Konten dari Pengguna

Mengejutkan, Fast Fashion menjadi Pengaruh Perilaku Fomo pada Generasi Millenial

Aullya Bintang

Aullya Bintang

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aullya Bintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

H&M saat mengadakan sale, Jum'at (30/12). Sumber: Foto Pribadi/Aullya Bintang.
zoom-in-whitePerbesar
H&M saat mengadakan sale, Jum'at (30/12). Sumber: Foto Pribadi/Aullya Bintang.

Tren fashion di dunia berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah adanya teknologi seperti mesin jahit. Penggunaan mesin jahit dapat membantu untuk memproduksi pakaian lebih banyak dalam waktu yang singkat. Memproduksi pakaian dalam jumlah yang banyak, waktu yang cepat, dan dapat mengikuti tren menjadikan kita semakin sering untuk mengonsumsi produk tersebut. Hal itu sering kali kita sebut dengan istilah Fast Fashion.

Fast Fashion biasanya dijadikan sebagai konsep bisnis oleh brand ternama. Bahan baku dari Fast Fashion tergolong menggunakan bahan yang berkualitas rendah, itu yang menyebabkan mengapa dapat dijual dengan harga yang murah. Pada zaman milenial saat ini siapa yang tidak tergiur dengan pakaian murah tetapi tetap dapat berpenampilan keren.

Fast Fashion juga sering kali dikaitkan dengan FOMO. FOMO merupakan singkatan dari Fear Of Missing Out, kondisi ini menjadikan kita merasa takut tertinggal akan suatu aktivitas tertentu yang sedang tren di masyarakat. Kecenderungan untuk selalu berfokus membentuk citra pribadi dapat merangsang kita untuk membeli pakaian yang sedang tren tersebut (Enrico dkk, 2021)

Fast Fashion FOMO ini juga berhubungan dengan Pop Culture. Pop Culture atau bisa juga disebut sebagai Budaya Populer dapat didefinisikan sebagai hasil kebudayaan yang diciptakan oleh masyarakat yang sedang tren akhir-akhir ini dan ditampilkan secara menonjol serta didukung oleh kemajuan teknologi supaya semua orang dapat mengaksesnya dengan mudah. Dengan adanya budaya ini dapat menjadi pengaruh yang besar terhadap dunia fashion serta dapat menghasilkan berbagai jenis model pakaian. Munculnya berbagai model pakaian yang beragam memudahkan kita untuk menyesuaikan model berpakaian sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Sebagai contoh adalah sebuah brand ternama yaitu H&M. Beberapa artikel telah menyebutkan bahwa H&M merupakan sebuah brand yang berkaitan dengan Fast Fashion yang banyak digemari oleh masyarakat terutama pada generasi milenial. Brand ini dinilai sangat cocok dengan karakteristik generasi milenial jika ditinjau dari desain produknya. Fashion yang diproduksi oleh H&M memiliki desain yang simpel tetapi keren. Selain itu, H&M juga menjual produk dengan low pricing high fashion. Hal itu menjadikan masyarakat terutama generasi milenial akhirnya antusias untuk membeli produk dari brand H&M tersebut. Beberapa dari mereka juga membeli produk tersebut karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, seperti pada lingkup pertemanan yang mayoritas menggunakan produk dari H&M. Semakin sering kita membeli produk tersebut maka intensitas dalam mengunjungi Toko H&M juga akan semakin sering sehingga kita akan terus mendapatkan informasi mengenai produk yang sedang tren yang juga diproduksi oleh H&M. H&M menggunakan konsep Brand Consciousness di mana konsumen menyadari bahwa brand H&M menunjukkan jika barang yang terlihat mewah belum tentu mahal harganya. Strategi marketing yang digunakan juga cukup menarik yaitu dengan mengadakan diskon untuk produk-produk tertentu.

Seperti yang sedang tren di platform media TikTok saat ini, brand H&M baru saja mengadakan diskon besar-besaran untuk beberapa produk yang dijual. H&M menjadikan Hari Natal sebagai peluang untuk menjual produknya secara diskon supaya masyarakat terutama generasi milenial menjadi tertarik untuk membeli produk tersebut. Beberapa produk tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp. 25.000 saja. Hal inilah yang menjadikan konsumen brand H&M meningkat drastis. Demi memenuhi permintaan pasar, H&M juga terus meningkatkan produksi di setiap bulannya. Tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi saja tetapi H&M juga harus memproduksi model fashion terbaru guna mengikuti tren di masyarakat agar tetap mendapatkan citra tersendiri di hati konsumen.

Maka kemungkinan besar kita akan tergiur untuk membeli produk H&M karena adanya diskon dan model fashion terbaru yang sedang menjadi tren. Kondisi ini yang sering kali sulit untuk kita kendalikan karena kita akan merasa puas jika kita sudah memiliki sesuatu yang sedang tren di masyarakat apalagi dengan harga yang terjangkau. Budaya seperti ini yang perlahan harus kita tinggalkan.

Pop Culture tentunya merupakan suatu kebudayaan yang baru, tetapi jika intensitas masyarakat dalam mengadopsi budaya baru tersebut berlebihan maka juga akan berdampak negatif. Semakin mudah kita mendapatkan pakaian sesuai dengan apa yang kita inginkan maka akan berpotensi terjadinya kecanduan. Hal itu menyebabkan kita akan terus-menerus mengikuti perkembangan dunia fashion dan selalu berasumsi bahwa bagaimana caranya untuk mendapatkan pakaian dengan model terbaru tetapi harga tetap terjangkau.

Pola konsumsi yang berhubungan dengan FOMO ini jika dibiarkan akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis kita. Kondisi ini dapat mempengaruhi ketidakpuasan terhadap sesuatu dan seakan tidak pernah merasa cukup. Tanpa disadari bahwa FOMO ini juga akan menjadikan pengeluaran kita semakin banyak hanya karena kita terus-menerus membeli fashion dengan mengikuti trend yang ada.

Oleh karena itu, kita seharusnya dapat selektif dan bijaksana sebelum membeli produk apa yang sedang menjadi tren. Sebaiknya kita juga membeli barang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Selain dapat menghemat pengeluaran, kita juga dapat membantu mengurangi sampah agar tidak mencemari lingkungan.