Konten dari Pengguna

Diamnya Korban, Gagalnya Kita Mendengar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi korban kekerasan seksual yang memilih diam.(sumber:unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi korban kekerasan seksual yang memilih diam.(sumber:unsplash)

Kasus kekerasan seksual terus menjadi persoalan yang menghantui masyarakat Indonesia. Berbagai pemberitaan muncul silih berganti, mulai dari kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan, tempat kerja, hingga ruang publik. Namun, di balik kasus-kasus yang berhasil terungkap, ternyata kenyataan yang jauh lebih memprihatinkan: masih banyak korban yang memilih diam.

Ketika mendengar seseorang menjadi korban kekerasan seksual, pertanyaan yang sering muncul justru bukan tentang bagaimana kondisi korban, melainkan mengapa ia tidak melapor sejak awal. Tidak sedikit pula yang mempertanyakan alasan korban baru berani berbicara setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seolah telah menjadi respons yang lumrah di masyarakat. Padahal, bisa jadi masalah utamanya bukan karena korban tidak ingin berbicara, melainkan karena lingkungan belum siap untuk mendengarkan.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa sebagian besar korban kekerasan memilih untuk tidak melaporkan kasus yang mereka alami. Angka ini menjadi pengingat bahwa kasus yang tercatat secara resmi kemungkinan hanya sebagian kecil dari kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Dengan kata lain, masih banyak korban yang memilih memendam pengalaman mereka dalam diam.

Ketika Korban Takut pada Reaksi Lingkungan

Bagi sebagian orang, melaporkan kekerasan seksual mungkin terdengar sederhana. Namun bagi korban, keputusan tersebut sering kali menjadi salah satu hal paling sulit yang harus mereka lakukan. Setelah mengalami peristiwa traumatis, mereka tidak hanya berhadapan dengan rasa sakit akibat tindakan pelaku, tetapi juga dengan kemungkinan dihakimi oleh lingkungan sekitar.

Korban sering kali khawatir tidak akan dipercaya. Mereka takut dianggap berbohong, mencari perhatian, atau membesar-besarkan masalah. Dalam banyak kasus, korban justru mendapatkan pertanyaan yang menyudutkan, seperti bagaimana cara mereka berpakaian, mengapa berada di tempat tertentu, atau mengapa tidak melakukan perlawanan saat kejadian berlangsung.

Respons semacam ini secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa korban harus membuktikan dirinya tidak bersalah. Akibatnya, banyak korban merasa berbicara hanya akan membuka luka baru yang tidak kalah menyakitkan dibandingkan peristiwa yang mereka alami.

Diam Bukan Berarti Tidak Terluka

Salah satu kesalahpahaman yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa korban yang memilih diam berarti tidak mengalami dampak yang serius. Padahal, kekerasan seksual dapat meninggalkan trauma yang mendalam dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan korban. Trauma tidak selalu terlihat secara fisik. Banyak korban mengalami kecemasan berlebihan, kesulitan tidur, kehilangan rasa aman, hingga kesulitan mempercayai orang lain. Dalam kondisi seperti itu, menceritakan kembali pengalaman yang dialami bukanlah hal yang mudah. Setiap cerita yang diungkapkan dapat membawa mereka kembali pada ingatan yang ingin dilupakan.

Karena itu, diam sering kali bukan pilihan yang diambil karena korban tidak peduli terhadap keadilan. Sebaliknya, diam menjadi cara mereka bertahan ketika kondisi mental belum memungkinkan untuk berbicara.

Budaya Menyalahkan Korban Masih Mengakar

Salah satu alasan mengapa korban enggan bersuara adalah masih kuatnya budaya victim blaming atau menyalahkan korban. Alih-alih mempertanyakan tindakan pelaku, sebagian masyarakat justru lebih fokus mengkritik perilaku korban.

Fenomena ini dapat dilihat dari komentar-komentar yang kerap muncul setiap kali kasus kekerasan seksual mencuat ke publik. Korban dituntut untuk menjelaskan setiap detail kejadian, sementara pelaku terkadang justru mendapatkan pembelaan. Situasi seperti ini membuat banyak korban merasa bahwa mereka tidak akan memperoleh dukungan yang dibutuhkan jika memilih untuk berbicara. Padahal, tidak ada satu pun tindakan, pakaian, maupun pilihan hidup seseorang yang dapat dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan seksual. Tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku, bukan pada korban.

Belajar Menjadi Pendengar yang Lebih Baik

Masih banyaknya korban yang memilih diam seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mempertanyakan keputusan korban, tetapi lupa menciptakan ruang yang aman bagi mereka untuk bercerita.

Mendengar bukan sekadar membiarkan seseorang berbicara. Mendengar berarti memberikan rasa aman, menunjukkan empati, dan tidak terburu-buru menghakimi. Ketika seseorang berani menceritakan pengalaman traumatisnya, hal pertama yang mereka butuhkan bukanlah keraguan, melainkan dukungan.

Masyarakat, keluarga, institusi pendidikan, dan berbagai lembaga terkait memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang lebih ramah bagi korban. Semakin aman ruang yang tersedia, semakin besar pula kemungkinan korban berani mencari bantuan dan memperoleh keadilan.

Diamnya korban kekerasan seksual sering kali bukan lahir dari ketidakpedulian, melainkan dari rasa takut, trauma, dan kekhawatiran akan respons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, alih-alih terus bertanya mengapa korban memilih diam, mungkin sudah saatnya kita bertanya apakah kita sudah menjadi pendengar yang cukup baik bagi mereka.

Sebab terkadang, masalah terbesar bukanlah korban yang tidak mau berbicara. Masalahnya adalah masih banyak dari kita yang belum benar-benar siap untuk mendengar.