Cicilan Tiba-Tiba Makin Mahal? Ini Hubungannya dengan BI Rate 5,75%

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aulia eka wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan kamu baru saja mencicil motor atau ambil paylater buat beli laptop kuliah, terus tiba-tiba cicilan bulanannya naik padahal kamu nggak nambah utang sepeser pun. Kedengarannya aneh, tapi itu yang sedang terjadi di Indonesia sepanjang 2026. Dalam waktu kurang dari empat bulan, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dari 4,75% pada April menjadi 5,25% di Mei, lalu 5,50% di Juni, dan kini bertahan di 5,75% sejak Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026 (Bank Indonesia, 2026). Kenaikan setajam ini, dalam rentang waktu sesingkat itu, tergolong jarang terjadi dan langsung merambat ke kantong masyarakat, termasuk anak muda yang baru mulai melek finansial.
Yang bikin ironis, kenaikan ini justru terjadi saat daya beli masyarakat sedang melemah dan angka PHK tembus lebih dari 79 ribu orang sampai November 2025 (Kontan, 2025). Jadi, kenapa BI malah "mengerem" ekonomi dengan menaikkan bunga di saat yang kurang tepat ini? Dan seberapa besar efeknya ke cicilan yang sedang atau akan kamu ambil?
BI Rate Itu Sebenarnya Apa, Sih?
Sederhananya, BI Rate adalah "harga sewa uang" di level nasional. Kalau kamu meminjam uang ke teman, biasanya ada kesepakatan bunga sebagai kompensasi risiko dan waktu. Nah, BI Rate adalah acuan harga itu untuk seluruh sistem perbankan: semakin tinggi BI Rate, semakin mahal juga biaya bank untuk mendapatkan dana, dan biaya itu pada akhirnya diteruskan ke bunga kredit yang kita bayar (Mishkin, 2019).
Kenaikan BI Rate ke 5,75% ini diambil sebagai langkah pre-emptive alias jaga-jaga, untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga inflasi tetap di kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026-2027 (Prakoso, dalam Akses.co.id, 2026). Analoginya mirip orang yang buru-buru mengerem mobil sebelum lampu benar-benar merah, bank sentral lebih memilih "sakit sedikit sekarang" lewat bunga tinggi, ketimbang membiarkan rupiah dan inflasi lepas kendali di kemudian hari.
Efek Domino ke Kredit Konsumtif Anak Muda
Efek kenaikan BI Rate nggak cuma soal KPR orang tua kita. Kredit motor, kartu kredit, sampai skema paylater yang marak dipakai Gen Z juga kena imbas, karena bank dan perusahaan pembiayaan menyesuaikan biaya dana mereka. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang menunjukkan suku bunga kredit rata-rata sempat turun dari 9,20% (Maret 2025) ke 8,76% (Maret 2026), tapi penurunan itu terjadi sebelum rentetan kenaikan BI Rate Mei-Juni 2026, artinya tren ke depan berpotensi berbalik arah (Harian Energi, 2026).
KPR: Kenapa "Ambil Sekarang atau Tunggu" Jadi Dilema
Buat anak muda yang mulai mikirin rumah pertama, kenaikan BI Rate ini jadi dilema klasik. Pengamat properti Ali Tranghanda mencatat bahwa setiap kenaikan 1% bunga KPR bisa menurunkan minat masyarakat mengambil KPR sekitar 4-5% (Tranghanda, dalam Detik.com, 2026). Tapi di sisi lain, harga properti jarang turun signifikan hanya karena bunga naik, jadi menunda pembelian nggak selalu berarti "menang".
Untungnya, ada satu celah yang bisa jadi solusi jangka pendek: KPR subsidi untuk rumah bersubsidi tetap dipatok di bunga tetap 5% dan tidak terpengaruh oleh naik-turunnya BI Rate (Detik.com, 2026). Ini penting diketahui anak muda kelas menengah-bawah yang justru paling rentan terhadap kenaikan suku bunga komersial.
Paradoks Kebijakan: Bunga Naik di Tengah Daya Beli yang Melemah
Ini bagian yang paling menarik untuk direnungkan. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut persoalan kelas menengah saat ini bukan sekadar perlambatan ekonomi biasa, melainkan "erosi daya tahan" kelompok yang selama ini menopang konsumsi nasional (Manilet, dalam Kontan.co.id, 2026). Jumlah kelas menengah tercatat turun dari 47,9 juta (2024) menjadi 46,7 juta orang (2025), sementara kelompok "rentan jatuh miskin" kini mencakup lebih dari separuh penduduk Indonesia.
Di sinilah letak paradoksnya: kenaikan BI Rate memang perlu untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, tapi di saat bersamaan kredit jadi lebih mahal justru ketika daya beli masyarakat, terutama kelas menengah muda, sedang tertekan oleh gelombang PHK. Ibaratnya, seseorang yang penghasilannya sedang seret malah diminta membayar cicilan yang lebih besar. Kebijakan moneter memang dirancang untuk menjaga ekonomi secara makro, tapi dampaknya di level rumah tangga bisa terasa kontradiktif.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Anak Muda?
Belajar dari situasi ini, ada beberapa hal yang realistis dilakukan: pertama, cek ulang skema bunga cicilan yang sedang berjalan, apakah floating atau fixed, supaya tahu kapan efek kenaikan ini akan terasa. Kedua, kalau berencana ambil kredit besar seperti KPR, pertimbangkan opsi subsidi jika memenuhi syarat, karena skema ini kebal terhadap gejolak BI Rate. Ketiga, dan mungkin paling penting, jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa kebijakan makro yang terasa jauh dan abstrak, seperti angka BI Rate di berita, sebenarnya punya jalur transmisi yang sangat konkret ke dompet kita sehari-hari, hanya butuh waktu beberapa bulan untuk terasa.
Pada akhirnya, memahami BI Rate bukan cuma soal melek ekonomi, tapi juga soal kesiapan finansial menghadapi kebijakan yang di luar kendali kita. Anak muda yang paham kapan dan kenapa cicilannya bisa naik, akan jauh lebih siap dibanding yang cuma kaget saat tagihan datang.
