Gaya Dulu, Nabung Nanti: FOMO atau Kebutuhan?

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena gaya hidup masyarakat modern, terutama generasi milenial dan Gen Z, kerap kali mengundang kerutan di dahi para pengamat keuangan. Semboyan "Gaya dulu, nabung nanti" seolah telah bergeser dari sekadar gurauan menjadi sebuah realitas sosiologis yang dinormalisasi.
Namun, apakah tren mendahulukan gengsi ini murni karena Fear of Missing Out (FOMO), ataukah ada pergeseran paradigma di mana "tampil maksimal" kini telah bermutasi menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar?
Ketika Validasi Digital Menjadi 'Mata Uang' Baru
Secara psikologis, dorongan untuk selalu terlihat mengikuti tren sangat dipengaruhi oleh paparan media sosial. FOMO bukan lagi sekadar takut ketinggalan informasi, melainkan ketakutan akan pengucilan sosial secara digital.
Menurut studi yang dirilis dalam Journal of Behavioral Addictions, paparan konstan terhadap gaya hidup mewah orang lain di media sosial memicu pelepasan dopamin yang membuat seseorang merasa "harus" meniru standar tersebut agar tetap relevan. Membeli kopi estetik seharga Rp50.000 atau menghadiri konser internasional dengan sistem PayLater sering kali bukan karena fungsionalitasnya, melainkan demi konten yang menghasilkan validasi berupa likes dan comments.
Saat "Gaya" Berubah Menjadi Kebutuhan
Di sisi lain, tidak adil jika kita langsung menghakimi tren ini sebagai bentuk pemborosan semata. Dalam ekosistem kerja modern seperti industri kreatif, startup, hingga content creation penampilan dan kepemilikan gawai terbaru kerap dikategorikan sebagai investasi profesional.
Seseorang yang bekerja sebagai digital marketer atau influencer membutuhkan gawai dengan kamera terbaik untuk menghasilkan portofolio yang menjual. Dalam konteks ini, "gaya dulu" bertransformasi menjadi modal kerja untuk menghasilkan pendapatan yang lebih besar di masa depan (earning capacity).
Ilusi "Nabung Nanti" di Tengah Inflasi
Mengapa menabung sering kali ditaruh di urutan belakang? Alasan strukturalnya cukup menohok tingkat kenaikan gaji yang tidak sebanding dengan inflasi harga aset, terutama properti.
Bagi banyak anak muda, menabung secara konvensional terasa sia-sia ketika harga rumah naik 10% per tahun, sementara gaji hanya naik 3-5%. Hal ini memicu fenomena psikologis yang disebut doom spending perilaku menghabiskan uang untuk kesenangan jangka pendek karena merasa target finansial jangka panjang (seperti membeli rumah) sudah tidak mungkin tercapai.
Menemukan Jembatan Menabung Tanpa Kehilangan Gaya
Melarang generasi masa kini untuk sama sekali tidak menikmati hidup adalah langkah yang tidak realistis. Kuncinya bukan menghentikan kesenangan, melainkan mengubah formulasinya.
Gunakan Rumus 50/30/20: Alokasikan 50% pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan (gaya hidup/FOMO positif), dan wajib 20% di awal untuk tabungan atau investasi.
Kategorikan Gaya Hidup: Pilah mana pengeluaran gaya hidup yang memberikan return (misal: laptop baru untuk freelance) dan mana yang murni konsumtif (misal: baju baru setiap minggu).
Gaya dulu nabung nanti bisa menjadi bumerang finansial jika didasari oleh FOMO buta. Namun, ia bisa menjadi strategi adaptif jika "gaya" tersebut dikelola sebagai alat penunjang produktivitas. Bijaklah mengukur kapasitas dompet, karena likes di media sosial tidak bisa digunakan untuk membayar tagihan masa depan.
