Konten dari Pengguna

Kita Baik-Baik Saja atau Kita Hanya Pandai Berpura-pura?

Aulia eka wulandari

Aulia eka wulandari

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia eka wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Kesehatan mental generasi muda bukan soal lemah atau kuatnya mental. Ini soal sistem yang memaksa kita berlari tanpa pernah memberi garis finish.

Pertengahan 2023, sebuah tren di TikTok bernama "rotting in bed" meledak. Jutaan pengguna memposting video dirinya berbaring di kasur seharian — tidak produktif, tidak bergerak, tidak peduli. Bukan pamer kemalasan, melainkan semacam pengakuan kolektif: kelelahan dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Di Indonesia sendiri, tren serupa muncul lewat istilah "rebahan" yang sudah lama jadi candaan, tapi kini terasa lebih berat dari sekadar humor.

Data mempertegas apa yang sudah kita rasakan. Menurut laporan World Health Organization (WHO, 2022), satu dari tujuh remaja usia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan mental, dan mayoritas kasusnya tidak pernah tertangani. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat prevalensi gangguan mental emosional pada remaja mencapai 9,8 persen — dan angka itu diperkirakan jauh lebih tinggi pascapandemi. Yang menarik bukan hanya soal angkanya, tapi soal mengapa kita masih sering salah mendiagnosis akar masalahnya.

Ketika Produktivitas Jadi Agama, Burnout Jadi Dosa yang Disembunyikan

Ada narasi yang sudah terlalu lama kita telan mentah-mentah: bahwa generasi muda yang kesehatan mentalnya terganggu hanya perlu "lebih bersyukur," "kurangi main HP," atau "coba olahraga." Nasihat ini tidak salah secara teknis, tapi ia melewatkan sesuatu yang jauh lebih struktural.

Bayangkan tubuh manusia seperti baterai ponsel. Kalau kamu terus memakai ponsel tanpa mengisi daya — bahkan sambil berpura-pura baterainya penuh di depan orang lain — lambat laun ponsel itu akan mati tiba-tiba di momen yang paling tidak kamu harapkan. Itulah yang terjadi pada banyak mahasiswa dan pekerja muda hari ini. Mereka tidak tiba-tiba burnout. Mereka sudah lama mengabaikan sinyal lemah baterai karena sistem di sekitar mereka tidak pernah menyediakan colokan.

Penelitian Maslach & Leiter (2016) dalam Burnout: The Cost of Caring menunjukkan bahwa burnout bukan semata-mata akibat kerja keras, melainkan hasil dari ketidakseimbangan antara tuntutan dan sumber daya — termasuk otonomi, penghargaan, dan rasa komunitas. Ketika sistem pendidikan atau kerja memberi tugas tanpa batas tapi tidak memberi ruang untuk gagal, yang terjadi bukan pembentukan karakter. Yang terjadi adalah penumpukan luka diam-diam.

Di kampus, fenomena ini wujudnya konkret: mahasiswa yang tidur empat jam demi menyelesaikan tugas kelompok, lalu datang ke kelas dengan wajah segar seolah tidak terjadi apa-apa. Di media sosial, mereka memposting foto wisuda dengan senyum, tanpa ada yang tahu berapa kali mereka hampir berhenti di tengah jalan. Kita sudah membangun budaya di mana mengakui kelelahan terasa lebih memalukan daripada berprestasi di atas rasa sakit.

Algoritma Tidak Peduli Kamu Lelah

Kalau tekanan akademik adalah api, maka media sosial adalah oksigen yang membuatnya makin membesar — dan kita semua tahu ini, tapi tetap saja kita tidak bisa berhenti membuka Instagram pukul satu pagi.

Penelitian Twenge et al. (2018) yang dipublikasikan di Journal of Abnormal Psychology menemukan korelasi signifikan antara meningkatnya penggunaan media sosial sejak 2012 dengan lonjakan tingkat depresi dan kecemasan pada remaja, terutama perempuan. Tapi persoalannya bukan sekadar "terlalu lama scrolling." Persoalannya ada pada desain platform itu sendiri.

Algoritma media sosial tidak dirancang untuk kesejahteraan penggunanya. Ia dirancang untuk memaksimalkan engagement— dan emosi negatif seperti iri, cemas, dan marah terbukti menghasilkan engagement yang lebih tinggi daripada konten positif. Ketika kamu melihat teman seangkatan sudah magang di perusahaan multinasional, dapat beasiswa luar negeri, atau kelihatan bahagia setiap hari, otakmu tidak secara otomatis berkata "wah keren dia." Otakmu berkata, "lalu aku ada di mana?"

Ini bukan tentang rendah diri atau tidak cukup tangguh. Ini tentang paparan terus-menerus terhadap highlight reel kehidupan orang lain — sebuah representasi yang sudah dikurasi, difilter, dan diedit sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan kenyataan. Ironisnya, semakin sering kita sendiri memposting konten "bahagia," semakin kita terjebak dalam perbandingan yang tidak adil — dengan orang lain, dan dengan versi ideal diri sendiri yang kita ciptakan secara online.

Yang lebih mengkhawatirkan: FOMO (fear of missing out) yang diperkuat algoritma kini telah berevolusi, beberapa peneliti menyebut sebagai FOPOfear of people's opinions. Bukan sekadar takut ketinggalan momen, tapi takut dinilai tidak cukup sukses, tidak cukup produktif, tidak cukup menarik. Dan ketakutan itu, kalau didiamkan cukup lama, bisa mengeras menjadi kecemasan kronis yang jauh lebih sulit ditangani.

Bukan Soal Lemah, Tapi Soal Berani Jujur

Lalu apa yang bisa dilakukan? Di sinilah penulis ingin sedikit melawan arus narasi populer yang selalu berakhir dengan daftar tips self-care.

Yang paling dibutuhkan generasi muda sekarang bukan sekadar "journaling sebelum tidur" atau "digital detox setiap Minggu" — meski keduanya tidak salah. Yang paling dibutuhkan adalah perubahan cara kita menceritakan pengalaman kesehatan mental, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang di sekitar kita.

Selama ini kita membangun identitas di atas prestasi. Nilai bagus, IPK tinggi, CV penuh pengalaman organisasi. Tidak ada ruang untuk cerita tentang malam-malam yang berat, tentang semester yang hampir gagal, tentang motivasi yang hilang entah ke mana. Akibatnya, banyak yang menjalani perjuangan dalam keheningan — merasa bahwa mengakui kesulitan sama dengan mengakui kekalahan.

Padahal, ada perbedaan mendasar antara ketahanan (resilience) dan penyangkalan (denial). Ketahanan adalah kemampuan untuk melewati badai sambil mengakui bahwa badai itu nyata dan menyakitkan. Penyangkalan adalah berpura-pura tidak ada badai, sambil terus basah kuyup di dalamnya.

Generasi yang benar-benar sehat mentalnya bukan generasi yang tidak pernah jatuh. Tapi generasi yang cukup jujur untuk bilang, "aku sedang tidak baik-baik saja" — dan cukup berani untuk tidak berhenti di sana.

Referensi

Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). *Burnout: The cost of caring*. Malor Books.

Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U.S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. *Journal of Abnormal Psychology, 127*(1), 6–17. https://doi.org/10.1037/abn0000410

World Health Organization. (2022). *Mental health of adolescents*. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). *Laporan Nasional Riskesdas 2018*. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.