Konten dari Pengguna
Truman, Tirai Besi, dan Birai Peradaban
3 Agustus 2025 6:56 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Truman, Tirai Besi, dan Birai Peradaban
Truman harus menahkodai bahtera raksasa di tengah deburan ombak besar dan riak gelombang persaingan kekuasaan global.Adrian Aulia Rahman
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Duta Besar Averell Harriman yang berada di Moskow, segera bergegas kembali ke Washington DC, setelah malam sebelumnya menerima kabar kematian Presiden Franklin Delano Roosevelt. Harriman merasa perlu mendampingi Harry S. Truman, presiden baru yang jarang sekali dilibatkan dalam urusan luar negeri dan sama sekali tidak berpengalaman. Truman dipandang dengan ragam keraguan banyak pihak. Bagi banyak orang, kemegahan FDR berhasil menggelapkan cahaya potensi pada diri mantan senator dari Missouri tersebut. Namun wakil menteri luar negeri, Dean Acheson, memilih untuk optimis dengan mengatakan “Saya pikir dia (Truman) akan belajar dengan cepat dan menginspirasi kepercayaan”. Truman harus menahkodai bahtera raksasa di tengah deburan ombak besar dan riak gelombang persaingan kekuasaan global.
ADVERTISEMENT
Akhir Perang
Menyerahnya Jerman Nazi pada Mei 1945 menandai akhir perang besar di Eropa. Namun front Pasifik masih berkecamuk dalam perang. Presiden Truman memutuskan langkah drastis dengan mengebom dua kota besar di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, pada Agustus 1945. Jepang menyerah, perang di front Pasifik berakhir, dan Perang Dunia II sepenuhnya usai. Tidak sedikit yang menyayangkan langkah Truman untuk mengebom dua kota tersebut. Namun demikian, sebagaimana dicatat William E. Leuchtenburg dalam bukunya Di Bawah Bayangan FDR, Laksamana William D. Leahy menyebut FDR akan segera menggunakan bom atom. Artinya, dalam pandangan beberapa pejabat tinggi di Washington DC, penggunaan bom atom ini adalah keniscayaan, siapapun presidennya.
Salah satu pertanyaan besar yang menanti jawaban Truman adalah, bagaimana relasi AS-Soviet di dunia pasca-perang. Saat musuh bersama yang menyatukan dua kekuatan terbesar di dunia ini raib, apa lagi yang bisa menjadi perekatnya. Pada Februari 1946, George Frost Kennan yang bertugas sebagai asisten kedutaan di Moskow mengirimkan telegram, yang kemudian dikenal dengan Long Telegram. Kennan memperingatkan bahwa Soviet tidak mempan dengan logika berpikir, tetapi sangat sensitif terhadap logika kekuasaan.
Peringatan Kennan tersebut membuat Truman dan orang-orang di sekitarnya semakin curiga terhadap maksud dan tujuan Uni Soviet. Bipolaritas global mulai menampakkan tanda-tandanya, saat dua negara adidaya dunia tersebut semakin tak sehaluan. Pada Maret 1946, Duta Besar Walter Bedell Smith yang baru ditunjuk Truman, tiba di Moskow. Smith mengunjungi Kremlin untuk bertemu dengan Stalin. Isi percakapan antara Duta Besar Smith dan Sang Generalissimo ditulis oleh Tim Weiner dalam bukunya Legacy of Ashes. Smith bertanya, “apa keinginan Soviet dan sejauh mana Soviet akan mengejar keinginan itu?”. Stalin menjawabnya dengan mengatakan, “kami tidak akan pergi terlalu jauh”. Jawaban ambigu tersebut semakin memupuk kecurigaan dan rivalitas antara kedua negara.
ADVERTISEMENT
Eropa yang Bertirai Besi
Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, menyampaikan pidato di Westminster College, Missouri, pada 5 Maret 1946. Pidato berjudul The Sinews of Peace tersebut terkenal karena istilah yang digunakan Churchill yakni Tirai Besi atau Iron Curtain. Churchill menggambarkan Eropa yang terbelah antara Eropa bebas di sebelah barat, dan Eropa yang terkungkung dalam bayang-bayang komunisme di Timur, yang dipisahkan oleh sebuah tirai besi yang membentang dari Stettin di Balik hingga Trieste di Adriatik.
Pidato Churchill menjadi salah satu tanda dari gerak sejarah menuju bipolaritas dunia yang tak terelakkan. Aliansi masa perang dengan Uni Soviet adalah cerita masa lalu saat ancaman fasisme sedang membayangi Eropa dan dunia. Kini, komunisme Stalinlah justru yang menjadi ancaman bagi dunia, khususnya peradaban Barat. Kemenangan Partai Komunis Prancis dalam pemilu legislatif 1945, serta kemenangan koalisi Partai Komunis Italia dan Partai Sosialis Italia pada 1946, membuat ketakutan itu semakin nyata.
ADVERTISEMENT
Pada Februari 1947, duta besar Inggris menyatakan bahwa Inggris akan menarik bantuan ekonomi dan militer dari Turki dan Yunani. Ini menciptakan kekhawatiran baru di Gedung Putih. Truman bersama Dean Acheson segera melakukan pertemuan dengan Arthur Vandenberg, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Truman berusaha membujuk Vandenberg agar mendukung kebijakan luar negerinya terhadap Soviet. Arthur Vandenberg mendukungnya dan mengatakan, “Bapak Presiden, satu-satunya cara yang harus anda ambil adalah berpidato untuk menakut-nakuti”. Maka pada 12 April 1947, dalam sidang gabungan Kongres, Truman berpidato tentang ancaman komunisme dan perlunya bantuan untuk Turki dan Yunani. Sejak saat itu, dunia mengenal istilah Doktrin Truman (Truman Doctrine).
Pada Juli 1947, beberapa bulan setelah tercetusnya Doktrin Truman, George F. Kennan dengan nama samaran Mr. X, menulis sebuah artikel di Foreign Affairs dengan judul The Sources of Soviet Conduct. Tulisan Kennan tersebut melahirkan satu kebijakan paling terkenal saat Perang Dingin, yakni containment policy, dimana AS harus menjadi kekuatan yang bisa membendung ambisi global komunisme Uni Soviet. Gagasan Kennan ini didukung penuh oleh Menteri Angkatan Laut James Forrestal, yang kemudian diangkat sebagai menteri pertahanan pertama Truman.
ADVERTISEMENT
Pada Maret 1948, Jenderal Lucius D. Clay selaku kepala pasukan pendudukan di Berlin, melapor kepada Pentagon bahwa Soviet bisa menyerang kapan saja. Laporan Clay membuat kecurigaan dan ketakutan di AS semakin menjadi-jadi. Truman segera memimpin rapat gabungan Kongres untuk meminta persetujuan mengenai program Marshall Plan. Rencana yang memakai nama Menteri Luar Negeri George Marshall tersebut disepakati, serta menyediakan dana sangat besar untuk rekonstruksi Eropa, dan paling penting untuk mencegah penyebaran komunisme. Kennan yang telah menjadi seorang kremlinologist yang sangat dihormati di AS, mengatakan bahwa Doktrin Truman dan Marshall Plan adalah bagian dari strategi besar untuk melawan Stalin. Namun pertanyaan besar kemudian, bisakah Truman menegaskan birai atau batasan peradaban yang membelah antara AS yang selalu dielu-elukan sebagai pemimpin dunia bebas dan pencinta demokrasi, dengan musuhnya, Uni Soviet, yang selalu dicitrakan sebagai antitesa kebebasan dan demokrasi Barat.
ADVERTISEMENT
Seberapa Tegas Birai Peradaban Itu?
“Komunisme menjadi tantangan nyata bagi peradaban Kristen”, ujar Winston Churchill. Eksistensi Uni Soviet sebagai kekuatan komunis terbesar dan terkuat di dunia, menjadi ancaman eksistensial yang mengkhawatirkan bagi para pemimpin Barat, terlebih pemimpin yang berhaluan anti-komunis seperti Churchill, dan tentu saja, Harry S. Truman. Dunia Barat yang selalu mengagungkan kebebasan, demokrasi, hak asasi, dan warisan luhur Judeo-Kristen, merasa tertantang dengan adanya entitas politik yang demikian kuat, yang secara ideologis dan peradaban menjadi antitesa Barat.
Apa yang dilakukan oleh Harry Truman pada masa kepresidenannya, tentu merupakan upaya untuk menciptakan birai yang tegas antara peradaban Barat dan peradaban komunis yang menjadi antitesanya. Batasan atau birai peradaban yang berusaha ditonjolkan ini di orkestrasi dengan berbagai ungkapan-ungkapan dalam banyak pidato Truman yang menekankan kebebasan, hak asasi, dan demokrasi, yang menjadi nilai-nilai fundamental dalam peradaban Barat. Ada semacam deklarasi untuk mempolarisasi dunia, dimana AS dan sekutunya adalah good guy pemuja kebebasan dan demokrasi liberal, dan Soviet serta sekutunya adalah bad guy yang menjadi penentangnya.
ADVERTISEMENT
Namun sayangnya, birai peradaban yang berusaha diciptakan itu menjadi kabur dan tak berarti saat logika kekuasaan bermain di belakangnya. Perang Dingin bukanlah konfrontasi antara si jahat dan si baik. Tidak sama sekali. Betapapun sering slogan-slogan tentang kebebasan diungkapkan, motivasi dan logika kekuasaan tetap merajai semua kebijakan. Salah satu contohnya adalah, manuver intelijen AS di dunia, yang kadang kala menghalalkan segala cara agar maksud dan tujuannya tercapai. Tidak ada nilai-nilai ideal dari demokrasi dan kebebasan Barat yang dijadikan panduan. Logika kekuasaanlah yang menjadi kemudi.
Truman turut serta berperan menciptakan Dinas Intelijen Pusat (Central Intelligence Agency, CIA), yang menjadi salah unsur penting persaingan kekuasaan Perang Dingin. CIA berperan sentral dalam melaksanakan berbagai aksi rahasia di luar negeri untuk membendung pengaruh komunisme, dan seringkali dengan cara-cara yang sama sekali tidak mencerminkan keluhuran peradaban Barat. Mereka tidak segan menggulingkan pemimpin yang dipilih secara demokratis, melakukan pembunuhan politik, menciptakan rezim diktator represif yang anti kebebasan, serta menciptakan tragedi kemanusiaan yang hebat dengan tidak segan-segan mendukung pembantaian massal. Itu semua karena kekuasaan. Tak ada satupun nilai peradaban Barat yang bisa menjustifikasi berbagai tindak kecurangan dan kekejaman itu, namun nyatanya itu terjadi. Seorang perwira CIA di Munich, Bill Coffin, mengatakan, “tujuan tidak selalu membenarkan segala cara, namun hanya cara-cara itulah yang membawa hasil”. Inilah logika kekuasaan.
ADVERTISEMENT
Dapat disimpulkan, dalam Perang Dingin, terutama di awal-awal kemunculannya, tak ada birai yang tegas antara AS dan entitas yang mereka anggap musuh ideologis dan ancaman peradaban. Dunia tak lebih dari bidak catur kekuasaan, yang orientasinya adalah supremasi politik, bukan menegakkan nilai-nilai luhur peradaban. Ironi yang harus diakui adalah, dunia di dalam tirai besi memang penuh kekejaman dan intrik licik, namun dunia di luarnya juga tidak lebih baik.

