Sepeninggal Ali Khamenei

Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran - Politik, Sastra, dan Sejarah
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ada tiga sebab pertengkaran: kompetisi, rasa malu, kemuliaan. Yang pertama menyerang untuk keuntungan, kedua untuk keamanan, ketiga untuk reputasi” - Thomas Hobbes, Leviathan
Maut tiba di kediaman sang pemimpin tertinggi. Serangan terhadap Iran di penghujung bulan Februari lalu, menjemput Ayatollah Ali Khamenei pulang ke haribaan sang pencipta. Setelah simpang siur sesaat, kabar kematiannya tersebar ke seluruh penjuru dunia. Respons atas kematiannya hampir terbagi secara diametral: banyak yang berkubang dalam kesedihan, namun tidak sedikit juga yang merayakannya penuh sukacita. Ini menandai sebuah persimpangan sejarah, tidak hanya bagi Iran, namun juga bagi Timur Tengah dan dunia. Kematian Khamenei membuahkan lubang menganga ketidakpastian dan tanda tanya besar.
Diplomasi Berakhir Eskalasi
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa pada akhirnya membentur kebuntuan dan membuahkan perang. Dua hari sebelum serangan terkoordinasi AS-Israel terhadap Iran, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi selaku mediator, menyebut bahwa perundingan di Jenewa telah mencapai “kemajuan signifikan dalam negosiasi.” Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa mereka telah “mencapai kesepakatan mengenai beberapa isu, dan ada perbedaan mengenai beberapa isu lainnya.” Belum ada kesepakatan final, tapi jalan menuju kesepahaman sudah cukup terbuka.
Sayangnya, jalan itu ternyata buntu. Diplomasi yang melelahkan dan menguras emosi itu terakumulasi menjadi sebuah keputusan di Washington DC untuk melancarkan serangan ilegal ke Iran. Serangan itu menjadi serangan koordinatif antara AS dan Israel. Pada hari dilancarkannya serangan, Sabtu 28 Februari 2026 lalu, Trump merilis sebuah pernyataan yang menjelaskan keputusannya untuk menyerang Iran.
Trump menyatakan bahwa serangan itu bermaksud: menghancurkan rudal dan meluluhlantakkan industri rudal Iran, menghancurkan angkatan laut Iran, menghancurkan seluruh pasukan perlawanan proksi yang didukung Iran (Trump menyebutnya kelompok teroris), memastikan bahwa Iran tidak bisa membuat senjata nuklir, serta mengultimatum Garda Revolusi Iran untuk menyerah disertai seruan kepada rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan.
Max Boot, seorang ahli studi keamanan di Council on Foreign Relations (CFR), menyebut bahwa tujuan perang Trump itu sangat ambisius dan karenanya tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan serangan udara saja. Namun serangan udara AS-Israel berhasil menewaskan figur sentral dalam politik Iran, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dunia terhenyak saat tokoh yang mendominasi politik Iran selama tiga dekade itu dikabarkan tewas di rumahnya pada 28 Februari lalu.
Respon atas kematian pemimpin agung Iran tersebut hampir terbelah secara diametral. Ada kebahagiaan dan perayaan di satu sisi, tetapi ada duka mendalam dan kemarahan di sisi lain. CNN (02/03) mewawancarai beberapa orang Iran, dan menyimpulkan bahwa kematian Ali Khamenei telah menimbulkan perasaan lega, tidak percaya, dan cemas (relief, disbelief and anxiety). Di beberapa tempat, kematian Khamenei dirayakan sebagai awal dari akhir (the beginning of the end) dari sebuah rezim teokrasi yang dianggap menindas.
Di sisi lain, ada perasaan marah dan terhina luar biasa saat pemimpin spiritual yang begitu dihormati harus gugur dalam serangan ilegal AS-Israel. Reuters mendeskripsikan situasi ini dengan sangat baik dalam judul sajian laporannya, “Anger and jubilation: Scenes from protests around the world after Iran attacks.” Ada perayaan ada kemarahan, dan itu semua membuahkan ketidakpastian.
Pasca-Khamenei
Kematian seorang pemimpin selalu mengandung arti tertentu dalam sejarah. Terlebih ketika kematian itu tiba saat sang pemimpin sedang ada di puncak kekuasaannya. Kematian Tsarina Elizabeth saat Perang Tujuh Tahun, kematian Tsar Nicholas I saat Perang Krimea, kematian Franklin D. Roosevelt di episode akhir Perang Dunia II, serta kematian mendadak Kennedy di puncak rivalitas Perang Dingin, semuanya menyisakan tanya: seberapa besar dampak dari kematian sang pemimpin. Tanya itu kini kembali hadir saat Ali Khamenei, seorang pemimpin dominan di Iran dan salah satu tokoh muslim paling berpengaruh di dunia tewas.
Dalam diskusi yang diadakan oleh Council on Foreign Relations pada 2 Maret 2026, Elliot Abrams, seorang pengamat politik Timur Tengah menyebut bahwa tewasnya Khamenei akan membawa perubahan besar bahkan jika rezim Iran bisa mempertahankan eksistensinya. Menurut Abrams, tidak ada tokoh yang bisa mengisi jabatan ‘supreme leader’ yang ditinggalkan Khomeini dan Khamenei, dan itu akan cukup melemahkan Iran sebagai sebuah kekuatan.
Pendapat berbeda disampaikan oleh Ray Tayekh, seorang peneliti senior dan ahli masalah Iran dan Timur Tengah di CFR. Menurutnya, rezim Iran mampu berfungsi tanpa Ali Khamenei, karena pada dasarnya kekuasaan Khamenei sudah cukup berkurang. Iran juga memiliki sistem politik yang terkoneksi cukup baik yang akan cepat tanggap menjalankan cara kerja sistemnya dalam mengisi kekosongan yang ditinggalkan Khamenei. Pendapat Tayekh ini diperkuat dengan kabar terpilihnya pemimpin baru yakni anak dari Ali Khamenei sendiri, Mojtaba Khamenei. Kendati demikian, seiring eskalasi yang masih berlanjut, ketidakpastian masih membayang.
Saat ini, satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian. Eskalasi serangan AS-Israel masih berlanjut dan serangan balasan Iran semakin gencar bahkan menyasar negara-negara Teluk. Dampak dari tewasnya Khamenei masih samar untuk dianalisis, setidaknya sampai saat ini. Apa dampaknya bagi kelangsungan rezim Republik Islam Iran, dampaknya terhadap peta politik Timur Tengah juga stabilitas dunia, semuanya masih samar dan serba tidak pasti. Namun ada beberapa poin penting yang bisa digarisbawahi atas tewasnya Ali Khamenei.
Pertama, tewasnya Khamenei oleh serangan AS-Israel akan menambah preseden buruk dalam politik dunia, di mana pemimpin sebuah negara berdaulat bisa dibunuh begitu saja hanya karena dianggap sebagai ancaman eksistensial dan enggan untuk tunduk pada kehendak si pembunuh. Sebuah tontonan telanjang dari arogansi kekuatan dan penghinaan yang terang-terangan terhadap kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri sebuah bangsa.
Kedua, diplomasi akan dipandang sebagai kepura-puraan. Aksi militer AS-Israel terhadap Iran hanya menegaskan kepada kita semua bahwa diplomasi seringkali hanya seremoni tanpa arti, bahkan saat kesepakatan disebut perlahan terwujud di Jenewa, serangan militer menghancurkan semuanya. Luluh lantak tak bersisa. Rasa saling percaya raib seketika, padahal rasa itulah yang sulit untuk dihadirkan. Sebagaimana kata pepatah: kepercayaan datang dengan jalan kaki, dan pergi dengan naik kuda. Jadi, apa alasan bagi Iran untuk kembali mempercayai Presiden Trump?
Ketiga, dunia menyaksikan bahwa kepercayaan apa pun yang diberikan kepada Trump adalah kenaifan, jika bukan kebodohan. Serangan AS atas Iran, seharusnya memberikan sinyal yang semakin kuat bahwa penguasa di Gedung Putih itu bukanlah seseorang yang bisa dipercaya sama sekali. Ini bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengevaluasi keterlibatannya di Board of Peace (BoP) yang digagas Trump. Apakah rasional untuk melibatkan diri dalam organisasi yang digagas dan dipimpin oleh seorang pembohong dan penghasut perang seperti Trump. Perdamaian yang selama ini dielu-elukannya, bahkan ia menyebut dirinya sebagai President of Peace, hanya kemunafikan yang menjijikan.
