Salah Merekrut Karyawan Bisa Merugikan Perusahaan, Pentingnya Perencanaan SDM

A Management Student at Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aulya Zahrah Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah melihat sebuah perusahaan membuka lowongan pekerjaan berkali-kali, tetapi masalah operasionalnya tetap tidak terselesaikan? Kondisi ini bisa terjadi ketika proses rekrutmen dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Perusahaan mungkin berhasil mendapatkan karyawan baru, tetapi belum tentu orang yang direkrut sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Rekrutmen bukan sekadar memasang iklan lowongan dan menunggu pelamar datang. Perusahaan perlu memahami posisi yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja yang diperlukan, kemampuan yang harus dimiliki calon karyawan, serta anggaran yang tersedia. Di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) berperan penting dalam membantu perusahaan mengambil keputusan rekrutmen secara lebih terarah.
Mengapa Perencanaan SDM Penting dalam Rekrutmen?
Perencanaan SDM merupakan proses memperkirakan kebutuhan tenaga kerja dengan mempertimbangkan kondisi karyawan saat ini dan tujuan perusahaan pada masa mendatang. Hasil perencanaan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah perusahaan perlu merekrut karyawan baru atau menyelesaikan masalah melalui cara lain.
Misalnya, ketika beban kerja meningkat, perusahaan tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa jumlah karyawannya kurang. Manajemen perlu memeriksa apakah peningkatan beban kerja terjadi karena bertambahnya permintaan pelanggan, pembagian tugas yang tidak efektif, atau kurangnya keterampilan karyawan.
Jika masalahnya terletak pada pembagian tugas, perbaikan alur kerja mungkin lebih tepat daripada menambah karyawan. Namun, apabila kebutuhan pekerjaan memang melebihi kapasitas tenaga kerja yang tersedia, rekrutmen dapat menjadi solusi yang diperlukan.
Dengan demikian, perencanaan SDM membantu perusahaan menghindari perekrutan yang tidak sesuai kebutuhan sekaligus mengurangi risiko kekurangan tenaga kerja.
Menentukan Kebutuhan Sebelum Membuka Lowongan
Sebelum melakukan rekrutmen, perusahaan perlu menganalisis kebutuhan tenaga kerja secara menyeluruh. Langkah pertama adalah mengidentifikasi posisi yang dibutuhkan beserta tanggung jawab pekerjaannya.
Perusahaan kemudian perlu menentukan jumlah karyawan yang diperlukan. Penentuan ini dapat mempertimbangkan volume pekerjaan, jam operasional, target perusahaan, serta jumlah tenaga kerja yang sudah tersedia.
Selanjutnya, perusahaan menetapkan kualifikasi calon karyawan. Kualifikasi tersebut dapat meliputi pendidikan, pengalaman, keterampilan teknis, kemampuan berkomunikasi, dan kompetensi lain yang benar-benar relevan dengan pekerjaan.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan anggaran rekrutmen dan biaya tenaga kerja. Gaji, proses seleksi, pelatihan awal, serta fasilitas kerja merupakan bagian dari biaya yang perlu diperhitungkan sebelum keputusan perekrutan dibuat.
Melalui langkah-langkah tersebut, perusahaan dapat menyusun kebutuhan yang lebih jelas sehingga proses rekrutmen tidak hanya berorientasi pada kecepatan mengisi posisi kosong, tetapi juga pada kesesuaian calon karyawan dengan kebutuhan organisasi.
Bagaimana Perusahaan Mengambil Keputusan Rekrutmen?
Keputusan rekrutmen sebaiknya dibuat berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan, bukan semata-mata karena desakan sesaat. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen.
Pertama, perusahaan harus membandingkan kebutuhan tenaga kerja dengan ketersediaan karyawan saat ini. Jika jumlah dan kemampuan karyawan yang tersedia masih memadai, perusahaan mungkin tidak perlu melakukan perekrutan baru.
Kedua, manajemen perlu mempertimbangkan alternatif yang tersedia. Selain merekrut karyawan baru, perusahaan dapat memberikan pelatihan, memindahkan karyawan ke posisi yang lebih sesuai, atau memperbaiki pembagian kerja. Setiap alternatif memiliki manfaat, biaya, dan risiko yang berbeda.
Ketiga, perusahaan harus menentukan prioritas posisi. Apabila anggaran terbatas, posisi yang paling berpengaruh terhadap operasional dan pencapaian target bisnis perlu dipertimbangkan terlebih dahulu.
Keempat, keputusan perlu dievaluasi berdasarkan hasilnya. Perusahaan dapat menilai apakah proses rekrutmen berhasil memenuhi kebutuhan, apakah karyawan baru mampu menjalankan pekerjaannya, dan apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan kebutuhan organisasi.
Keputusan yang baik bukan selalu keputusan untuk merekrut lebih banyak orang, melainkan keputusan yang paling sesuai dengan masalah dan tujuan perusahaan.
Contoh Penerapan pada Bisnis Toko Roti
Bayangkan sebuah toko roti mengalami peningkatan pesanan setiap akhir pekan. Karyawan bagian produksi mulai kewalahan, pesanan terlambat diselesaikan, dan pelanggan harus menunggu lebih lama. Pemilik usaha kemudian berencana merekrut dua karyawan baru.
Sebelum membuka lowongan, pemilik mengevaluasi jumlah pesanan, pembagian jadwal, kapasitas produksi, dan kemampuan karyawan yang tersedia. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa masalah utama memang berasal dari meningkatnya volume produksi, sementara jadwal kerja sudah cukup efisien.
Berdasarkan temuan tersebut, pemilik memutuskan untuk merekrut satu karyawan produksi terlebih dahulu dan mengevaluasi hasilnya setelah beberapa waktu. Pemilik juga menetapkan kriteria calon karyawan, seperti kemampuan mengikuti prosedur produksi, ketelitian, kebersihan kerja, dan kesediaan bekerja sesuai jadwal yang dibutuhkan.
Keputusan ini lebih terarah karena didasarkan pada analisis kebutuhan, bukan sekadar perkiraan. Jika penambahan satu karyawan belum cukup, pemilik dapat mempertimbangkan perekrutan berikutnya berdasarkan hasil evaluasi.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa perencanaan SDM membantu usaha menentukan jumlah karyawan, kualifikasi, dan waktu rekrutmen sesuai kebutuhan nyata.
Risiko Rekrutmen Tanpa Perencanaan
Rekrutmen yang tidak direncanakan dapat menimbulkan masalah bagi perusahaan. Jika jumlah karyawan yang direkrut terlalu banyak, biaya tenaga kerja bisa meningkat tanpa diikuti peningkatan produktivitas yang sebanding.
Sebaliknya, jika perusahaan merekrut terlalu sedikit orang, beban kerja karyawan dapat meningkat dan kualitas pelayanan berisiko menurun. Kesalahan dalam menentukan kualifikasi juga dapat membuat karyawan baru kesulitan menjalankan tugasnya, sehingga perusahaan perlu mengeluarkan waktu dan biaya tambahan untuk pelatihan atau mengulang proses rekrutmen.
Selain itu, proses perekrutan yang terburu-buru dapat membuat perusahaan kurang cermat dalam menilai kemampuan dan kesesuaian calon karyawan. Oleh karena itu, kebutuhan jabatan dan kriteria seleksi perlu ditentukan dengan jelas sebelum proses rekrutmen dimulai.
Perusahaan juga sebaiknya mengevaluasi hasil rekrutmen untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil sudah tepat. Evaluasi ini dapat menjadi bahan perbaikan bagi proses perencanaan tenaga kerja berikutnya.
Rekrutmen yang Tepat Berawal dari Perencanaan yang Matang
Perencanaan SDM dan rekrutmen merupakan dua hal yang saling berkaitan. Perencanaan membantu perusahaan memahami kebutuhan tenaga kerja, sedangkan rekrutmen menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Sebelum membuka lowongan, perusahaan perlu menganalisis kondisi tenaga kerja, menetapkan kualifikasi, mempertimbangkan anggaran, dan membandingkan berbagai alternatif penyelesaian masalah. Dengan begitu, keputusan rekrutmen dapat dibuat secara lebih objektif dan sesuai dengan tujuan bisnis.
Pada akhirnya, keberhasilan rekrutmen bukan hanya diukur dari seberapa cepat perusahaan mendapatkan karyawan baru, tetapi juga dari seberapa tepat karyawan tersebut memenuhi kebutuhan pekerjaan. Perencanaan SDM yang baik membantu perusahaan menempatkan tenaga kerja secara lebih efektif sekaligus mengurangi risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan.
