Konten dari Pengguna

Wajah Janus Diplomasi KTT Alaska

Adrian Aulia Rahman

Adrian Aulia Rahman

Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran - Politik, Sastra, dan Sejarah

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Donald Trump. Sumber foto: Kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Donald Trump. Sumber foto: Kumparan.

Diktum Frederick Agung menyatakan bahwa, kepala negara harus, jika memungkinkan, menghindari pertemuan satu sama lain. Tentu saja semangat zaman kita tak bisa disepadankan dengan era saat Frederick Agung bertahta di Abad ke-18. Namun diktum ini bisa memberikan kita peringatan, bahwasannya kadangkala, pertemuan tingkat tinggi yang langsung melibatkan kepala negara tidak lebih dari seremoni nihil arti dan minim eksekusi.

Pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Vladimir Putin di Alaska baru-baru ini untuk membicarakan perdamaian di Ukraina membuat kita bertanya: apakah artinya dan seberapa besar dampaknya.

Rusia belum menentukan titik usai dalam melakukan ‘petualangan’ militernya di Ukraina. Resistensi dari Ukraina dengan berbagai solidaritas dukungan dari negara-negara NATO, membuat konflik ini tetap mengancam perdamaian dan stabilitas dunia. Kepentingan Putin bersilang jalan dengan kepentingan Zelensky. Tak ada titik temu, tak ada kompromi.

Di sisi lain, nun jauh di Washington DC, di bawah atap Gedung Putih, ada seseorang yang berambisi menjadi juru damai untuk menghentikan perang. Donald Trump, dengan cita-citanya menyandang hadiah Nobel perdamaian, berusaha menjajaki perdamaian (pursuing peace) antara dua negara yang berkonflik tersebut.

Bermula dari ancaman. Saat pertemuan dengan para pemimpin Eropa di Skotlandia, sebagaimana diberitakan Reuters (29/07/2025), Trump meminta Rusia untuk segera membuat kemajuan dalam mengakhiri perang. Jika tidak, sanksi siap menanti salam sepuluh sampai dua belas hari.

Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, merespons ultimatum Trump melalui media X dengan menulis bahwa ancaman tersebut bisa menyebabkan perang yang melibatkan AS. Trump berang atas pernyataan Medvedev. Sebagaimana diberitakan BBC News (01/08/2025), Trump mengirim dua kapal selam nuklir mendekati Rusia.

Namun ketegangan mereda saat Trump mengutus Steve Witkoff selaku utusan khusus presiden untuk bertemu Putin di Moskow. Pertemuan dilaksanakan pada 6 Agustus 2025. Putin sepakat untuk melakukan pertemuan dengan Donald Trump, dan negara bagian Alaska dipilih sebagai tempat pertemuan.

Alaska secara historis melekat dengan Rusia di mana dulunya adalah daerah yang dikuasai Tsar, sampai kemudian dibeli oleh Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri William Henry Seward pada 1867. Kedua pemimpin sepakat bertemu, dan seluruh mata dunia memandang ke Alaska.

KTT Alaska dan Aliansi Barat

“Tujuan diplomasi adalah mencapai kesepakatan” ujar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang dikutip oleh Stuart E. Eizenstat dalam bukunya The Art of Diplomacy. Pertemuan Trump-Putin di Alaska tentu bertujuan untuk mencapai kesepakatan. Putin disambut dengan gelaran karpet merah di Joint Base Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska. Pertemuan itu ‘hangat’ dalam arti yang sebenarnya. Trump menyambut Putin dengan raut wajah cerah dan tepuk tangan singkat.

Pertemuan dua pemimpin itu berlangsung selama tiga jam. Usai bertemu, Trump dan Putin memberikan pernyataan bersama untuk memberi tahu ke seluruh dunia bahwa pertemuan itu belum menghasilkan kesepakatan, termasuk gencatan senjata. Namun dua pemimpin itu mengaku pertemuan yang dilaksanakan adalah pertemuan produktif yang bisa mengarah pada tercapainya kesepakatan bersama.

Anne Applebaum dalam tulisannya yang berjudul Trump Has No Cards yang terbit di The Atlantic pada 16 Agustus, menyebut pertemuan Trump-Putin tidak lebih dari tragedi dan lelucon. Menurut Applebaum, Trump sama sekali tidak memiliki kartu atau daya diplomasi dalam menghadapi Putin.

Satu-satunya cara untuk memilikinya menurut Applebaum adalah dengan mempersenjatai Ukraina, sanksi Rusia, dan menangkan perang. Namun sejak awal, Trump adalah orang yang paling lantang menolak cara-cara itu.

Setelah tidak mencapai kesepakatan yang memuaskan, penyelesaian perang masih tertutup kabut tebal. Kedua pemimpin berpisah tanpa membawa kesepakatan berarti. Trump segera menghubungi Presiden Zelensky di Ukraina dan mengundangnya ke AS untuk membahas hasil KTT Alaska.

Para pemimpin Eropa khawatir apabila Zelensky mendapatkan penghinaan seperti kunjungan sebelumnya ke Gedung Putih pada Februari 2025 lalu, mereka juga was-was apabila Trump gegabah memaksa Zelensky melakukan kapitulasi dengan penyerahan wilayah.

Karenanya para pemimpin Eropa turut menemani Zelensky untuk bertemu Trump. Di antaranya, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Finlandia Alexander Stubb, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen, dan Sekjen NATO Mark Rutte. Tujuh pemimpin Eropa itu menjadi ‘bodyguard’ bagi Zelensky saat bertemu dengan Trump di Gedung Putih.

Pertemuan berlangsung di Gedung Putih pada 19 Agustus 2025. Para pemimpin Eropa berusaha meyakinkan Trump bahwa mereka sebagai aliansi semestinya memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina dan mendukung perdamaian yang adil dan abadi. Trump bersikap lunak, dan merencanakan pertemuan antara dirinya, Zelensky, dan Putin.

Masalah wilayah yang menjadi batu sandungan perundingan, memang tidak dibahas khusus. Namun mereka tentu mengkhawatirkan tuntutan Rusia atas wilayah Ukraina, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah sikap Trump yang bisa saja merestui tuntutan itu dan memaksa Zelensky terperangkap dalam konsesi merugikan. Ini adalah pertaruhan besar, seperti yang diucapkan Friedrich Merz, “ini bukan tentang wilayah Ukraina, ini tentang tatanan politik Eropa”.

Wajah Janus Diplomasi

Benang kusut konflik masih saling membelit dan belum terurai. Namun pertemuan antara Putin dan Trump di Alaska, kendati banyak kritikus yang melontarkan kritik dan skeptisisme, adalah suatu kemajuan. Titik beku hubungan Moskow-Washington perlahan mencair, dialog bisa terjalin, dan perdamaian yang didambakan bisa kembali diharapkan segera datang.

Trump dan Putin. Sumber foto: Kumparan.

Kendati demikian, KTT Alaska dan peristiwa yang mengikuti setelahnya, bisa saja menjadi tragedi diplomasi yang sangat fatal. Karenanya tepat kiranya apabila saya menganalogikannya dengan wajah Janus. Janus adalah dewa dalam mitologi Yunani, yang memiliki dua wajah menghadap ke arah yang berlawanan. Mencerminkan masa lampau dan masa depan. Namun bisa juga menjadi simbolisasi dualisme rasa, antara asa dan putus asa, antara harapan dan kemuraman. Inilah yang ada pada KTT Alaska dan peristiwa yang menyertai setelahnya.

Pertama, harapan itu harus selalu ada. Tiada ruginya memeluk asa. Pertemuan Trump-Putin di Alaska, paling tidak memecahkan titik beku hubungan dua kekuatan besar tersebut. Hubungan yang cair dan hangat antara dua kekuatan nuklir dunia itu jauh lebih baik daripada, konfrontasi dan bekunya relasi.

Dengan pertemuan tersebut, paling tidak sudah tampak terlihat peluang untuk dialog berikutnya, yang bisa mewujud menjadi sebuah kesepakatan damai dan permanen. Pertemuan tersebut juga bisa meredam tajamnya konfrontasi aliansi Barat dan Moskow, sehingga eskalasi tak perlu melebar. Pertemuan itu juga kemungkinan menjadi pintu gerbang awal untuk pertemuan trilateral antara Rusia-Ukraina dengan AS sebagai mediator. Hal ini sedang dipersiapkan oleh Trump.

Kedua, bahkan dalam sebongkah harapan, selalu sisakan ruang keraguan. Sangat dikhawatirkan apabila pertemuan dua negara adidaya tersebut bisa mendegradasi status dan posisi Ukraina sebagai negara berdaulat. Penyelesaian konflik Eropa Timur itu bisa saja hanya diputuskan melalui pembicaraan empat mata Trump-Putin.

Ambisi Trump untuk menciptakan perdamaian, bisa jadi mengikis kedaulatan Ukraina, dan itu tentu akan sangat menyakitkan bagi rakyat Ukraina. Untungnya, kejadian itu tidak terjadi di Alaska. Namun tidak menutup kemungkinan dalam pertemuan lainnya yang akan datang, peta Ukraina akan digambar ulang secara semena-mena oleh dua orang paling berkuasa di dunia itu. Inilah dua wajah Janus, di satu sisi ada harapan, namun disisi lain ada kekhawatiran dan keraguan.

NATO. Sumber foto: Kumparan.

Selain itu, ada beberapa catatan yang saya rasa penting guna mewujudkan perdamaian di Ukraina. Pertama, hentikan narasi triumfalisme Barat. Dalam arti, para pemimpin Barat terutama di Eropa tidak boleh menciptakan narasi dan kebijakan yang berusaha mempertontonkan kemegahan aliansi, yang bisa membuat Rusia merasa terancam dan tidak aman.

Misalnya saja ungkapan Sekjen NATO Mark Rutte yang menyatakan dalam salah satu wawancara bahwa NATO lebih kuat dari Kekaisaran Romawi dan Napoleon. Sebuah narasi tidak perlu dan omong kosong belaka. Kedua, tinjau ulang kebijakan ekspansi NATO.

Perluasan pengaruh NATO ke Timur membuat Rusia merasa dikepung dan terancam. Memang, perluasan NATO ini tidak bisa menjadi casus belli bagi Rusia untuk menginvasi sebuah negara berdaulat. Namun berusaha memahami kekhawatiran Rusia rasanya lebih baik daripada dengan sengaja membuat Moskow terisolasi dan terkepung aliansi Barat.

Ketiga, apabila dua hal tadi terjadi maka iklim politik koeksistensi damai di Eropa antara Rusia dan Eropa Barat bisa terwujud. Apabila konsesi untuk menjamin rasa aman Rusia telah diberikan, namun misalnya Moskow masih melanjutkan petualangan imperialismenya, maka satu dunia harus menghukumnya. Sebagai penutup, saya ingin mengutip apa yang ditulis William James Roosen dalam bukunya The Age of Louis XIV: The Rise of Modern Diplomacy, “Bagi orang cerdas, apakah ada yang lebih absurd daripada perang?”