Umur 20-an dan Penyakit “Kok Dia Sudah, Aku Belum?

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi-pagi buka media sosial, teman sudah wisuda. Siang, ada yang upload diterima kerja. Sore, seseorang yang bahkan seumuran dengan kita sudah punya bisnis. Malamnya, ada yang mengumumkan pertunangan.
Lalu kita menatap layar sedikit lebih lama dan tiba-tiba bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya aku sudah sampai mana?”
Padahal beberapa menit sebelumnya kita baik-baik saja.
Inilah anehnya hidup di usia 20-an. Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun, tetapi entah bagaimana selalu merasa kalah. Tidak ada yang mengatakan kita tertinggal, tetapi melihat pencapaian orang lain membuat kita merasa seperti sedang berjalan terlalu lambat.
Kita mulai menghitung umur, menghitung pencapaian, bahkan menghitung apa saja yang belum kita punya. Bukan karena hidup kita benar-benar buruk, melainkan karena setiap hari kita disuguhi kehidupan orang lain yang terlihat jauh lebih maju.
Akhirnya muncul satu kalimat yang mungkin pernah terlintas di kepala banyak anak muda: “Kok dia sudah, aku belum?”
Masalahnya, kita sering lupa bahwa yang kita lihat hanyalah potongan kehidupan orang lain. Kita melihat hasil akhirnya, sementara kita sedang menjalani seluruh proses hidup kita sendiri.
Scroll sebentar, lihat orang lain sukses, lalu mulai merasa hidup sendiri gagal.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi rasanya cukup familiar bagi banyak anak muda. Buka Instagram, TikTok, atau media sosial lainnya, kita bisa menemukan teman yang sudah lulus, mendapat pekerjaan, punya bisnis, ikut berbagai kegiatan, memenangkan lomba, bahkan ada yang sudah menikah. Sementara kita masih sibuk memikirkan tugas kuliah, uang bulanan, atau sekadar mencoba bertahan menjalani hari.
Akhirnya muncul satu pertanyaan yang sering diam-diam menghantui: “Kok dia sudah, aku belum?”
Di usia 20-an, pertanyaan tersebut seolah menjadi penyakit yang mudah menular. Kita mulai mengukur kehidupan sendiri berdasarkan pencapaian orang lain. Ketika teman mendapatkan sesuatu lebih dulu, kita merasa tertinggal. Ketika melihat seseorang seusia kita sudah memiliki pekerjaan impian, kita mulai mempertanyakan pilihan sendiri. Bahkan pencapaian yang sebenarnya sudah cukup membanggakan terasa kecil hanya karena ada orang lain yang terlihat lebih jauh.
Masalahnya, media sosial membuat perbandingan itu semakin mudah.
Kita hanya perlu beberapa detik untuk melihat kehidupan orang lain. Yang muncul biasanya adalah bagian-bagian terbaiknya: kelulusan, pekerjaan baru, perjalanan, pencapaian, hubungan, atau foto-foto bahagia. Jarang sekali kita melihat bagian ketika mereka gagal, bingung, menangis, atau merasa tidak tahu harus melakukan apa.
Kita akhirnya membandingkan kehidupan nyata kita dengan highlight kehidupan orang lain.
Padahal, setiap orang punya titik awal, kondisi, kesempatan, dan jalan yang berbeda. Ada yang bisa langsung bekerja setelah lulus, ada yang harus melanjutkan pendidikan. Ada yang sudah menemukan bidang yang disukai sejak muda, ada juga yang masih mencoba berbagai hal untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Tidak semua orang harus mencapai hal yang sama pada usia yang sama.
Sayangnya, lingkungan juga sering membuat kita merasa seolah hidup memiliki jadwal yang harus dipatuhi. Umur sekian harus sudah lulus. Umur sekian harus sudah bekerja. Umur sekian harus punya pasangan. Setelah itu harus punya rumah, kendaraan, dan berbagai pencapaian lainnya.
Ketika belum mencapai salah satunya, kita merasa gagal.
Padahal hidup bukan daftar tugas yang harus dicentang berdasarkan umur.
Ada orang yang menemukan jalannya lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang sempat salah memilih jalan lalu kembali memulai dari awal. Semua itu tetap bagian dari perjalanan.
Yang sering kita lupakan adalah bahwa hidup bukan perlombaan. Tidak ada garis finis yang membuat seseorang otomatis lebih berhasil hanya karena sampai lebih dulu.
Mungkin selama ini kita bukan benar-benar tertinggal. Kita hanya terlalu sering melihat ke samping.
Kita sibuk menghitung pencapaian orang lain sampai lupa menghargai langkah yang sudah kita lakukan sendiri. Kita lupa bahwa bisa bertahan melewati masa sulit juga merupakan sebuah pencapaian. Berani mencoba sesuatu yang baru, menyelesaikan pendidikan, membantu keluarga, belajar mandiri, atau bahkan sekadar tetap berjalan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja juga memiliki nilai.
Bukan berarti kita tidak boleh punya target atau merasa termotivasi melihat keberhasilan orang lain. Justru pencapaian orang lain bisa menjadi inspirasi. Namun, inspirasi dan perbandingan adalah dua hal yang berbeda.
Inspirasi membuat kita berkata, “Aku juga ingin mencoba.”
Sedangkan perbandingan membuat kita berkata, “Kenapa aku tidak seperti dia?”
Kita perlu belajar membedakan keduanya.
Tidak apa-apa jika hari ini kita belum berada di tempat yang diinginkan. Tidak apa-apa jika perjalanan kita lebih lambat. Yang penting, kita tetap bergerak dengan arah yang sesuai dengan kehidupan kita sendiri.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Kita hanya terlalu sibuk melihat ke samping sampai lupa bahwa kita sendiri sebenarnya sedang berjalan.
