keadaan sedang mengandung dinobatkan menjadi penguasa Habsburg.

Maria Theresa of Austria. Penguasa Habsburg yang berhasil menghadapi Frederick the Great. Sumber foto: istockphoto.

Saat Kekaisaran Habsburg sedang terbelit persoalan suksesi, ada seorang penguasa tahta Prusia yang sedang menunggu waktu untuk mengepakkan sayap ambisinya. Ialah Frederick II, yang menjadi raja Prusia lima bulan sebelum wafatnya Kaisar Charles VI. Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Tim Blanning dalam bukunya Frederick the Great: King of Prussia, Sang Raja menjadi suksesor ayahnya, Raja Frederick William I yang meninggal dunia pada tahun 1740, ketika Frederick berusia 28 tahun.

Sempat dipandang penuh keraguan dan skeptisisme karena kepribadian feminin yang melekat padanya, nyatanya Frederick akan menjadi salah satu jenius militer terbesar yang menuliskan namanya dengan tinta emas sejarah. Tim Blanning menulis bahwa Frederick diwariskan sebuah tahta kerajaan yang memiliki sumber daya yang sangat memadai, terutama dalam kualitas dan kuantitas militernya. Prusia akan dilekatkan dengan militerisme yang gemilang, dan inilah yang digunakan oleh Frederick untuk mendukung ambisinya.

Perang Suksesi Austria menjadi teater pertama Frederick untuk menguji ketangguhan tentaranya. Memimpin sekitar 27 ribu pasukan, Frederick menyerang Silesia, yang digambarkan oleh Bartenstein sebagai “permata sejati Austria.” Penguasa muda Austria, Maria Theresa, dibayang-bayangi awan gelap kehancuran dari kekaisaran yang dipimpinnya dengan mendeskripsikan situasinya sebagai “tanpa uang, tanpa tentara, dan tanpa nasihat.” Serigala pemangsa yang lapar itu kini mengoyak tubuh domba yang sedang terluka.

Strategi Kaunitz

Frederick Agung menjadi leviathan ancaman paling mengerikan bagi Austria. A. Wess Mitchell dalam bukunya Great Power Diplomacy menulis bahwasannya dalam menghadapi Frederick, Austria mengalami kelelahan hebat dan kehilangan wilayah. Perang Suksesi Austria yang dimulai tahun 1740, berakhir pada Oktober 1748 dengan ditandatanganinya Perjanjian Aix-la-Chapelle yang secara tak terelakkan mengukuhkan kepemilikan Prusia atas Silesia. Maria Theresa kehilangan wilayah yang paling berharga dalam kekaisarannya.

Pada 1749, Maria Theresa mengumpulkan para penasihatnya untuk merumuskan kebijakan luar negeri. Salah satu yang hadir adalah seorang diplomat bernama Anton von Kaunitz-Rietberg. Dalam pertemuan tersebut, Kaunitz mengemukakan keyakinannya bahwa “Frederick akan menjadi musuh terbesar, paling berbahaya, dan paling keras kepala bagi Austria.” Ide Kaunitz berpusat pada keharusan Austria untuk melawan ambisi Frederick, bahkan jika harganya adalah rekonsiliasi dan aliansi dengan musuh bebuyutan Habsburg, yakni Prancis.

Raja Louis XV dari Prancis. Sumber foto: istockphoto.

Sejak saat itu, Maria Theresa menjadikan Kaunitz sebagai penasihat utama kebijakan luar negerinya. Pada 1750 Kaunitz menjadi perwakilan di Paris, dan tiga tahun kemudian diangkat menjadi menteri luar negeri Kekaisaran. Ide Kaunitz tentang kemungkinan aliansi dengan Prancis dan Rusia untuk melawan Prusia pada dasarnya mengancam aliansi tradisional Habsburg dengan Inggris dan Belanda. Banyak suara tidak setuju dari beberapa penasihat senior bahkan dari suami Maria Theresa sendiri, Francis Stephen, yang marah atas ide Kaunitz. Namun, sebagaimana ditulis A. Wess Mitchell, Kaunitz berhasil meyakinkan orang paling berkuasa di Kekaisaran, yakni Maria Theresa sendiri.

Pada tahun 1755, Maria Theresa mengutus duta besar Austria di Paris Adam von Starhemberg untuk mendekati Raja Louis XV. Melalui gundik raja Madame de Pompadour, Starhemberg menyampaikan tawaran Maria untuk Louis XV, mengenai kemungkinan aliansi Bourbon-Habsburg dalam melawan Prusia. Upaya pendekatan ini tiada lain adalah manifestasi dari ide Kaunitz. Louis memandang tawaran ini sebagai peluang untuk melawan Inggris yang semakin hawkish setelah kekalahan Jenderal Edward Braddock oleh Prancis di Amerika Utara.

Pada Januari 1756, Frederick mengajukan tawaran kepada Inggris untuk menyepakati Pakta Non-Agresi, yang segera disetujui oleh Inggris, terutama untuk mengamankan Hanover. Maria Theresa marah dan memutus aliansi dengan Inggris. Louis XV juga marah dan memutus aliansi dengan Prusia dan kemudian menyepakati aliansi dengan Austria dalam Perjanjian Versailles Mei 1756. Kaunitz berhasil mewujudkan idenya untuk beraliansi dengan Prancis dalam melawan Prusia.

Frederrick II dari Prusia (Frederick the Great). Sumber: istockphoto.

Kaunitz juga tidak melupakan kekuatan darat terbesar Eropa, yaitu Rusia. Kemudian terjadilah kesepakatan antara Maria Theresa dan Tsarina Elizabeth untuk membentuk aliansi mencegah Frederick Agung di Polandia. Kaunitz berhasil meyakinkan Tsarina Elizabeth untuk menjanjikan bantuan puluhan ribu tentara bagi Austria. Kaunitz, sebagaimana ditulis A. Wess Mitchell, berhasil menyusun ulang papan permainan menjadi menguntungkan bagi Austria. Ia menjadi arsitek utama dalam Revolusi Diplomatik 1756, yang secara serentak mengubah peta aliansi Eropa saat meletusnya Perang Tujuh Tahun.

Arsitektur aliansi baru di Eropa yang dipimpin Habsburg berhasil memukul mundur Frederick Agung. Kendati demikian, Dewi Fortuna masih bersemayam di pedang Frederick, ketika pada tahun keenam perang Tsarina Elizabeth meninggal dunia dan penerusnya, Tsar Peter III, mengalihkan aliansi mendukung Prusia. Kematian Elizabeth disebut sebagai “keajaiban wangsa Brandenburg” ketika Frederick berhasil lolos dari kekalahan.

Walaupun tidak berhasil menghadiahkan kekalahan telak pada Frederick Agung, Kaunitz berhasil menata ulang aliansi Eropa yang menguntungkan Austria. Motivasi kebijakan luar negerinya selalu didasarkan pada raison d’etat, yaitu menempatkan kepentingan negara diatas apapun. Kaunitz tidak ragu untuk mendobrak ikatan aliansi tradisional ataupun mendekat kepada musuh warisan antargenerasi, hanya untuk kepentingan negaranya.