Konten dari Pengguna

Perusahaan Kekurangan Karyawan meski Sudah Merekrut: Pentingnya Perencanaan SDM

Aulya Zahrah Khairunnisa

Aulya Zahrah Khairunnisa

A Management Student at Universitas Pamulang

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulya Zahrah Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/s/photos/workforce-planning
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/s/photos/workforce-planning

Sebuah perusahaan dapat memiliki banyak karyawan, tetapi tetap mengalami keterlambatan pekerjaan, penurunan produktivitas, bahkan keluhan pelanggan. Di sisi lain, ada perusahaan yang kesulitan memenuhi target karena jumlah tenaga kerjanya tidak sebanding dengan beban pekerjaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah sumber daya manusia tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah karyawan.

Dalam menjalankan bisnis, perusahaan perlu memastikan bahwa tenaga kerja yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, baik dari segi jumlah maupun kemampuan. Karyawan yang terlalu sedikit dapat membuat pekerjaan menumpuk, sedangkan jumlah karyawan yang berlebihan tanpa pembagian tugas yang tepat dapat meningkatkan biaya operasional.

Permasalahan ini berkaitan dengan perencanaan sumber daya manusia (SDM). Perencanaan SDM menjadi bagian penting dalam manajemen karena membantu perusahaan memperkirakan kebutuhan tenaga kerja, memahami kondisi karyawan yang tersedia, dan menentukan langkah untuk mendukung tujuan organisasi. Tanpa perencanaan yang baik, perusahaan berisiko mengambil keputusan berdasarkan masalah yang sedang terjadi saja, bukan berdasarkan kebutuhan jangka panjang.

Memahami Perencanaan Sumber Daya Manusia

Perencanaan sumber daya manusia merupakan proses sistematis untuk memperkirakan kebutuhan tenaga kerja pada masa sekarang dan masa mendatang, kemudian menyesuaikannya dengan ketersediaan karyawan di dalam organisasi maupun dari luar perusahaan.

Perencanaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga kerja. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan keterampilan, pengalaman, kompetensi, pembagian pekerjaan, dan kemampuan karyawan dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dengan demikian, perusahaan dapat menempatkan tenaga kerja secara lebih tepat sesuai kebutuhan organisasi.

Menurut Sunarta dalam artikel ilmiahnya, Perencanaan Sumber Daya Manusia (Kunci Keberhasilan Organisasi), perencanaan SDM berkaitan dengan proyeksi jumlah karyawan yang dibutuhkan, identifikasi tenaga kerja yang tersedia, analisis keseimbangan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja, serta penyusunan program tindakan. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan SDM membutuhkan analisis dan keputusan yang saling berkaitan, bukan sekadar proses perekrutan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan makanan mengalami peningkatan pesanan menjelang hari raya. Apabila perusahaan hanya berfokus pada peningkatan penjualan, tanpa memperhitungkan kemampuan bagian produksi, pengemasan, dan pengiriman, pesanan berisiko terlambat diselesaikan. Karyawan yang ada mungkin harus bekerja lebih lama, sedangkan pelanggan harus menunggu lebih lama untuk menerima pesanan.

Melalui perencanaan SDM, perusahaan dapat memperkirakan peningkatan beban kerja, mengevaluasi jumlah karyawan yang tersedia, dan menentukan apakah perlu menambah tenaga kerja sementara, mengatur ulang jadwal, atau meningkatkan kemampuan karyawan. Keputusan tersebut dapat membantu perusahaan menghadapi peningkatan permintaan dengan lebih terarah.

Mengapa Perencanaan SDM Penting bagi Perusahaan?

Salah satu fungsi utama perencanaan SDM adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan pekerjaan dan ketersediaan tenaga kerja. Keseimbangan ini penting karena perusahaan harus mampu menjalankan kegiatan operasional secara efektif tanpa mengeluarkan biaya yang tidak diperlukan.

Ketika jumlah karyawan tidak mencukupi, pekerjaan dapat menumpuk dan target sulit tercapai. Karyawan yang terus-menerus menerima beban kerja berlebihan juga berisiko mengalami kelelahan. Jika keadaan tersebut berlangsung lama, produktivitas dan kualitas pelayanan dapat menurun.

Sebaliknya, penambahan karyawan tanpa analisis kebutuhan dapat menimbulkan pemborosan. Perusahaan harus menyediakan gaji, fasilitas kerja, pelatihan, dan biaya pendukung lainnya. Jika tenaga kerja yang direkrut tidak benar-benar dibutuhkan, pengeluaran perusahaan dapat meningkat tanpa memberikan hasil yang sebanding.

Selain menjaga efisiensi, perencanaan SDM membantu perusahaan mempersiapkan perubahan. Perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, pembukaan cabang baru, dan perubahan strategi bisnis dapat memengaruhi jenis pekerjaan serta kompetensi yang dibutuhkan.

Perusahaan yang mampu mengantisipasi perubahan tersebut dapat mempersiapkan karyawan lebih awal, baik melalui perekrutan maupun pengembangan keterampilan. Dengan demikian, kebutuhan SDM tidak hanya dipenuhi untuk menyelesaikan masalah saat ini, tetapi juga untuk mendukung keberlangsungan bisnis pada masa mendatang.

Tahapan Perencanaan SDM yang Perlu Dilakukan

Agar perencanaan SDM tidak berhenti sebagai dokumen administratif, perusahaan perlu menjalankan beberapa tahapan yang saling berkaitan.

Pertama, perusahaan perlu memahami tujuan dan kondisi organisasi. Rencana untuk meningkatkan penjualan, membuka cabang, memperluas pasar, atau menerapkan teknologi baru akan memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Oleh karena itu, perencanaan SDM harus mempertimbangkan arah bisnis yang ingin dicapai.

Kedua, perusahaan perlu mengidentifikasi tenaga kerja yang tersedia. Pada tahap ini, perusahaan meninjau jumlah karyawan, jabatan, kompetensi, pengalaman, kinerja, dan pembagian tugas. Informasi tersebut membantu manajemen mengetahui kemampuan tenaga kerja yang dimiliki serta bagian yang masih membutuhkan perbaikan.

Ketiga, perusahaan memperkirakan kebutuhan SDM pada masa mendatang. Perkiraan ini dapat didasarkan pada target produksi, volume penjualan, beban kerja, rencana ekspansi, dan kemungkinan perubahan jumlah karyawan. Hasilnya membantu perusahaan menentukan kebutuhan tenaga kerja dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Keempat, perusahaan membandingkan kebutuhan dengan ketersediaan tenaga kerja. Jika jumlah atau kompetensi karyawan belum mencukupi, perusahaan perlu menentukan tindakan yang sesuai. Pilihannya dapat berupa perekrutan, pelatihan, penyesuaian pembagian tugas, promosi, atau pemindahan karyawan sesuai kebutuhan organisasi.

Kelima, perusahaan melaksanakan dan mengevaluasi rencana tersebut. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan benar-benar membantu mencapai target. Jika terjadi perubahan permintaan atau strategi bisnis, perencanaan juga perlu disesuaikan.

Tahapan tersebut bukan proses yang selesai dalam satu kali pelaksanaan. Perencanaan SDM perlu ditinjau secara berkala agar keputusan yang diambil tetap sesuai dengan kondisi organisasi.

Tidak Semua Masalah Tenaga Kerja Harus Diselesaikan dengan Perekrutan

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi dalam pengelolaan SDM adalah menganggap bahwa setiap kekurangan tenaga kerja harus diselesaikan dengan merekrut karyawan baru. Padahal, perusahaan perlu memahami penyebab masalah sebelum menentukan solusi.

Bayangkan sebuah toko yang memiliki sepuluh karyawan, tetapi pelanggan masih harus menunggu lama ketika melakukan pembayaran. Jika perusahaan langsung menambah karyawan, biaya operasional akan meningkat. Namun, setelah diperiksa, ternyata sebagian besar karyawan ditempatkan pada jam yang sepi, sedangkan jumlah petugas kasir tidak mencukupi pada jam ramai.

Dalam situasi tersebut, perbaikan jadwal kerja dan pembagian tugas mungkin lebih tepat daripada langsung merekrut karyawan baru. Akan tetapi, jika evaluasi menunjukkan bahwa beban kerja tetap melebihi kapasitas tenaga kerja yang tersedia, penambahan karyawan dapat menjadi pilihan yang diperlukan.

Contoh ini memperlihatkan pentingnya pengambilan keputusan berdasarkan data dan kondisi nyata. Perusahaan perlu membedakan masalah jumlah tenaga kerja, kompetensi, pembagian pekerjaan, dan pengaturan waktu kerja karena setiap masalah dapat membutuhkan solusi yang berbeda.

Dengan melakukan analisis terlebih dahulu, perusahaan dapat menghindari keputusan yang hanya memberikan dampak sementara atau justru menambah persoalan baru.

Perencanaan SDM Harus Sejalan dengan Tujuan Bisnis

Perencanaan SDM akan lebih efektif apabila disusun sejalan dengan rencana bisnis perusahaan. Kebutuhan tenaga kerja tidak dapat ditentukan secara terpisah dari target dan kemampuan organisasi.

Misalnya, perusahaan yang ingin memperluas pemasaran melalui platform digital mungkin membutuhkan karyawan yang memahami pemasaran digital, analisis data, dan pengelolaan media sosial. Namun, perusahaan tidak selalu harus langsung merekrut tenaga kerja baru. Manajemen perlu mengevaluasi apakah karyawan yang ada dapat dikembangkan melalui pelatihan atau apakah kebutuhan kompetensi tersebut memang memerlukan tenaga profesional tambahan.

Keputusan tersebut perlu mempertimbangkan anggaran, urgensi pekerjaan, kemampuan karyawan saat ini, dan target yang ingin dicapai. Jika perencanaan dilakukan dengan baik, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih tepat sekaligus mempersiapkan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan.

Oleh sebab itu, perencanaan SDM bukan hanya tanggung jawab bagian sumber daya manusia. Manajer setiap bagian juga perlu terlibat karena mereka memahami beban kerja, kebutuhan kompetensi, dan tantangan operasional yang dihadapi timnya.

Perencanaan SDM sebagai Dasar Keputusan yang Lebih Tepat

Pada akhirnya, perusahaan tidak cukup hanya memastikan bahwa jumlah karyawannya terlihat memadai. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa tenaga kerja yang tersedia mampu menjalankan pekerjaan sesuai kebutuhan organisasi.

Perencanaan SDM membantu perusahaan mengenali kondisi tenaga kerja, memperkirakan kebutuhan masa depan, dan menentukan tindakan yang tepat. Proses tersebut juga membantu mengurangi risiko kekurangan maupun kelebihan karyawan serta mendorong penggunaan anggaran secara lebih efektif.

Perusahaan yang melakukan perencanaan SDM secara terarah akan memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan perekrutan, pengembangan karyawan, dan pembagian pekerjaan. Sebaliknya, keputusan yang dibuat tanpa mempertimbangkan kebutuhan secara menyeluruh berisiko menimbulkan biaya tambahan dan menghambat pencapaian target.

Dengan demikian, perencanaan SDM seharusnya dipandang sebagai bagian penting dari strategi perusahaan, bukan sekadar kegiatan administratif. Keberhasilan bisnis tidak hanya bergantung pada kemampuan perusahaan menjual produk atau menyediakan layanan, tetapi juga pada kemampuannya menyiapkan tenaga kerja yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut.