Konten dari Pengguna

Katanya Anak Kos Belajar Mandiri, Padahal Kadang Cuma Belajar Menahan Diri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : (Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : (Unsplash)

Menjadi anak kos sering dianggap sebagai salah satu tahap untuk belajar mandiri. Jauh dari orang tua, mengurus kebutuhan sendiri, mengatur keuangan, sampai mengambil keputusan tanpa harus selalu meminta izin. Dari luar, kehidupan seperti ini memang terlihat seperti kebebasan. Tidak ada yang mengatur kapan harus pulang, apa yang harus dilakukan, atau bagaimana menjalani hari.

Namun, kebebasan itu datang bersama tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Ada banyak hal yang sebelumnya dikerjakan atau dipikirkan oleh orang tua, tetapi setelah tinggal sendiri semuanya berpindah ke pundak kita. Mulai dari memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi sampai memikirkan bagaimana menjalani satu bulan dengan kemampuan yang ada.

Salah satu hal yang paling cepat mengajarkan anak kos tentang realita adalah uang. Awal bulan biasanya terasa lebih longgar. Tetapi semakin mendekati tanggal tua, setiap pengeluaran mulai terasa penting. Makan, transportasi, kebutuhan kuliah, laundry, pulsa, hingga keperluan mendadak harus diperhitungkan karena semuanya menggunakan sumber yang sama: uang yang jumlahnya terbatas.

Dari situ muncul kebiasaan yang mungkin tidak pernah direncanakan sebelumnya. Ketika teman mengajak makan atau nongkrong, kita mulai mempertimbangkan kondisi dompet terlebih dahulu. Ketika melihat barang yang diinginkan, kita belajar menunda. Bahkan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya ingin dimiliki, terkadang kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah sekarang memang waktunya.

Kalimat “nggak dulu” akhirnya menjadi sesuatu yang akrab bagi anak kos. Bukan karena tidak ingin menikmati masa muda, tetapi karena ada kebutuhan yang harus ditempatkan di depan. Kita mulai memahami bahwa kemampuan membeli sesuatu bukan berarti kita harus selalu membelinya.

Sayangnya, keputusan seperti itu terkadang membuat kita merasa tertinggal. Di media sosial, kehidupan orang lain terlihat berjalan begitu mudah. Ada yang bisa nongkrong setelah kuliah, mencoba tempat makan baru, membeli barang yang diinginkan, atau pergi berlibur. Ketika melihatnya terus-menerus, kita bisa lupa bahwa setiap orang memiliki kondisi ekonomi dan tanggung jawab yang berbeda.

Karena itu, kehidupan anak kos tidak seharusnya diukur dari seberapa sering seseorang bisa menikmati hidup seperti yang terlihat di media sosial. Ada mahasiswa yang mendapat uang bulanan cukup, ada yang harus sangat berhati-hati dengan pengeluaran, dan ada pula yang bekerja sambil kuliah. Semua menjalani perjuangan dengan titik awal yang berbeda.

Selain persoalan finansial, tinggal jauh dari rumah juga mempertemukan kita dengan bentuk kesepian yang berbeda. Di rumah, hal-hal sederhana seperti ditanya sudah makan atau belum mungkin terasa biasa. Setelah tinggal sendiri, perhatian kecil seperti itu justru bisa menjadi sesuatu yang dirindukan.

Ketika sakit, kita harus mencari cara untuk mengurus diri sendiri. Ketika sedang punya masalah, tidak selalu ada keluarga yang langsung mengetahui. Ketika pulang kuliah dalam keadaan lelah, yang menunggu mungkin hanya kamar yang sepi. Dari pengalaman-pengalaman kecil tersebut, kita mulai memahami bahwa hidup mandiri bukan hanya soal mengurus kebutuhan, tetapi juga belajar menghadapi keadaan ketika tidak ada orang yang selalu berada di dekat kita.

Ada pula rasa tidak enak ketika harus meminta bantuan kepada orang tua. Apalagi ketika kita tahu bahwa mereka juga memiliki kebutuhan dan tanggung jawab sendiri. Keinginan untuk bisa memenuhi semuanya dengan kemampuan sendiri sering kali membuat kita memilih bertahan lebih dulu sebelum meminta pertolongan.

Tetapi mandiri tidak seharusnya berarti menolak bantuan dalam keadaan apa pun. Menurut saya, mandiri adalah kemampuan untuk bertanggung jawab atas kehidupan sendiri sekaligus memahami kapan kita memang membutuhkan orang lain. Meminta bantuan ketika diperlukan tidak menghapus proses kemandirian yang sudah kita jalani.

Pada akhirnya, kehidupan anak kos memang mengajarkan banyak hal yang tidak bisa didapat hanya dari bangku kuliah. Kita belajar mengatur prioritas, memahami konsekuensi, menghadapi kesepian, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan sendiri. Kita juga belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan pada waktu yang kita mau.

Karena itu, menurut saya, anak kos tidak perlu selalu dipuji hanya karena dianggap kuat dan mandiri. Di balik kemandirian itu, ada proses belajar yang tidak selalu mudah. Ada keputusan yang harus diambil, keinginan yang harus ditunda, dan hari-hari ketika kita hanya berusaha menjalani semuanya dengan kemampuan yang ada.

Mungkin menjadi anak kos memang membuat kita lebih mandiri. Tetapi bukan berarti kita harus selalu kuat.

Sebab terkadang, bentuk kedewasaan yang paling sederhana bukan tentang mampu memiliki semuanya, melainkan mampu mengatakan, “Aku memang ingin, tapi sekarang belum bisa,” lalu tetap melanjutkan hidup tanpa merasa gagal karenanya.